TintaSiyasi.id -- Bayangkan, di usia ketika seorang anak seharusnya sibuk belajar, bermain, dan bercanda bersama keluarga, justru harus merasakan dinginnya jeruji penjara. Itulah realitas yang dihadapi ratusan anak Palestina hari ini.
Dilansir dari Ramallah, KOMPAS.com—Palestinian Center for Prisoners’ Advocacy melaporkan sekitar 370 anak Palestina saat ini ditahan di penjara-penjara Israel. Sebagian besar anak-anak tersebut berada di penjara Megiddo dan Ofer, sebagaimana dilansir Anadolu via Antara, Jumat (28/8/2026).
Sekitar 370 anak Palestina masih dipenjara oleh Israel. Mereka menjadi bagian lebih dari 9.400 tahanan dan narapidana Palestina yang ditahan Israel hingga awal Agustus 2026.
Ini bukan sekadar angka. 370 adalah 370 masa kecil yang dirampas. 370 keluarga yang menunggu kepulangan. 370 anak yang seharusnya memiliki masa depan, tetapi justru berhadapan dengan penjara.
Lebih menyakitkan lagi, persoalan ini bukan sesuatu yang baru. Sejak 1967, jumlah kasus penangkapan anak Palestina oleh militer Israel bahkan telah melampaui 50.000 kasus. Jika angka sebesar itu masih belum cukup untuk menggugah dunia, lantas penderitaan seperti apa lagi yang harus terjadi agar hati manusia benar-benar tergerak?
Ketika Anak-Anak Pun Tidak Luput dari Penindasan
Penangkapan anak-anak Palestina menunjukkan bahwa penderitaan akibat pendudukan bukan hanya dirasakan oleh orang dewasa. Anak-anak pun ikut menjadi korban.
Anak yang seharusnya mendapatkan rasa aman justru hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Anak yang seharusnya berada di sekolah justru kehilangan kebebasan. Anak yang seharusnya tumbuh bersama orang tua justru harus terpisah dari keluarganya.
Ketika kondisi seperti ini berlangsung berulang dan dalam jumlah besar, tentu sulit jika kita hanya melihatnya sebagai kasus individual. Ada persoalan besar yang harus dikritisi: bagaimana mungkin anak-anak terus menjadi korban sementara dunia berkali-kali menyerukan kemanusiaan?
Ironisnya, suara tentang hak asasi manusia begitu lantang terdengar ketika kepentingan tertentu terganggu. Namun, ketika anak-anak Palestina menjadi korban, suara itu seakan mengecil. Standar kemanusiaan pun tampak begitu mudah berubah.
Lalu, Di Mana Suara Penguasa Negeri Muslim?
Pertanyaan ini patut diajukan.
Ketika anak-anak Palestina dipenjara, ketika keluarga mereka kehilangan orang-orang tercinta, dan ketika penderitaan terus berlangsung, apa langkah nyata yang dilakukan para penguasa negeri-negeri Muslim?
Jangan sampai kepedulian terhadap Palestina berhenti pada pernyataan prihatin, kecaman, atau unggahan di media sosial. Rakyat membutuhkan tindakan nyata.
Umat Islam juga tidak boleh dibuat lelah oleh berita. Jangan sampai setiap kali melihat penderitaan Palestina kita merasa sedih sesaat, lalu kembali sibuk dengan urusan masing-masing. Kesedihan seharusnya melahirkan kepedulian, dan kepedulian seharusnya mendorong tindakan yang nyata dan bertanggung jawab.
Palestina bukan sekadar persoalan jauh di sana. Palestina adalah cermin kemanusiaan kita. Ketika anak-anak yang tidak berdaya menjadi korban, maka membela mereka adalah bentuk keberpihakan kepada keadilan.
Islam Tidak Mengajarkan Pembiaran terhadap Kezaliman
Islam datang membawa rahmat dan keadilan. Anak-anak memiliki hak untuk dilindungi, dimuliakan, dan dijaga. Bahkan dalam keadaan perang, terdapat aturan yang membatasi tindakan manusia agar kekuatan tidak berubah menjadi kezaliman.
Karena itu, penindasan terhadap anak-anak tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Umat harus memahami bahwa membela orang yang tertindas bukan sekadar persoalan emosional, tetapi bagian dari kepedulian dan tanggung jawab moral.
Sejarah Islam juga mencatat bagaimana aturan peperangan dan perlakuan terhadap tawanan tidak dibiarkan tanpa batas. Ada ketentuan yang mengatur siapa yang boleh menjadi sasaran peperangan dan bagaimana pihak yang tidak terlibat harus diperlakukan. Prinsip tersebut menunjukkan bahwa kekuatan harus tunduk kepada aturan, bukan menjadi alasan untuk melakukan kesewenang-wenangan.
Jangan Biarkan Palestina Hilang dari Ingatan
Hari ini, 370 anak Palestina masih berada di balik jeruji.
Maka, jangan biarkan mereka hanya menjadi angka dalam berita.
Jangan biarkan penderitaan mereka berlalu tanpa suara. Jangan biarkan dunia terbiasa melihat ketidakadilan. Jangan biarkan umat kehilangan kepedulian.
Teruslah bangun kesadaran umat. Teruslah suarakan penghentian penindasan. Dorong para pemimpin dunia, khususnya negara-negara Muslim, untuk mengambil langkah nyata melalui jalur kemanusiaan, diplomasi, dan perlindungan terhadap warga sipil.
Sebab, anak-anak Palestina tidak membutuhkan sekadar rasa kasihan. Mereka membutuhkan keamanan, kebebasan, perlindungan, pendidikan, dan masa depan.
Dan selama masih ada anak yang kehilangan masa kecilnya karena penindasan, selama masih ada keluarga yang menunggu kepulangan anaknya dari penjara, maka suara pembelaan tidak boleh berhenti.
Palestina mungkin jauh dari pandangan kita, tetapi jangan sampai ia jauh dari hati kita.
Karena diamnya kita hari ini jangan sampai menjadi alasan bagi generasi berikutnya untuk bertanya:
“Ketika anak-anak Palestina dizalimi, di mana umat Islam?”
Wallahu a’lam bishawab.
Oleh: Salma Rafida
(Aktivis Muslimah)