Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Anggaran Mitigasi Bencana Minim Cerminkan Lemahnya Prioritas Perlindungan Nyawa Rakya

Rabu, 09 September 2026 | 17:30 WIB Last Updated 2026-09-09T10:30:58Z

TintaSiyasi.id -- Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menilai alokasi anggaran penanggulangan dan mitigasi bencana yang sangat minim mencerminkan lemahnya komitmen penguasa dalam memprioritaskan keselamatan serta perlindungan nyawa rakyat di negeri rawan bencana.

 

“Alokasi anggaran penanggulangan dan mitigasi bencana yang sangat minim mencerminkan lemahnya komitmen penguasa dalam memprioritaskan keselamatan serta perlindungan nyawa rakyat di negeri rawan bencana,” tutur HILMI.

 

“Ketika institusi yang bertanggung jawab terhadap keselamatan manusia dari bencana hanya diberi ratusan miliar rupiah sementara program lain menyedot ratusan triliun, kita berhak bertanya apakah prioritas negara telah proporsional terhadap risiko nyata yang dihadapi rakyat,” tandas HILMI.

 

HILMI membeberkan dalam Letter to Intellectuals No. 019 bertajuk Bencana: Qadarullah dan Tanggung Jawab Negara pada Senin (07/09/2026) ironi fiskal yang dialami Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam APBN 2026.

 

“Alokasi BNPB tercatat hanya Rp490,96 miliar, dan dari angka tersebut hanya sekitar Rp250 miliar yang dialokasikan langsung untuk Program Ketahanan Bencana, sementara sisanya terpakai untuk dukungan manajemen birokrasi,” ujarnya kepada TintaSiyasi.ID.

 

Padahal, HILMI melihat renstra BNPB 2025–2029 mencatat kebutuhan riil lembaga tersebut pada 2026 mencapai Rp2,606 triliun.

 

“Kondisi ini berbanding terbalik dengan gelontoran dana ratusan triliun untuk program pemerintah lainnya, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menelan anggaran sekitar Rp229 triliun atau setara 466 kali lipat anggaran BNPB,” bebernya.

 

Kesenjangan fiskal tersebut, menurut HILMI, berisiko melumpuhkan pengadaan dan perawatan infrastruktur vital penyelamat jiwa.

 

“Dampak paling berbahaya dari pemangkasan anggaran mitigasi adalah terhambatnya pembangunan sistem peringatan dini (early warning system), pemetaan risiko, simulasi evakuasi, hingga penyediaan sensor gempa dan tsunami di lapangan,” ulasnya.

 

HILMI mengingatkan bahwa dalam ekonomi kebencanaan, biaya pencegahan sebelum bencana sejatinya adalah investasi kemanusiaan yang nilainya jauh lebih murah dibandingkan korban ratusan nyawa yang melayang sia-sia akibat kelalaian sistemis.

 

“Gunung tidak membaca APBN, pergerakan lempeng tektonik tidak menunggu tahun anggaran berikutnya, dan api gambut tidak berhenti karena alasan efisiensi anggaran negara,” urainya.

 

Dalam pandangan Islam, ia menyebut bahwa keselamatan jiwa (hifzh an-nafs) merupakan salah satu maqasyid syariah yang paling mendasar dan wajib dipelihara oleh seorang pemimpin.

 

“Kaidah syariat menegaskan bahwa seluruh kebijakan penguasa terhadap rakyat wajib terikat sepenuhnya pada kemaslahatan (tasharruf al-imam ala ar-ra'iyyah manuthun bil-mashlahah),” beber HILMI.

 

“Semakin canggih sains dan teknologi yang kita miliki, semakin kecil alasan bagi negara untuk lalai membangun peringatan dini, dan semakin besar pertanggungjawaban para penguasa di hadapan Allah Swt. kelak,” pungkasnya.[] Rere

Opini

×
Berita Terbaru Update