“Perbedaan zaman bukan penghalang
untuk menjalankan itibak, sebab ajaran Nabi Muhammad saw. bersumber dari Allah
Sang Al-Mudabbir yang berlaku universal sepanjang masa,” tutur UIY di
kanal YouTube 1 Ummah berjudul Meneladan Rasulullah, Mengemban
Risalah Islam, Selasa (25/08/2026).
"Nabi hidup 1.400 tahun yang
lalu, tetapi yang kita ikuti adalah Nabi sebagai pembawa risalah. Risalah itu
dituntun oleh Allah Swt. yang Maha Mengetahui dan Maha Mengatur (Al-Mudabbir),
Allah Swt. bukan hanya sekadar pencipta, tapi juga Sang Pengatur. Dia
menurunkan risalah-Nya untuk mengatur kehidupan manusia," ucapnya.
Ia menambahkan bahwa Allah Swt.
sebagai Sang Pencipta tentu Maha Mengetahui jalan terbaik untuk mengatur
kehidupan hamba-Nya. “Allah telah merancang risalah Islam bukan hanya untuk
masyarakat di zaman Nabi, melainkan juga untuk menuntun seluruh perjalanan
hidup manusia hingga akhir zaman,” lugasnya.
"Terus apa sih yang
membedakan hidup kita sekarang dengan hidup orang-orang di masa lalu dan di
masa yang akan datang? Itu sesungguhnya yang membedakan hanya sarana-sarana
yang menyertai kehidupan, sementara kita sebagai manusia hidup kita tidak
berubah," ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan,
manusia dari dulu hingga saat ini sama, yakni membutuhkan makan dan minum,
sehingga mau hidup di zaman Nabi ataupun saat ini risalah tetaplah relevan.
"Sepanjang kita manusia maka
risalah itu tetap akan relevan. Di situlah substansi itibak kita kepada
Nabi," tegasnya.
Sehingga, pria kelahiran
Yogyakarta itu menekankan bahwa itibak merupakan tanda cinta kita kepada Nabi
Muhammad saw. sekaligus tanda cinta kita kepada Allah Swt.
"Di Surah Ali Imran ayat 31
dikatakan, 'Katakanlah, jika engkau benar-benar cinta kepada Allah maka
ikutilah aku.' Karena itu, Imam Ibnu Katsir mengatakan siapa saja yang
mengaku cinta kepada Allah tapi tidak itibak kepada Nabi atau dia itibak kepada
Nabi tapi tidak itibak kepada Allah, dia dusta," terangnya.
"Jadi mengikuti Nabi dalam
hal apa? Dalam dua unsur penting yang ada pada kita, yaitu pada pikiran kita di
dalamnya ada keyakinan dan dalam perilaku. Perilaku perbuatan maupun perkataan,
dua unsur ini paling menentukan," pungkasnya.[] Taufan