TintaSiyasi.id -- Ungkapan bahwa masa depan bangsa ada di tangan generasi muda, kini diuji oleh kenyataan yang kian getir. Bayang-bayang narkoba terus mengintai, mengepung, dan merenggut potensi pemuda dari berbagai penjuru.
Laporan Satresnarkoba Polresta Bogor Kota menjadi bukti nyata betapa daruratnya ancaman ini. Dalam kurun waktu Mei hingga Juli saja, sebanyak 61 kasus peredaran narkoba berhasil dibongkar di Kota Bogor dengan 68 pengedar yang diamankan. Barang bukti yang disita sungguh mengerikan, yaitu 328,82 gram ganja, 252,75 gram sabu, 1.276,59 gram tembakau sintetis, 198 gram biang sintetis, 870 butir psikotropika, hingga 212.782 butir obat keras (bogor.viva.co.id, 2026). Modus yang digunakan pun kian rapi, dimana para pengedar memanfaatkan jasa ekspedisi dengan mengelabui petugas, menyamarkan paket barang haram tersebut sebagai suku cadang atau spare part kendaraan.
Tidak hanya di wilayah Bogor, kasus ini terjadi juga di banyak daerah di Indonesia. Seperti di Jakarta, Bareskrim Polri berhasil membongkar tempat produksi narkotika jenis vape Etomidate di Kemang, Jakarta Selatan, sekaligus meringkus tiga tersangkanya (news.okezone.com, 2026). Di Lampung, Polisi menangkap seorang target operasi peredaran narkoba sekaligus tangan kanan bandar besar dalam penggerebekannya. (detik.com, 2026).
Ancaman ini tidak sekadar berdampak pada angka kriminalitas, melainkan langsung menghancurkan fondasi fisik, kognitif, dan mental generasi muda. Ketika usia produktif terpapar zat adiktif, kreativitas dan daya kritis mereka lumpuh, digantikan oleh kebergantungan yang merusak masa depan. Penindakkan hukum dengan menangkap pengedar atau menggulung bandar tidak akan pernah cukup selama pemerintah menutup mata terhadap akar masalah yang membakar habis daya tahan masyarakat.
Mengapa generasi ini banyak yang memakai narkoba? Mengapa begitu banyak yang tergiur menjadi pengedar?
Di satu sisi, beratnya impitan hidup yang berkolaborasi dengan menipisnya nilai keimanan, melahirkan individu-individu yang kehilangan arah. Narkoba kemudian dijadikan pelarian instan dari depresi dan tekanan sosial. Di sisi lain, sempitnya lapangan pekerjaan dan impitan ekonomi mendesak sebagian orang untuk menghalalkan segala cara demi sekadar bertahan hidup dan mendapatkan cuan, termasuk menjajakan racun kepada generasi sesamanya.
Akar dari seluruh kekacauan ini tak lain adalah sistem kapitalisme. Sistem yang mengagungkan materi ini telah melahirkan tata kehidupan yang serba sulit, individualistis, dan hampa dari keimanan. Penguasa pun bertindak sebatas pembuat aturan dan regulator yang menjamin kelancaran roda ekonomi pasar bebas, bukan sebagai pengurus (ra'in) yang bertanggung jawab penuh atas seluruh kebutuhan dasar rakyatnya.
Di samping itu, ketiadaan sanksi hukum yang cukup tegas untuk menimbulkan efek jera, peredaran barang haram ini terus berulang bagai lingkaran setan. Berharap pada sistem kapitalis untuk menyelesaikan masalah narkoba adalah sebuah kesia-siaan karena sistem inilah yang menyuburkan tanah tempat narkoba berkembang biak.
Generasi saat ini tidak bisa terus dibiarkan hidup dalam ketakutan dan kelemahan. Solusi hakiki hanya dapat dihadirkan ketika akar masalah diselesaikan secara mendasar. Sistem Islam dengan penerapan syariat Islamnya secara kaffah menghadirkan tatanan kehidupan yang ideal. Penerapan syariat Islam mendidik generasi sejak dini melalui pendidikan berbasis akidah untuk membangun mentalitas tangguh. Pemahaman akan rasa takut kepada Allah ini membuat individu tidak mudah putus asa, apalagi menjadikan narkoba sebagai pelarian hidup.
Dalam sistem Islam, negara mengelola sumber daya alam secara mandiri dan adil guna membuka lapangan kerja yang luas bagi seluruh rakyatnya. Penjaminan kesejahteraan ini mencegah rakyat terdesak ekonomi hingga menghalalkan segala cara seperti menjadi pengedar narkoba. Sistem Islam menerapkan sanksi ta'zir yang sangat tegas hingga hukuman mati bagi produsen dan bandar narkoba. Ketegasan penegakkan hukum ini efektif memberikan efek jera yang nyata serta memutus rantai peredaran barang haram hingga ke akar-akarnya.
Oleh karena itu, sinergi antara akidah yang kokoh, ekonomi yang adil, dan hukum yang tegas melahirkan lingkungan sosial yang saling menjaga dalam kebaikan. Kondisi ini membentuk masyarakat yang kokoh dan berjiwa pemimpin, sehingga tidak lagi membutuhkan narkoba untuk melarikan diri dari kenyataan.
Oleh: Sri Mellia Marinda
Aktivis Muslimah