Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Gen Z Terhimpit: Antara Tekanan Ekonomi, Budaya Hedonis, dan Krisis Tujuan Hidup

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 23:10 WIB Last Updated 2026-08-29T16:11:10Z

TintaSiyasi.id -- Gen Z atau Generasi Z hidup di era yang menawarkan begitu banyak pilihan. Mulai dari teknologi yang berkembang, ketersediaan informasi yang sangat luas dan bebas, alternative pekerjaan yg bervariasi. Akan tetapi dibalik semua kemudahan hidup yang didapati Gen Z tidak dipungkiri juga bahwa Gen Z menghadapi tekanan serius dalam hal ekonomi dan social yang berat.

Merujuk pada Survei Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey, bahwasannya lebih dari 48% Gen Z menyatakan tidak merasa aman secara finansial. Jumlah ini meningkat 30% disbanding tahun lalu. Biaya hidup menjadi salah satu persoalan yang menjadi beban bagi Gen Z.

Kondisi ini menunjukkan situasi yang bertentangan, satu sisi, Gen Z dibebankan untuk memiliki kemandirian dalam hal finansial, dengan bekerja, jenjang karir, saving money, menyiapkan masa mendatang. Sedangkan disisi lain, biaya hidup semakin tinggi sehingga semakin sulit untuk mencapai kestabilan finansial. Tetapi, dibalik fenomena ini tidak menyurutkan konsumsi. Gen Z memiliki budaya yang juga sebagai sebuah fenomena hari ini mulai dari self-reward, healing, shopping untuk bersenang-senang. Setelah bekerja dengan sangat keras, setelahnya aka nada self-reward atau hadiah bagi diri sendiri. Maka ketika self-reward tidak memiliki ukuran yang jelas justru akan berakhir menjadi masalah baru.

Di tengah tekanan ekonomi, alokasi belanja Gen Z untuk self-reward, healing, dan gaya hidup justru terus meningkat karena dianggap kebutuhan emosional, bukan sekadar kemewahan. Sehingga tidak bisa dikatakan bahwa Gen Z tidak cukup pandai dalam mengatur keuangan. Karena ini bukan hanya tentang masalah individual saja tetapi juga meliputi permasalahan yang struktural.

Sistem Kapitalisme menciptakan tekanan ekonomi yang menghimpit Gen Z di mana biaya hidup terus naik sementara gaji stagnan. Dalam sistem hidup ala kapitalisme banyak hal memerlukan biaya mulai dari biaya pendidikan, rumah atau hunian lain, akses tranfortasi, hingga biaya kesehatan yang semuanya dibebankan kepada individu. Negara lepas tangan dari kewajiban menjamin kebutuhan dasar, sehingga generasi muda berjuang sendiri. Negara tidak lagi memberikan porsi penuh sebagai penanggung jawab kebutuhan primer rakyat. 

Tekanan ekonomi itu juga diperparah oleh gaya hidup Sekuler-Liberal yang menjadikan self-reward, healing, dan konsumsi hedonis sebagai "solusi" pelarian. Memiliki gadget terbaru, mengunjungi tempat viral serta menjalani kehidupan dengan standar menyenangkan ala barat. Media sosial juga terus mencekoki generasi dengan trend popular yang memicu FOMO dan budaya belanja impulsif. Trend berganti setiap waktu dan cepat. Inovasi berbagai macam produk baru ditawarkan, pempengaruh bersliweran dilayar kaca gawai untuk menarik pembeli.

Aktivitas berbelanja tidak lagi hanya dianggap sebagai sekadar aktivitas ekonomi biasa. Ia dianggap sebagai wadah untuk mendapat pengakuan, kesenangan, hingga pada tahap mendapatkan identitas diri. Pada dasarnya manusia tidak akan pernah merasa cukup, satu keinginan terpenuhi maka akan selalu muncul keinginan lainnya. Maka setelah selesai satu standar akan muncul standar lain begitu seterusnya. Hingga pada tahap manusia dikejar oleh trend dan standar social. Pernyataan tersebut benar. Deloitte melaporkan bahwa sekitar 89% Generasi Z menganggap rasa memiliki tujuan atau sense of purpose dalam pekerjaan sangat penting untuk kebahagiaan dan kesehatan mental mereka di tempat kerja. 

Hal ini menunjukkan bahwa Gen Z tidak hanya bekerja untuk mencari uang tetapi juga mencari makna. Di balik itu semua, ada krisis yang lebih dalam, yakni Gen Z tidak memahami tujuan hidupnya. Sehingga, kebahagiaan diukur dari kenikmatan materi sesaat, bukan dari ridha Allah dan kemuliaan Islam. Sehingga Gen Z tidak cukup hanya dengan mendapatkan pemahaman terkait aktivitas ekonomi tetapi juga memerlukan pandangan hidup yang benar. 

Negara Khilafah menjamin kebutuhan dasar seluruh rakyat melalui pengelolaan SDA dan memastikan lapangan kerja yang layak bagi setiap laki-laki, sehingga rakyat, termasuk Gen Z tidak akan berjuang sendiri. Setiap kebutuhan dasar rakyat akan ditanggung oleh negara melalui pos-pos Baitul Mal. Seperti memastikan setiap rakyat memiliki hunian yang layak, pendidikan, kesehatan, air, hingga listrik semuanya gratis. Menyediakan juga lapangan pekerjaan yang layak baik beban kerja dan bayarannya yang layak. 

Islam menutup pintu gaya hidup hedonis dan melindungi generasi dari paparan konten merusak seperti sekularisme-kapitalisme dan turunannya. Media dalam khilafah akan diarahkan untuk edukasi dan meningkatkan ketakwaan rakyat. Rakyat akan dijaga dari pengaruh buruk yang datang dari luar. Sehingga akan menutup celah-celah yang dapat menghantarkan rakyat termasuk Gen Z ke dalam lembah hedonism ala sekuler.

Islam membangun paradigma yang benar tentang hakikat hidup manusia, yiatu untuk beribadah kepada Allah sebagaimana dalam Al-Quran

 وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ۝
Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat: 56). Dengan akidah yang kokoh, generasi akan memiliki visi sebagai pembangun peradaban Islam.

Oleh: Kasmawati, S.Pd.
(Aktivis Muslimah)

Opini

×
Berita Terbaru Update