TintaSiyasi.id -- Generasi Z sering disebut sebagai generasi yang paling dekat dengan teknologi dan media sosial. Namun, di balik kemudahan akses informasi dan berbagai pilihan gaya hidup,mereka juga menghadapi tekanan yang tidak ringan. Lebih dari 48% Gen Z menyatakan tidak merasa aman secara finansial. (cnbcindonesia.com, 2026/08/20)
Di sisi lain, pengeluaran untuk self-reward, healing, hiburan, dan gaya hidup justru semakin dianggap sebagai kebutuhan emosional, bukan sekadar kemewahan. Sekilas, kondisi ini tampak kontradiktif. Bagaimana mungkin generasi yang merasa tidak aman secara finansial justru semakin banyak mengeluarkan uang untuk kesenangan? Jika dicermati, keduanya justru saling berkaitan. Gen Z memasuki dunia kerja dalam situasi ekonomi yang penuh tekanan. Biaya hidup terus meningkat, sementara pendapatan dan kesempatan memperoleh pekerjaan yang layak tidak selalu sebanding. (kompas.com, 2026/08/12)
Kebutuhan tempat tinggal, pangan, pendidikan, transportasi, dan berbagai kebutuhan lainnya semakin mahal. Bahkan ketika telah bekerja, penghasilan belum tentu memberikan rasa aman secara finansial. Inilah salah satu persoalan yang dihadapi Gen Z dalam sistem kapitalisme. Pemenuhan kebutuhan hidup banyak diserahkan kepada mekanisme pasar, sementara negara tidak sepenuhnya hadir sebagai penjamin kebutuhan dasar rakyat. Individu akhirnya dituntut untuk menyelesaikan persoalannya sendiri seperti, meningkatkan skill, mencari pekerjaan tambahan, membangun personal branding, bahkan menciptakan berbagai sumber pendapatan. Jika gagal bertahan, seolah-olah kegagalan itu semata-mata kesalahan pribadi.
Tekanan tersebut kemudian bertemu dengan budaya sekulerisme-liberalisme yang menawarkan konsumsi dan kesenangan sebagai pelarian. Lelah setelah bekerja? Healing. Stres? Self-reward. Sedih? Shopping. Bosan? Staycation. Berbagai aktivitas konsumtif perlahan diposisikan sebagai kebutuhan emosional. Industri pun tidak sekadar menjual barang, tetapi menjual perasaan. Konsumen dibuat percaya bahwa membeli sesuatu akan membuatnya lebih bahagia, mengikuti tren akan membuatnya diterima, dan memiliki barang tertentu akan meningkatkan nilai dirinya.
Ditambah lagi media sosial memperkuat keadaan ini. Setiap hari generasi muda disuguhi kehidupan orang lain yang tampak sempurna. Liburan, makanan, pakaian, gawai, konser, hingga berbagai pencapaian. Tren terus berputar dan menciptakan FOMO (fear of missing out), rasa takut tertinggal dari apa yang sedang dilakukan orang lain. Akibatnya, konsumsi bukan lagi sekadar pemenuhan kebutuhan, tetapi menjadi sarana memperoleh pengakuan dan meredakan tekanan. Ironisnya, ketika kondisi finansial sebenarnya tidak aman, pola konsumsi semacam ini justru dapat memperburuk keadaan.
Namun, persoalan Gen Z sesungguhnya tidak berhenti pada masalah ekonomi. Ada persoalan yang lebih mendasar, yaitu krisis tujuan hidup. Ketika manusia tidak memiliki pemahaman yang benar tentang untuk apa ia hidup, kebahagiaan hanya di ukur dengan perkara materi. Memiliki uang berarti bahagia. Memiliki barang berarti berhasil. Bisa bepergian berarti hidup berkualitas. Mendapat pengakuan berarti berharga. Sebaliknya, ketika semua itu tidak dimiliki, seseorang merasa gagal.
Inilah konsekuensi ketika kehidupan dipisahkan dari agama (sekularisme). Sekularisme menjadikan agama terpisah dari pengaturan kehidupan. Padahal Allah telah menjelaskan tujuan penciptaan manusia: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (TQS. Adz-Dzariyat: 56).
Islam memandang bahwa kebahagiaan manusia tidak bergantung pada sebanyak apa kenikmatan materi yang dimiliki, tetapi pada keridhaan Allah. Materi tetap boleh dinikmati, tetapi tidak boleh menjadi tujuan hidup. Karena itu, Islam tidak hanya menawarkan solusi individual, tetapi juga solusi sistemik.
Dalam negara Islam (Khilafah), negara berkewajiban menjamin pemenuhan kebutuhan dasar rakyat. Sumber daya alam yang merupakan kepemilikan umum dikelola untuk kemaslahatan rakyat, bukan diserahkan kepada kepentingan segelintir pihak. Negara juga memastikan tersedianya kondisi yang memungkinkan laki-laki memperoleh pekerjaan yang layak sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan keluarganya.
Dengan demikian, generasi muda tidak dibiarkan berjuang sendirian menghadapi tekanan ekonomi. Islam juga membangun lingkungan yang melindungi masyarakat dari budaya konsumtif dan gaya hidup hedonis.
Media pun semestinya tidak menjadi mesin yang terus menciptakan kebutuhan dan mengeksploitasi perhatian manusia, tetapi diarahkan untuk memberikan informasi, pendidikan, serta membangun ketakwaan bagi masyarakat.
Yang paling penting, Islam memberikan generasi muda visi kehidupan yang benar. Mereka adalah hamba Allah yang memiliki amanah untuk menjalani kehidupan sesuai syariat dan berkontribusi membangun peradaban Islam. Maka, problem Gen Z tidak cukup diselesaikan dengan nasihat agar lebih hemat, tidak FOMO, atau lebih kuat secara mental. Ada persoalan ekonomi, budaya, dan cara pandang hidup yang saling berkaitan. Yang dibutuhkan bukan sekadar perubahan perilaku individu, tetapi perubahan sistem yang mampu menjamin kesejahteraan sekaligus membangun manusia dengan tujuan hidup yang benar. Satu-satunya jalan untuk mewujudkan itu semua adalah hanya dengan menerapkan Islam Kaffah yakni tegaknya Khilafah.
Wallahu a’lam bishshawab.[]
Hilda Handayani
Aktivis Muslimah