TintaSiyasi.id -- Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menyatakan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan tidak pernah lahir semata-mata dari kecerdasan individu, melainkan bertumpu pada ekosistem yang dibangun di atas ketakwaan, kejujuran, amanah, kedermawanan, dan kepedulian terhadap pendidikan yang menjadi fondasi kelahiran peradaban ilmu yang mampu memberi manfaat lintas generasi.
"Peradaban ilmu tidak
dibangun hanya oleh kecerdasan seorang ilmuwan. Ia lahir dari ekosistem yang
ditegakkan di atas ketakwaan, kejujuran, amanah, dan kepedulian terhadap
pendidikan sehingga menjadi fondasi kelahiran peradaban ilmu yang mampu
melahirkan manfaat yang melintasi zaman," lugas HILMI.
Penegasan tersebut disampaikan kepada TintaSiyasi.ID dalam Letter to Intellectuals No. 009 bertajuk Ketakwaan sebagai
Landasan Ekosistem Ilmu: Kisah Kejujuran Abū Ghiyāṡ dan Perjalanan Intelektual
al-Ṭabarī yang dirilis pada Senin (03/08/2026).
Dalam dokumen itu dijelaskan
bahwa di balik lahirnya karya-karya besar tidak hanya terdapat kecerdasan
seorang penulis, melainkan juga rangkaian dukungan yang memungkinkan proses
menuntut ilmu berlangsung.
“Mulai dari tersedianya makanan,
tempat tinggal, biaya perjalanan, guru, hingga kertas untuk menulis menjadi
bagian yang tidak terpisahkan dari lahirnya peradaban ilmu,” bebernya.
"Karya monumental tidak
hanya lahir dari kecerdasan pengarangnya, tetapi juga dari tersedianya waktu,
makanan, tempat tinggal, kertas, perjalanan, guru, dan biaya untuk
mempertahankan kehidupan selama proses belajar dan menulis," paparnya.
HILMI kemudian mengangkat kisah
Imam Abū Ja'far Muḥammad ibn Jarīr al-Ṭabarī yang ketika muda melakukan
perjalanan panjang menuntut ilmu ke berbagai pusat keilmuan dunia Islam, mulai
dari Rayy, Baghdad, Kufah, Basrah, Syam, Mesir, hingga Hijaz.
“Perjalanan itu membutuhkan biaya
yang tidak sedikit karena seorang penuntut ilmu harus membeli kertas, menyalin
kitab, membayar guru, menyewa kendaraan, hingga memenuhi kebutuhan hidup
sehari-hari,” sebut HILMI.
"Jalan menuju kedudukan
sebagai ulama besar tidak selalu mudah. Perjalanan ilmiah memerlukan biaya
besar dan pengorbanan yang panjang," tuturnya.
HILMI mengisahkan, ketika berada
di Makkah pada musim haji, al-Ṭabarī menyaksikan seorang saudagar dari Khurasan
kehilangan kantong berisi seribu dinar.
“Saudagar tersebut mengumumkan
kehilangan itu dan meminta siapa pun yang menemukannya agar mengembalikan tanpa
menjanjikan imbalan tertentu, sebab balasannya diserahkan kepada Allah Swt.,”
kisahnya.
"Seorang lelaki tua miskin
bernama Abū Ghiyāṡ kemudian menyarankan agar pemilik uang memberikan hadiah
kepada penemunya. Namun saudagar itu tetap menyerahkan balasannya kepada
Allah," bebernya.
Menurut HILMI, peristiwa itu
berlanjut dengan kenyataan yang mengejutkan. “Al-Ṭabarī mengikuti Abū Ghiyāṡ
hingga ke rumahnya dan mengetahui bahwa lelaki miskin itulah yang sebenarnya
menemukan kantong berisi seribu dinar tersebut,” lanjutnya.
“Meski hidup bersama sembilan
anggota keluarga dalam kemiskinan yang sangat berat, Abū Ghiyāṡ menolak
mengambil sedikit pun harta yang bukan miliknya,” ujarnya.
"Setelah menjaga kehormatan
dan kejujuran selama 86 tahun, ia tidak mau membakar seluruh amal hidupnya
dengan mengambil harta yang bukan miliknya," ungkap HILMI mengisahkan
ucapan Abū Ghiyāṡ.
HILMI menuturkan bahwa istri Abū
Ghiyāṡ sempat mengingatkan kondisi keluarga mereka yang kekurangan makanan,
pakaian, dan penghidupan.
“Akan tetapi, kemiskinan tidak
dijadikan alasan untuk mengkhianati amanah. Pada hari ketiga, Abū Ghiyāṡ
memanggil pemilik harta dan mengembalikan seluruh kantong berisi seribu dinar
dalam keadaan utuh,” katanya.
"Ambillah kantongmu, dan
biarkan aku dapat tidur dengan tenang pada malam hari," sitat HILMI dari
riwayat Abū Ghiyāṡ.
Kejujuran itu justru mengubah
jalan cerita, lanjut HILMI, setelah memastikan seluruh isi kantong masih utuh,
saudagar Khurasan menjelaskan bahwa ayahnya pernah berwasiat agar sepertiga
hartanya diberikan kepada orang yang paling layak menerimanya.
Menurutnya, lanjut HILMI, setelah
menyaksikan kemiskinan sekaligus kejujuran Abū Ghiyāṡ, tidak ada orang yang
lebih pantas menerima seribu dinar tersebut selain dirinya.
"Uang yang semula wajib
dikembalikan berubah menjadi pemberian yang halal karena kejujuran telah
menggerakkan hati pemilik harta untuk bersedekah," jelasnya.
HILMI menilai, kisah itu
memperlihatkan bahwa ketakwaan bukan hanya melahirkan kemuliaan pribadi, tetapi
juga mampu menggerakkan orang lain untuk menghadirkan kemaslahatan yang lebih
luas. “Kejujuran menjadi sebab lahirnya keberkahan yang tidak pernah
diperkirakan sebelumnya,” lugasnya.
"Abū Ghiyāṡ mengajarkan
bahwa kemiskinan tidak pernah menjadi pembenaran untuk berkhianat, sedangkan
kekayaan menemukan maknanya ketika diberikan kepada orang yang tepat,"
simpulnya.
Pada akhirnya, HILMI menegaskan
bahwa sejarah peradaban Islam menunjukkan lahirnya ilmu besar selalu ditopang
oleh manusia-manusia yang menjaga amanah sebelum menghasilkan karya-karya
agung.
“Karena itu, membangun ekosistem
ilmu tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas pendidikan, tetapi juga
harus menumbuhkan karakter takwa, jujur, amanah, dan gemar berbagi agar ilmu
benar-benar menjadi jalan lahirnya peradaban,” pesannya.