Ada orang yang dekat dengan penguasa karena ingin menyampaikan kebenaran.
Tetapi ada pula yang dekat dengan penguasa karena ingin mendapatkan kedudukan, fasilitas, dan keuntungan.
Yang pertama adalah ulama yang menjaga kekuasaan dengan nasihat.
Yang kedua adalah ulama yang menjual nasihat demi kekuasaan.
Inilah salah satu penyakit paling berbahaya dalam kehidupan umat: ketika ilmu agama kehilangan keberanian moral karena terlalu dekat dengan kepentingan penguasa.
Allah telah mengabadikan kisah Fir'aun sebagai pelajaran sepanjang zaman.
Fir'aun bukan hanya memiliki kekuasaan. Ia juga memiliki orang-orang yang mendukung sistem kekuasaannya. Bahkan para tukang sihirnya menjadi bagian dari pertarungan melawan Nabi Musa AS.
Allah berfirman:
«"Maka kumpulkanlah seluruh tukang sihir yang pandai."
(QS. Yunus: 79)»
Mereka datang bukan karena mencari kebenaran, tetapi karena berharap mendapatkan kedudukan dan kedekatan dengan Fir'aun.
Ketika mereka berkata:
"Apakah kami benar-benar akan mendapat upah jika kami yang menang?"
(QS. Al-A'raf: 113)
Di sinilah kita belajar.
Ketika ilmu, agama, dan kebenaran mulai ditukar dengan upah, jabatan, fasilitas, atau akses kekuasaan, maka saat itulah martabat ilmu mulai runtuh.
Namun kisah itu belum selesai.
Ketika kebenaran Nabi Musa AS terbukti, para tukang sihir justru beriman. Mereka tidak lagi takut kehilangan hadiah dari Fir'aun. Bahkan ketika Fir'aun mengancam akan memotong tangan dan kaki mereka secara bersilang serta menyalib mereka, mereka tetap memilih iman.
Mereka berkata:
"Kami tidak akan mengutamakanmu daripada bukti-bukti nyata yang telah datang kepada kami."
(QS. Taha: 72)
Inilah transformasi yang luar biasa:
Dari manusia yang mencari hadiah penguasa menjadi manusia yang berani mempertahankan kebenaran.
Jangan Sampai Ulama Menjadi Stempel Kekuasaan
Ulama seharusnya menjadi penjaga moral kekuasaan, bukan sekadar menjadi stempel pembenar kekuasaan.
Ketika penguasa benar, ulama mendukungnya.
Ketika penguasa keliru, ulama menasihatinya.
Ketika rakyat dizalimi, ulama berdiri membela keadilan.
Bukan justru:
"Yang penting penguasa senang."
Sebab tugas ulama bukan mencari tepuk tangan manusia, tetapi mencari ridha Allah SWT.
Rasulullah SAW bahkan mengingatkan tentang beratnya fitnah ketika ulama kehilangan keberanian moral.
Karena itu, kedekatan ulama dengan penguasa harus selalu dijaga dengan independensi ilmu, ketulusan hati, dan keberanian menyampaikan kebenaran.
Sebab ketika ulama takut kehilangan jabatan, fasilitas, atau akses kekuasaan, pertanyaan yang harus diajukan adalah:
"Apakah yang sedang dijaga: kebenaran atau kepentingan?"
Kekuasaan Itu Ujian
Jangan hanya rakyat yang diuji oleh kekuasaan.
Penguasa diuji dengan kekuasaannya.
Orang kaya diuji dengan hartanya.
Ulama diuji dengan ilmunya.
Dan orang yang dekat dengan penguasa diuji dengan keberaniannya mengatakan yang benar.
Ulama sejati bukanlah ulama yang selalu berada jauh dari kekuasaan.
Tetapi ulama sejati adalah mereka yang tetap mampu mengatakan "benar" ketika benar dan "salah" ketika salah, meskipun yang salah adalah orang yang memiliki kekuasaan.
Karena itu, belajar dari Fir'aun bukan sekadar belajar tentang seorang raja zalim.
Kita belajar tentang bahaya sebuah sistem ketika kekuasaan dikelilingi orang-orang yang kehilangan keberanian moral.
Dan kita belajar dari para tukang sihir Fir'aun:
Jangan menjual kebenaran demi kedekatan.
Jangan menukar ilmu dengan jabatan.
Jangan menjadikan agama sebagai alat legitimasi kepentingan.
Sebab kekuasaan akan berganti.
Jabatan akan berakhir.
Fasilitas akan hilang.
Tetapi pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT tidak akan pernah berakhir.
Ulama harus dekat dengan penguasa untuk menasihati, bukan menjilat.
Dekat untuk mengingatkan, bukan mencari keuntungan.
Dekat untuk menegakkan keadilan, bukan membenarkan kesalahan.
Itulah ulama pewaris Nabi.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Dr Nasrul Syarif M.Si.
Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa.
.png)