Ada satu perjuangan batin yang sering tidak disadari manusia: ingin berbuat baik, tetapi masih terlalu membutuhkan pengakuan manusia. Kita ingin dipuji, dihargai, dianggap berjasa, disukai, diterima, dan tidak ingin mengecewakan orang lain.
Padahal, keridhaan manusia selalu berubah, sedangkan keridhaan Allah adalah tujuan yang hakiki.
Seorang mukmin perlu belajar mengubah orientasi hidupnya: bukan “Apa kata manusia tentang saya?”, tetapi “Apa yang Allah kehendaki dari saya?”
Al-Qur'an berkali-kali mengajarkan bahwa amal yang bernilai di sisi Allah adalah amal yang dilakukan dengan ikhlas, benar, dan semata-mata mencari keridhaan-Nya.
1. QS. Al-Bayyinah Ayat 5: Ikhlas Hanya untuk Allah
Allah berfirman:
وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ
“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, melaksanakan salat dan menunaikan zakat. Dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Ayat ini meletakkan fondasi utama kehidupan seorang Muslim: ikhlas.
Tafsir Ibn Kathir menjelaskan bahwa manusia diperintahkan untuk memurnikan agama hanya bagi Allah, menjauhi syirik dan berpegang teguh kepada tauhid.
Dengan demikian, ibadah bukan dilakukan agar manusia melihat kita sebagai orang saleh.
Kita shalat karena Allah.
Kita bersedekah karena Allah.
Kita berdakwah karena Allah.
Kita menolong karena Allah.
Kita bekerja dengan amanah karena Allah.
Kita memaafkan karena Allah.
Jika manusia memuji, kita bersyukur.
Jika manusia tidak memuji, kita tetap berjalan.
Jika manusia berterima kasih, kita menerimanya dengan rendah hati.
Jika manusia melupakan jasa kita, kita tidak berhenti berbuat baik.
Itulah tanda bahwa orientasi hati mulai berpindah dari makhluk menuju Khaliq.
2. QS. Al-Insan Ayat 9: Berbuat Baik Tanpa Menunggu Balasan
Allah menggambarkan orang-orang yang memiliki keikhlasan:
“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu.”(QS. Al-Insan: 9)
Ayat ini sangat dalam.
Mereka memberi bukan karena ingin dipuji.
Mereka membantu bukan supaya namanya disebut.
Mereka berbuat baik bukan agar suatu hari dibalas.
Tafsir Ibn Kathir menjelaskan bahwa makna mencari wajah Allah adalah mengharapkan pahala dan keridhaan Allah, bukan balasan atau ucapan terima kasih manusia.
Tafsir al-Tabari juga menjelaskan bahwa li wajhillah berarti mencari keridhaan Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya.
Hikmahnya:
Jangan biarkan kebaikan kita bergantung pada respons manusia.
Sebab ketika kita berbuat baik karena manusia, kita akan kecewa ketika manusia tidak menghargai.
Tetapi ketika kita berbuat baik karena Allah, maka Allah menjadi tujuan sekaligus sumber kekuatan kita.
3. QS. At-Taubah Ayat 62: Jangan Mengorbankan Kebenaran Demi Menyenangkan Manusia
Allah berfirman:
يَحْلِفُوْنَ بِاللّٰهِ لَكُمْ لِيُرْضُوْكُمْ وَاللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗٓ اَحَقُّ اَنْ يُّرْضُوْهُ اِنْ كَانُوْا مُؤْمِنِيْنَ
“ Mereka (orang-orang munafik) bersumpah kepadamu (kaum muslim) dengan (nama) Allah untuk membuat kamu rida, padahal Allah dan Rasul-Nya lebih pantas mereka (raih) keridaan-Nya jika mereka adalah orang-orang beriman.” (QS. At-Taubah: 62)
Ayat ini memberikan prinsip yang sangat penting:
Ridha manusia tidak boleh mengalahkan ridha Allah.
Ada saatnya kita harus memilih antara:
disukai manusia atau menjaga kebenaran.
Ada saatnya berkata jujur membuat kita kehilangan teman.
Ada saatnya mempertahankan prinsip membuat kita tidak populer.
Ada saatnya menjalankan amanah membuat sebagian orang kecewa.
Namun seorang mukmin harus bertanya:
“Apakah keputusan ini membuat Allah ridha?”
Bukan semata:
“Apakah semua orang akan menyukai saya?”
Tafsir terhadap ayat ini menunjukkan kritik terhadap sikap mencari keridhaan manusia dengan mengorbankan orientasi kepada Allah dan Rasul-Nya.
