“Syahadat bukan sekadar warisan
tradisi atau keyakinan emosional, melainkan kesimpulan rasional yang lahir dari
pengujian terhadap keberadaan Allah dan kebenaran kenabian Muhammad saw.,”
lugas HILMI kepada TintaSiyasi.ID.
Penegasan itu disampaikan HILMI
dalam Letter to Intellectuals No. 003 bertajuk Bagaimana Bersyahadat
Secara Rasional yang dirilis pada Senin (13/07/2026).
Dalam dokumen tersebut dijelaskan
bahwa pembuktian keberadaan Tuhan dapat ditempuh melalui berbagai jalur
rasional yang selama berabad-abad digunakan dalam filsafat, teologi, dan sains.
“Keyakinan kepada Tuhan bukanlah
sesuatu yang bertentangan dengan akal sehat, tetapi justru merupakan penjelasan
paling koheren terhadap realitas,” jelasnya.
“Pendekatan rasional tidak
memaksa iman, tetapi menunjukkan bahwa percaya kepada Tuhan bukan irasional,
bahkan bisa menjadi penjelasan paling koheren terhadap realitas,” bebernya.
HILMI memaparkan bahwa salah satu
jalur rasional tersebut adalah argumen kosmologis yang menegaskan segala
sesuatu yang ada pasti memiliki sebab.
“Karena alam semesta memiliki
awal, maka harus ada penyebab di luar ruang dan waktu yang menjadi sebab
pertama dari segala yang ada,” terangnya.
“Harus ada ‘Sebab Pertama’ yang
tidak disebabkan, tidak bergantung pada apa pun, dan menjadi sumber segala yang
ada. Itulah yang secara rasional disebut Tuhan,” lanjutnya.
Selain itu, HILMI juga mengangkat
argumen kontingensi yang dikembangkan Ibnu Sina. “Seluruh realitas yang dapat
diamati bersifat bergantung sehingga memerlukan satu entitas yang keberadaannya
niscaya dan tidak bergantung pada apa pun,” ulasnya.
“Semua yang kita lihat bersifat
kontingen. Karena itu harus ada satu yang wajib ada dan tidak bergantung kepada
apa pun. Itulah Tuhan,” jelasnya.
Ia selanjutnya menyoroti
keteraturan alam semesta sebagai petunjuk adanya perancang yang cerdas. “Presisi
hukum fisika, kompleksitas DNA, serta keseimbangan kosmos dinilai sulit
dijelaskan apabila seluruh realitas hanya merupakan kebetulan semata,” urainya.
“Alam semesta jauh lebih kompleks
daripada sebuah jam. Karena itu lebih logis jika ada Perancang di baliknya,”
ujarnya.
Tak hanya itu, HILMI juga
menguraikan argumen moral, kesadaran, dan makna hidup. “Keberadaan standar
moral objektif, kesadaran manusia, dan pencarian makna menunjukkan adanya
realitas yang melampaui materi,” sorotnya.
“Moral objektif memerlukan sumber
moral objektif. Kesadaran juga membuka jalan kepada realitas nonmaterial yang
melampaui dunia fisik,” tuturnya.
Dalam perspektif Al-Qur’an, HILMI
menyebut bahwa wahyu tidak menawarkan pembuktian matematis, melainkan mengajak
manusia berpikir secara logis.
“Salah satunya melalui firman
Allah SWT dalam QS At-Tur ayat 35, ‘Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu
pun, ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri?’,” nukilnya.
Menurut HILMI, pertanyaan
tersebut menggiring manusia kepada kesimpulan bahwa mustahil sesuatu muncul
tanpa sebab dan mustahil pula menciptakan dirinya sendiri. “Karena itu,
keberadaan Pencipta menjadi penjelasan yang paling masuk akal,” tandasnya.
“Kesimpulan paling konsisten
adalah adanya Realitas Tertinggi yang tidak bermula, tidak bergantung, cerdas,
berkehendak, dan menjadi sumber hukum alam serta moral,” simpulnya.
Namun HILMI menegaskan bahwa akal
hanya mampu mengantarkan manusia pada kesimpulan bahwa Tuhan itu ada. “Setelah
itu muncul pertanyaan yang lebih mendasar, yakni apa yang Tuhan kehendaki dari
manusia,” ujarnya mengajak berpikir.
“Kalau Tuhan ada dan berkehendak,
maka manusia membutuhkan petunjuk dari-Nya. Di sinilah kebutuhan terhadap wahyu
menjadi logis,” tandasnya.
Pada akhirnya, HILMI menegaskan
bahwa syahadat bukanlah lompatan iman tanpa dasar, melainkan puncak dari proses
berpikir yang menghubungkan akal, wahyu, dan realitas sejarah.
“Maka keesaan Allah dan kenabian
Muhammad dapat disaksikan atau disyahadati secara rasional,” pungkasnya.[] Rere