Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Wahyu dan Kenabian Muhammad Merupakan Penjelasan Paling Koheren bagi Kebutuhan Moral dan Peradaban Manusia

Senin, 03 Agustus 2026 | 16:48 WIB Last Updated 2026-08-03T09:48:34Z


TintaSiyasi.id -- Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menegaskan bahwa wahyu dan kenabian Muhammad saw. merupakan penjelasan paling koheren bagi kebutuhan moral, arah hidup, dan pembangunan peradaban manusia.

 

“Wahyu dan kenabian Muhammad saw. merupakan penjelasan paling koheren bagi kebutuhan moral, arah hidup, dan pembangunan peradaban manusia,” tegas HILMI kepada TintaSiyasi.ID, Senin (13/07/2026) dalam Letter to Intellectuals No. 003 bertajuk Bagaimana Bersyahadat Secara Rasional.

 

Dalam dokumen itu dijelaskan bahwa setelah akal sampai pada kesimpulan bahwa Tuhan ada, muncul kebutuhan logis untuk mengetahui kehendak Tuhan terhadap manusia.

 

“Akal, perasaan, maupun tradisi sosial tidak cukup menjadi sumber final untuk menentukan apa yang benar-benar dikehendaki Allah Swt.,” ujarnya.

 

“Tidak ada sumber manusia yang cukup final untuk menentukan kehendak Tuhan,” sebutnya.

 

Karena itu, HILMI menilai wahyu menjadi kebutuhan rasional. “Wahyu berfungsi menjelaskan tujuan hidup, menetapkan standar benar dan salah, memberikan panduan praktis, serta menerangkan konsekuensi kehidupan dunia dan akhirat,” tuturnya.

 

“Wahyu adalah komunikasi dari Tuhan kepada manusia,” tegasnya.

 

HILMI menjelaskan bahwa wahyu tidak turun secara abstrak, melainkan melalui nabi dan rasul yang berfungsi sebagai penyampai wahyu, penafsir praktis, sekaligus teladan hidup. “Dalam Islam, puncak risalah tersebut berada pada Nabi Muhammad saw.,” lugasnya.

 

Selanjutnya, HILMI memaparkan bahwa klaim kenabian dapat diuji secara rasional sebagaimana sebuah hipotesis diuji dalam kerangka ilmiah.

 

“Pengujian itu mencakup integritas pribadi, konsistensi ajaran, kualitas pesan, bukti pendukung, ketahanan terhadap kritik, hingga dampak peradaban yang dihasilkannya,” ulasnya.

 

“Yang lolos uji integritas, konsistensi, isi, bukti, dan dampak merupakan kandidat paling rasional untuk diterima sebagai nabi,” sebutnya.

 

Menurut HILMI, Nabi Muhammad saw. memenuhi seluruh kriteria tersebut. “Sebelum diangkat menjadi nabi, beliau dikenal sebagai Al-Amin atau sosok yang terpercaya. Setelah mengaku menerima wahyu, beliau justru menghadapi pemboikotan, pengusiran, dan peperangan sehingga hipotesis bahwa beliau berdusta demi keuntungan pribadi dinilai tidak memadai,” kisahnya.

 

“Hipotesis ‘berdusta demi keuntungan pribadi’ tidak kuat,” tegasnya.

 

Ia juga menolak anggapan bahwa kenabian Muhammad dapat dijelaskan melalui gangguan jiwa ataupun sekadar kecerdasan luar biasa.

 

“Kualitas ajaran Islam, konsistensi kepemimpinan Nabi, serta kemampuan membangun masyarakat dan peradaban tidak dapat diterangkan secara memadai oleh dua hipotesis tersebut,” jelasnya.

 

“Hipotesis halusinasi maupun sekadar jenius moral-politik tidak cukup menjelaskan kualitas ajaran dan transformasi yang terjadi,” bebernya.

 

Dalam pandangan HILMI, bukti utama kenabian Muhammad adalah Al-Qur’an. “Kitab suci itu memiliki karakteristik unik berupa kualitas bahasa, konsistensi teologis, kemampuan membentuk manusia dan umat, tantangan terbuka untuk ditandingi, serta transmisi yang terjaga sepanjang zaman,” paparnya.

 

“Dalam Islam, mukjizat utama bukan peristiwa sesaat, tetapi teks yang tetap bisa diuji lintas zaman,” katanya.

 

HILMI menambahkan bahwa dampak historis Islam juga menjadi bagian penting dari verifikasi kenabian.

 

“Dalam waktu relatif singkat, ajaran Nabi Muhammad berhasil mengubah masyarakat Arab tribal menjadi umat yang memiliki sistem ibadah, hukum, ekonomi, pemerintahan, peradilan, hingga solidaritas global,” tandasnya.

 

“Dampaknya bukan hanya emosional, tetapi institusional dan berlangsung berabad-abad,” ungkapnya.

 

Karena itu, HILMI menyimpulkan bahwa dari seluruh kemungkinan yang ada, hipotesis bahwa Muhammad benar-benar menerima wahyu merupakan penjelasan yang paling kuat dan paling konsisten dengan bukti moral, tekstual, historis, serta peradaban yang tersedia.

 

“Kenabian Muhammad adalah kesimpulan terbaik dari bukti moral, tekstual, historis, dan peradaban,” pungkasnya.[] Rere

Opini

×
Berita Terbaru Update