4. Jangan Menjadikan Pujian sebagai Tujuan
Ada penyakit hati yang sangat halus:
kita melakukan sesuatu karena Allah, tetapi diam-diam berharap manusia mengetahuinya.
Kita bersedekah.
Kemudian berharap orang mengetahui.
Kita membantu.
Kemudian kecewa ketika tidak disebut.
Kita bekerja keras.
Kemudian marah ketika penghargaan diberikan kepada orang lain.
Kita berdakwah.
Kemudian sedih ketika tidak mendapatkan apresiasi.
Di sinilah hati harus diperiksa.
Apakah saya bekerja karena Allah atau karena pengakuan?
Pertanyaan ini penting karena amal lahiriah yang sama dapat memiliki nilai yang berbeda berdasarkan orientasi batinnya.
Allah tidak hanya melihat apa yang tampak dari perbuatan kita, tetapi keikhlasan yang melandasinya.
5. Ridha Allah Tidak Berarti Mengabaikan Perasaan Manusia
Memilih ridha Allah bukan berarti kita boleh bersikap kasar kepada manusia.
Justru orang yang mencari ridha Allah harus semakin lembut, adil, amanah, dan penuh kasih sayang.
Kita tetap menghormati orang tua.
Kita tetap menjaga perasaan pasangan.
Kita tetap menghargai guru.
Kita tetap menghormati tetangga.
Kita tetap menjaga hubungan sosial.
Namun ketika terjadi pertentangan antara kebenaran Allah dan keinginan manusia, maka yang harus didahulukan adalah Allah.
Prinsipnya:
“Lembut kepada manusia, tetapi teguh dalam kebenaran.”
Bukan keras atas nama agama.
Bukan pula mengorbankan agama demi diterima manusia.
6. Ujian Terbesar: Ketika Kebaikan Kita Tidak Dihargai
Salah satu ujian keikhlasan adalah ketika:
• kita membantu tetapi dilupakan;
• kita berkorban tetapi tidak dihargai;
• kita setia tetapi ditinggalkan;
• kita berkata benar tetapi disalahpahami;
• kita berbuat baik tetapi justru dicurigai;
• kita bekerja keras tetapi orang lain yang mendapat pujian.
Di sinilah muncul pertanyaan:
Apakah saya tetap melakukan kebaikan jika tidak ada seorang pun yang melihat?
Jika jawabannya ya, insyaAllah ada tanda keikhlasan.
Sebab kita mulai memahami:
Allah melihat apa yang manusia tidak lihat.
Manusia mungkin tidak mengetahui air mata kita.
Allah mengetahuinya.
Manusia mungkin melupakan pengorbanan kita.
Allah tidak melupakannya.
Manusia mungkin tidak menghargai perjuangan kita.
Allah mengetahui setiap langkahnya.
7. Ikhlas Membebaskan Hati
Orang yang hidup untuk mendapatkan penilaian manusia akan mudah lelah.
Hari ini dipuji, ia bahagia.
Besok dikritik, ia hancur.
Hari ini disukai, ia percaya diri.
Besok ditolak, ia kehilangan arah.
Tetapi orang yang menggantungkan hatinya kepada Allah memiliki ketenangan yang berbeda.
Dipujinya manusia tidak membuatnya sombong.
Dicelanya manusia tidak membuatnya runtuh.
Sebab ukuran dirinya bukan komentar manusia.
Ukurannya adalah:
Apakah Allah ridha kepadaku?
Inilah kebebasan spiritual.
8. Jangan Takut Kehilangan Manusia karena Memilih Allah
Kadang-kadang kita takut kehilangan seseorang karena mempertahankan prinsip.
Takut kehilangan jabatan.
Takut kehilangan relasi.
Takut kehilangan popularitas.
Takut kehilangan pelanggan.
Takut kehilangan pengikut.
Takut kehilangan penerimaan sosial.
Namun seorang mukmin harus memiliki keyakinan:
Jika kita kehilangan sesuatu karena taat kepada Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan ketaatan itu.
Karena yang paling penting bukan berapa banyak manusia yang mempertahankan kita.
Yang paling penting adalah Allah tidak meninggalkan kita.
9. Tiga Tingkatan Orientasi Hati
Kita dapat melakukan introspeksi melalui tiga tingkatan:
Tingkat Pertama — Berbuat karena manusia
“Saya melakukan ini supaya dipuji.”
Ini adalah orientasi yang sangat rapuh.
Tingkat Kedua — Berbuat karena Allah dan manusia
“Saya ingin Allah ridha, tetapi saya juga sangat membutuhkan pujian manusia.”
