Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Sampai Kapan Isr*el Bercokol di Bumi Palestina?

Minggu, 02 Agustus 2026 | 21:21 WIB Last Updated 2026-08-02T14:21:43Z

TintaSiyasi.id -- Hingga hari ini Palestina belum bisa lepas dari penjajahan yang dilakukan oleh entitas Zionis Israel. Walaupun hampir seluruh dunia mengecam dan mengutuk tindakan tersebut, tapi Israel tetap bergeming. Bahkan tindakan para Zionis itu makin menjadi-jadi.

Baru-baru ini citra satelit mengungkap sebuah fakta tentang keberadaan tembok tanah raksasa yang dibangun Israel secara diam-diam dalam beberapa bulan terakhir. Panjang tembok itu mencapai 23 kilometer, melintasi sejumlah permukiman Palestina yang dibombardir Israel hingga hancur lebur (Kompas.com, 22-7-2026).

Untuk apa tembok raksasa itu dibuat?

Entitas Zionis Israel sangat berambisi menguasai seluruh wilayah Gaza hingga tidak ada sisa. Hal itu dipertegas dengan dibangunnya tembok raksasa yang membelah wilayah jalur Gaza. Israel tidak peduli ketika dunia menentangnya. Yang ada di benak kaum Zionis adalah ingin memperluas wilayah permukiman yang hanya dihuni oleh kaumnya saja. Dengan kata lain Israel tidak akan memberikan kemerdekaan pada rakyat Palestina.

Sungguh sebuah ironi, ketika rakyat Palestina makin terdesak karena wilayahnya terus dirampas, sementara Indonesia malah bergabung dengan BoP (Board of Peace), sebuah badan internasional yang dibentuk oleh negara kaum kufar. Alih-alih untuk perdamaian dan melindungi warga sipil, ternyata secara tidak langsung BoP itu malah mendukung Israel yang nyata-nyata terus menyerang Palestina.

Walaupun Palestina dan Israel berkali-kali menandatangani kesepakatan gencatan senjata, namun serangan demi serangan tidak lantas berhenti begitu saja. Banyak korban jiwa berjatuhan termasuk para wanita dan anak-anak. Jadi suatu kebodohan jika mengharapkan kemerdekaan dan pengakuan negara Palestina oleh Israel. Apalagi hingga saat ini Israel masih mendapat dukungan dari negara AS dan sekutunya yang membuat Israel makin jumawa.

Solusi yang Islam tawarkan.

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda, barang siapa merampas sejengkal tanah secara zalim, niscaya pada hari kiamat akan dikalungi dengan tujuh lapis bumi. Hal itu mempunyai arti, mengambil wilayah atau tanah milik orang lain secara paksa akan mendapat siksaan yang pedih di akhirat kelak.
Merujuk dari hadits ini, jika dikaitkan dengan kasus yang terjadi di Gaza, Palestina, maka Israel dan pendukungnya akan mendapat balasan setimpal selama mereka belum bertobat.

Saat ini umat Islam masih terpecah belah, bukan hanya tersekat pada masing-masing negara bangsa tapi dalam satu wilayah pun masih mempersoalkan perbedaan. Padahal perbedaan itu merupakan fitrah selama yang berbeda hanyalah masalah furu/cabang bukan masalah akidah. Hal itulah yang membuat umat Islam tidak mempunyai kekuatan untuk menandingi hegemoni barat yang mencengkeram.

Jika saja umat Islam di seluruh dunia bersatu dan mempunyai sebuah institusi negara yaitu daulah Islam maka sang Khalifah sebagai pemimpin tertinggi akan memobilisasi tentara Islam untuk mengusir Zionis dari bumi Palestina. Persatuan umat Islam itulah yang merupakan kunci utama kemenangan Palestina dan dunia Islam seluruhnya yang saat ini masih dijajah.

Daulah Islam atau yang lebih dikenal dengan Khilafah sudah menjadi opini internasional. Walaupun banyak pihak tidak menyukainya, termasuk Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

Dalam satu pidatonya tertanggal 21 April tahun lalu, Benjamin dengan tegas menolak jika ada Khilafah (dilansir dari website Arrahmah.id). Reaksi dari Benjamin itu mencerminkan kebencian sekaligus ketakutan yang sangat dalam terhadap institusi Daulah Khilafah, karena jika itu berhasil tegak, maka dapat dipastikan penjajahan terhadap Palestina akan berakhir.

Begitulah solusi yang ditawarkan oleh Islam, karena Islam bukan sekadar agama melainkan Islam juga merupakan mabda (ideologi). Islam itu punya pemikiran, perasaan, dan peraturan yang sama.
Sumber hukumnya berasal dari Al-Qur'an dan Sunah yang tidak dapat direvisi serta bersifat pasti (qat'i).


Wallahualam

Oleh: Yuli Juharini 
(Aktivis Muslimah)

Opini

×
Berita Terbaru Update