TintaSiyasi.id -- Gen Z, generasi yang tumbuh di tengah perkembangan internet, dikenal melek digital, kreatif, dan adaptif. Namun, di balik citra itu, ada kenyataan yang tak bisa diabaikan. Banyak tekanan yang mereka hadapi, baik secara sosial maupun ekonomi. Mampuhkah mereka bertahan dan tak salah arah?
Ekonomi Sulit, Hidup Makin Hedonis
Di tengah tekanan ekomoni saat ini, hampir setengah Gen Z (48%) dan milenial (46%) mengaku tidak merasa aman secara finansial. Sebanyak 52% bahkan mengaku hidup dari gaji ke gaji, sementara 37% kesulitan memenuhi biaya hidup setiap tahun. Sedangkan 40% Gen Z dan 34% milenial mengaku stres atau cemas sepanjang waktu. (Kompas.com, 19-02-2026)
Ironisnya, di tengah kondisi tersebut, budaya healing, little treat, self-reward, dan gaya hidup justru semakin populer. Hal ini dianggap sebagai kebutuhan emosional, bukan sekadar kemewahan. Dianggap sebagai cara memberikan penghargaan kepada diri sendiri untuk menjaga kewarasan.
Ketika self-reward menjadi mekanisme utama untuk mengatasi tekanan hidup, konsumsi tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan. Ia berubah menjadi pelarian. Algoritma media sosial pun turut andil memengaruhi budaya konsumtif Gen Z. Dari sinilah FOMO (Fear of missing out) tumbuh. Hidup menjadi perlombaan mengikuti trend bukan untuk memenuhi kebutuhan. Jadi, persoalannya bukan hanya Gen Z tidak mampu mengelola uang, tetapi mereka hidup dalam ekosistem yang terus-menerus mendorong konsumsif.
Krisi Tujuan Hidup
Dalam sistem yang menjadikan motif ekonomi sebagai penggerak utama, manusia ditempatkan sebagai konsumen. Ketika punya uang, bisa checkout, dan mampu mengikuti trend menjadi standar kebahagiaan. Di balik itu semua, ada persoalan yang jauh lebih mendasar daripada tekanan ekonomi dan budaya konsumsif, yakni Gen Z krisis tujuan hidup.
Ketika seseorang tidak memahami untuk apa ia hidup, maka mudah baginya terbawa arus, dan menjadikan kesenangan dunia sebagai tujuannya. Hidup hanya mengejar kepuasan yang fana, jika tidak sesuai harapan muncul perasaan gagal, stres, hingga depresi berujung bunuh diri. Inilah buah dari sistem yang memisahkan agama dari kehidupan (sekularisme).
Islam Memberikan Jalan Keluar
Dalam pandangan Islam, manusia diciptakan bukan sekadar mengejar kenikmatan dunia. Allah SWT berfirman dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 56, bahwa Allah tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. Ayat ini memberikan jawaban mendasar tentang tujuan hidup. Semua aktivitas di dunia bukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan fisik dan naluri, tetapi menjadi sarana ibadah kepada Allah SWT.
Persoalan ekonomi sulit tetapi hidup makin konsumtif merupakan masalah sistemik akibat penerapan sistem ekonomi kapitalisme. Solusinya pun tidak cukup dengan himbauan individual seperti jangan boros, kurangi healing, dan rajin menabung. Bukan demikian, tetapi negara mengambil peran bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyat dengan menerapkan sistem ekonomi Islam. Karena kepala negara adalah pelayanan rakyat yang akan dimintai pertanggungjawaban atas pengurusannya.
Sistem ekonomi Islam menjamin kebutuhan dasar seluruh rakyat melalui pengelolaan SDA yang berlimpah. Sehingga urusan sandang, pangan, papan, kesehatan dan keamanan mudah didapatkan. Negara juga memastikan lapangan kerja yang layak bagi setiap laki-laki, sehingga rakyat, termasuk Gen Z tidak akan berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan ekonomi.
Selain itu, negara akan menutup celah hedonisme dengan menerapkan kurikulum pendidikan Islam yang membentuk pola pikir dan pola sikap Islam. Dengan ini, gaya hidup sederhana akan melekat pada generasi. Orientasi hidup bukan mengejar kesenangan dunia, tetapi menyiapkan bekal terbaik untuk kehidupan abadi di akhirat.
Negara juga tidak akan membiarkan rakyatnya dibombardir konten yang merusak pola pikir dan perilaku. Dalam sistem Islam, media memiliki peran strategis dalam membentuk opini publik. Sarana edukasi untuk meningkatkan ketakwaan masyarakat. Bukan sekadar mengejar engagement dan keuntungan dari konsumsi masyarakat.
Dengan demikian, Gen Z tidak akan sendiri menanggung tekanan kehidupan. Dalam sistem Islam, Gen Z mendapatkan jaminan kesejahteraan sekaligus menemukan tujuan hidupnya. Wallahu a'lam bishshawab.[]
Oleh: Eni Imami, S.Si., S.Pd.
(Pendidik dan Pegiat Literasi)