Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Ketakwaan Adalah Fondasi Peradaban Ilmu yang Memberi Manfaat Lintas Generasi

Selasa, 11 Agustus 2026 | 14:58 WIB Last Updated 2026-08-11T07:58:45Z

TintaSiyasi.id -- Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menyatakan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan tidak pernah lahir semata-mata dari kecerdasan individu, melainkan bertumpu pada ekosistem yang dibangun di atas ketakwaan, kejujuran, amanah, kedermawanan, dan kepedulian terhadap pendidikan yang menjadi fondasi kelahiran peradaban ilmu yang mampu memberi manfaat lintas generasi.

 

"Peradaban ilmu tidak dibangun hanya oleh kecerdasan seorang ilmuwan. Ia lahir dari ekosistem yang ditegakkan di atas ketakwaan, kejujuran, amanah, dan kepedulian terhadap pendidikan sehingga menjadi fondasi kelahiran peradaban ilmu yang mampu melahirkan manfaat yang melintasi zaman," lugas HILMI.

 

Penegasan tersebut disampaikan kepada TintaSiyasi.ID dalam Letter to Intellectuals No. 009 bertajuk Ketakwaan sebagai Landasan Ekosistem Ilmu: Kisah Kejujuran Abū Ghiyāṡ dan Perjalanan Intelektual al-Ṭabarī yang dirilis pada Senin (03/08/2026).

 

Dalam dokumen itu dijelaskan bahwa di balik lahirnya karya-karya besar tidak hanya terdapat kecerdasan seorang penulis, melainkan juga rangkaian dukungan yang memungkinkan proses menuntut ilmu berlangsung.

 

“Mulai dari tersedianya makanan, tempat tinggal, biaya perjalanan, guru, hingga kertas untuk menulis menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari lahirnya peradaban ilmu,” bebernya.

 

"Karya monumental tidak hanya lahir dari kecerdasan pengarangnya, tetapi juga dari tersedianya waktu, makanan, tempat tinggal, kertas, perjalanan, guru, dan biaya untuk mempertahankan kehidupan selama proses belajar dan menulis," paparnya.

 

HILMI kemudian mengangkat kisah Imam Abū Ja'far Muḥammad ibn Jarīr al-Ṭabarī yang ketika muda melakukan perjalanan panjang menuntut ilmu ke berbagai pusat keilmuan dunia Islam, mulai dari Rayy, Baghdad, Kufah, Basrah, Syam, Mesir, hingga Hijaz.

 

“Perjalanan itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit karena seorang penuntut ilmu harus membeli kertas, menyalin kitab, membayar guru, menyewa kendaraan, hingga memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” sebut HILMI.

 

"Jalan menuju kedudukan sebagai ulama besar tidak selalu mudah. Perjalanan ilmiah memerlukan biaya besar dan pengorbanan yang panjang," tuturnya.

 

HILMI mengisahkan, ketika berada di Makkah pada musim haji, al-Ṭabarī menyaksikan seorang saudagar dari Khurasan kehilangan kantong berisi seribu dinar.

 

“Saudagar tersebut mengumumkan kehilangan itu dan meminta siapa pun yang menemukannya agar mengembalikan tanpa menjanjikan imbalan tertentu, sebab balasannya diserahkan kepada Allah Swt.,” kisahnya.

 

"Seorang lelaki tua miskin bernama Abū Ghiyāṡ kemudian menyarankan agar pemilik uang memberikan hadiah kepada penemunya. Namun saudagar itu tetap menyerahkan balasannya kepada Allah," bebernya.

 

Menurut HILMI, peristiwa itu berlanjut dengan kenyataan yang mengejutkan. “Al-Ṭabarī mengikuti Abū Ghiyāṡ hingga ke rumahnya dan mengetahui bahwa lelaki miskin itulah yang sebenarnya menemukan kantong berisi seribu dinar tersebut,” lanjutnya.

 

“Meski hidup bersama sembilan anggota keluarga dalam kemiskinan yang sangat berat, Abū Ghiyāṡ menolak mengambil sedikit pun harta yang bukan miliknya,” ujarnya.

 

"Setelah menjaga kehormatan dan kejujuran selama 86 tahun, ia tidak mau membakar seluruh amal hidupnya dengan mengambil harta yang bukan miliknya," ungkap HILMI mengisahkan ucapan Abū Ghiyāṡ.

 

HILMI menuturkan bahwa istri Abū Ghiyāṡ sempat mengingatkan kondisi keluarga mereka yang kekurangan makanan, pakaian, dan penghidupan.

 

“Akan tetapi, kemiskinan tidak dijadikan alasan untuk mengkhianati amanah. Pada hari ketiga, Abū Ghiyāṡ memanggil pemilik harta dan mengembalikan seluruh kantong berisi seribu dinar dalam keadaan utuh,” katanya.

 

"Ambillah kantongmu, dan biarkan aku dapat tidur dengan tenang pada malam hari," sitat HILMI dari riwayat Abū Ghiyāṡ.

 

Kejujuran itu justru mengubah jalan cerita, lanjut HILMI, setelah memastikan seluruh isi kantong masih utuh, saudagar Khurasan menjelaskan bahwa ayahnya pernah berwasiat agar sepertiga hartanya diberikan kepada orang yang paling layak menerimanya.

 

Menurutnya, lanjut HILMI, setelah menyaksikan kemiskinan sekaligus kejujuran Abū Ghiyāṡ, tidak ada orang yang lebih pantas menerima seribu dinar tersebut selain dirinya.

 

"Uang yang semula wajib dikembalikan berubah menjadi pemberian yang halal karena kejujuran telah menggerakkan hati pemilik harta untuk bersedekah," jelasnya.

 

HILMI menilai, kisah itu memperlihatkan bahwa ketakwaan bukan hanya melahirkan kemuliaan pribadi, tetapi juga mampu menggerakkan orang lain untuk menghadirkan kemaslahatan yang lebih luas. “Kejujuran menjadi sebab lahirnya keberkahan yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya,” lugasnya.

 

"Abū Ghiyāṡ mengajarkan bahwa kemiskinan tidak pernah menjadi pembenaran untuk berkhianat, sedangkan kekayaan menemukan maknanya ketika diberikan kepada orang yang tepat," simpulnya.

 

Pada akhirnya, HILMI menegaskan bahwa sejarah peradaban Islam menunjukkan lahirnya ilmu besar selalu ditopang oleh manusia-manusia yang menjaga amanah sebelum menghasilkan karya-karya agung.

 

“Karena itu, membangun ekosistem ilmu tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas pendidikan, tetapi juga harus menumbuhkan karakter takwa, jujur, amanah, dan gemar berbagi agar ilmu benar-benar menjadi jalan lahirnya peradaban,” pesannya.

 

"Peradaban yang besar lahir ketika ketakwaan menjadi fondasi bagi tumbuhnya ilmu pengetahuan," pungkasnya.[] Rere

Opini

×
Berita Terbaru Update