Ini lebih baik, tetapi hati masih perlu dibersihkan.
Tingkat Ketiga — Berbuat karena Allah
“Ya Allah, Engkau tahu niatku. Aku melakukan ini karena mengharap ridha-Mu.”
Jika manusia menghargai, ia bersyukur.
Jika manusia tidak menghargai, ia tetap istiqamah.
Inilah ruh ikhlas.
10. Ukuran Keberhasilan Seorang Mukmin
Dunia sering mengukur keberhasilan dengan:
jabatan, popularitas, kekayaan, jumlah pengikut, penghargaan, gelar, dan pengakuan.
Islam mengajarkan ukuran yang lebih dalam:
Apakah Allah ridha?
Karena seseorang bisa sangat terkenal di bumi tetapi tidak memiliki nilai di sisi Allah.
Sebaliknya, seseorang bisa tidak dikenal manusia tetapi sangat mulia di sisi Allah.
Maka jangan terlalu sibuk mengejar “terlihat hebat di mata manusia.”
Lebih penting mengejar:
“Berharga di sisi Allah.”
11. Dakwah Ideologis-Sufistik: Mengubah Orientasi Kehidupan
Dalam perspektif Dakwah Ideologis-Sufistik, mencari ridha Allah memiliki dua dimensi.
Pertama: Dimensi ideologis
Seorang Muslim menjadikan wahyu sebagai standar kehidupan.
Ia tidak menjadikan hawa nafsu, tekanan sosial, popularitas, atau kepentingan manusia sebagai standar tertinggi.
Allah menjadi ghayah—tujuan tertinggi.
Kedua: Dimensi sufistik
Perjuangan lahiriah harus disertai perjuangan batin.
Bukan hanya memperbaiki tindakan, tetapi juga membersihkan:
• riya;
• ujub;
• takabbur;
• cinta popularitas;
• haus pujian;
• dendam karena tidak dihargai;
• kecewa karena jasa tidak dikenang.
Maka perjuangan seorang mukmin sebenarnya memiliki dua medan:
memperbaiki dunia di luar dirinya dan membersihkan dunia di dalam hatinya.
12. Renungan untuk Kita
Cobalah bertanya kepada hati:
Jika tidak ada yang mengetahui kebaikanku, apakah aku masih mau melakukannya?
Jika tidak ada yang memujiku, apakah aku tetap istiqamah?
Jika jasaku dilupakan, apakah aku tetap ikhlas?
Jika kebenaran membuatku tidak populer, apakah aku tetap memegangnya?
Jika manusia tidak ridha kepadaku tetapi Allah ridha, apakah aku tetap merasa cukup?
Jika hati mampu menjawab:
“Ya, aku ingin Allah ridha.”
Maka kita sedang belajar menuju maqam ikhlas.
Penutup: Jangan Cari Tepuk Tangan Dunia
Hidup ini terlalu singkat jika seluruh tenaga kita habiskan untuk mengejar penilaian manusia.
Manusia akan berbicara.
Hari ini mereka memuji.
Besok mereka mencela.
Hari ini mereka mendukung.
Besok mereka meninggalkan.
Hari ini mereka mengingat jasa.
Besok mereka melupakannya.
Tetapi Allah tidak pernah lalai.
Karena itu, berbuatlah baik ketika manusia melihat maupun ketika mereka tidak melihat.
Jujurlah ketika kejujuran menguntungkan maupun merugikan.
Tetaplah amanah ketika tidak ada yang mengawasi.
Tetaplah berdakwah ketika tidak mendapatkan apresiasi.
Tetaplah menolong meskipun tidak mendapatkan ucapan terima kasih.
Sebab tujuan terakhir seorang hamba bukanlah:
“Semoga manusia menyukaiku.”
Tetapi:
“Semoga Allah ridha kepadaku.”
Dan ketika Allah telah ridha, maka sesungguhnya kita telah memperoleh keuntungan terbesar yang tidak dapat diberikan oleh seluruh manusia di dunia.
Kalimat Muhasabah
“Ya Allah, bersihkan hatiku dari keinginan dipuji manusia. Ajarkan aku beramal karena-Mu, mencintai karena-Mu, memberi karena-Mu, berjuang karena-Mu, dan berhenti hanya ketika Engkau menghendakinya. Jangan jadikan penilaian manusia sebagai kiblat hatiku. Jadikan ridha-Mu sebagai tujuan hidupku.”
Carilah ridha Allah.
Bukan tepuk tangan manusia.
Karena manusia hanya melihat apa yang tampak, sedangkan Allah mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati.
Dr Nasrul Syarif M.Si.
Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa.
.png)