Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Syahadat Adalah Kesimpulan Rasional Keberadaan Allah dan Kenabian Muhammad

Senin, 03 Agustus 2026 | 16:48 WIB Last Updated 2026-08-03T09:48:30Z


TintaSiyasi.id -- Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menegaskan bahwa syahadat bukan sekadar warisan tradisi atau keyakinan emosional, melainkan kesimpulan rasional yang lahir dari pengujian terhadap keberadaan Allah Swt. dan kebenaran kenabian Muhammad saw..


“Syahadat bukan sekadar warisan tradisi atau keyakinan emosional, melainkan kesimpulan rasional yang lahir dari pengujian terhadap keberadaan Allah dan kebenaran kenabian Muhammad saw.,” lugas HILMI kepada TintaSiyasi.ID.

 

Penegasan itu disampaikan HILMI dalam Letter to Intellectuals No. 003 bertajuk Bagaimana Bersyahadat Secara Rasional yang dirilis pada Senin (13/07/2026).

 

Dalam dokumen tersebut dijelaskan bahwa pembuktian keberadaan Tuhan dapat ditempuh melalui berbagai jalur rasional yang selama berabad-abad digunakan dalam filsafat, teologi, dan sains.

 

“Keyakinan kepada Tuhan bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan akal sehat, tetapi justru merupakan penjelasan paling koheren terhadap realitas,” jelasnya.

 

“Pendekatan rasional tidak memaksa iman, tetapi menunjukkan bahwa percaya kepada Tuhan bukan irasional, bahkan bisa menjadi penjelasan paling koheren terhadap realitas,” bebernya.

 

HILMI memaparkan bahwa salah satu jalur rasional tersebut adalah argumen kosmologis yang menegaskan segala sesuatu yang ada pasti memiliki sebab.

 

“Karena alam semesta memiliki awal, maka harus ada penyebab di luar ruang dan waktu yang menjadi sebab pertama dari segala yang ada,” terangnya.

 

“Harus ada ‘Sebab Pertama’ yang tidak disebabkan, tidak bergantung pada apa pun, dan menjadi sumber segala yang ada. Itulah yang secara rasional disebut Tuhan,” lanjutnya.

 

Selain itu, HILMI juga mengangkat argumen kontingensi yang dikembangkan Ibnu Sina. “Seluruh realitas yang dapat diamati bersifat bergantung sehingga memerlukan satu entitas yang keberadaannya niscaya dan tidak bergantung pada apa pun,” ulasnya.

 

“Semua yang kita lihat bersifat kontingen. Karena itu harus ada satu yang wajib ada dan tidak bergantung kepada apa pun. Itulah Tuhan,” jelasnya.

 

Ia selanjutnya menyoroti keteraturan alam semesta sebagai petunjuk adanya perancang yang cerdas. “Presisi hukum fisika, kompleksitas DNA, serta keseimbangan kosmos dinilai sulit dijelaskan apabila seluruh realitas hanya merupakan kebetulan semata,” urainya.

 

“Alam semesta jauh lebih kompleks daripada sebuah jam. Karena itu lebih logis jika ada Perancang di baliknya,” ujarnya.

 

Tak hanya itu, HILMI juga menguraikan argumen moral, kesadaran, dan makna hidup. “Keberadaan standar moral objektif, kesadaran manusia, dan pencarian makna menunjukkan adanya realitas yang melampaui materi,” sorotnya.

 

“Moral objektif memerlukan sumber moral objektif. Kesadaran juga membuka jalan kepada realitas nonmaterial yang melampaui dunia fisik,” tuturnya.

 

Dalam perspektif Al-Qur’an, HILMI menyebut bahwa wahyu tidak menawarkan pembuktian matematis, melainkan mengajak manusia berpikir secara logis.

 

“Salah satunya melalui firman Allah SWT dalam QS At-Tur ayat 35, ‘Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun, ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri?’,” nukilnya.

 

Menurut HILMI, pertanyaan tersebut menggiring manusia kepada kesimpulan bahwa mustahil sesuatu muncul tanpa sebab dan mustahil pula menciptakan dirinya sendiri. “Karena itu, keberadaan Pencipta menjadi penjelasan yang paling masuk akal,” tandasnya.

 

“Kesimpulan paling konsisten adalah adanya Realitas Tertinggi yang tidak bermula, tidak bergantung, cerdas, berkehendak, dan menjadi sumber hukum alam serta moral,” simpulnya.

 

Namun HILMI menegaskan bahwa akal hanya mampu mengantarkan manusia pada kesimpulan bahwa Tuhan itu ada. “Setelah itu muncul pertanyaan yang lebih mendasar, yakni apa yang Tuhan kehendaki dari manusia,” ujarnya mengajak berpikir.

 

“Kalau Tuhan ada dan berkehendak, maka manusia membutuhkan petunjuk dari-Nya. Di sinilah kebutuhan terhadap wahyu menjadi logis,” tandasnya.

 

Pada akhirnya, HILMI menegaskan bahwa syahadat bukanlah lompatan iman tanpa dasar, melainkan puncak dari proses berpikir yang menghubungkan akal, wahyu, dan realitas sejarah.

 

“Maka keesaan Allah dan kenabian Muhammad dapat disaksikan atau disyahadati secara rasional,” pungkasnya.[] Rere

Opini

×
Berita Terbaru Update