Fenomena ini bukan sekadar persoalan psikologis, melainkan bukti kegagalan sistem dalam menghadirkan kehidupan yang menenteramkan. Kapitalisme telah menciptakan generasi yang terus dikejar target, dihantui persaingan, dibebani biaya hidup, dan dicekoki standar kebahagiaan palsu melalui media sosial. Ketika tekanan hidup memuncak, solusi yang ditawarkan bukan menghapus penyebabnya, tetapi menjual pelarian. Lahirlah industri healing, wisata, hiburan, hingga gaya hidup konsumtif yang meraup keuntungan dari kegelisahan manusia.
Inilah wajah sekularisasi: agama disingkirkan dari kehidupan, sementara kebahagiaan diukur dengan materi, pengalaman, dan validasi manusia. Akibatnya, hati kehilangan sandaran. Ketika jiwa kosong, kapitalisme hadir menawarkan "obat" yang hanya meredakan gejala, bukan menyembuhkan penyakit. Semakin cemas masyarakat, semakin besar keuntungan industri hiburan, pariwisata, fesyen, hingga konten digital. Stres rakyat berubah menjadi ladang bisnis.
Allah SWT telah mengingatkan bahwa ketenangan tidak pernah lahir dari gemerlap dunia.
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (TQS. Ar-Ra'd: 28).
Allah juga berfirman:
"Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh baginya kehidupan yang sempit." (TQS. Thaha: 124).
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan yang sesungguhnya adalah kaya hati." (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Islam memandang kesehatan mental tidak cukup diselesaikan dengan rekreasi, tetapi harus dimulai dari akidah yang kokoh dan sistem kehidupan yang benar. Negara wajib menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat, membuka lapangan kerja, menghapus eksploitasi ekonomi, membangun pendidikan yang menanamkan keimanan, serta menghadirkan lingkungan sosial yang menenteramkan. Ketika keadilan terwujud dan hubungan manusia dengan Allah terjaga, ketenangan bukan lagi komoditas yang diperjualbelikan.
Karena itu, krisis kesehatan mental yang melanda generasi muda bukan disebabkan kurangnya tempat wisata, melainkan rusaknya sistem kehidupan. Selama sekularisme dan kapitalisme tetap menjadi fondasi negara, rakyat hanya akan dipaksa membeli kebahagiaan yang semu. Islam menawarkan solusi hakiki melalui penerapan syariat secara kaffah, yang membangun manusia berkepribadian Islam sekaligus menghadirkan negara sebagai pengurus urusan rakyat, bukan pedagang yang mengambil untung dari penderitaan mereka. Saatnya meninggalkan sistem yang menjadikan kecemasan sebagai pasar, menuju sistem Islam yang menjadikan ketenangan sebagai hak setiap manusia.
Wallaahu a'lam bishshowab.
Oleh: drh. Mei Widiati, M.Pd.
(Pemerhati Pendidikan dan Kesehatan)
