Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Dompet Tipis, Healing Manis: Kapitalisme Ubah Galau Jadi Bisnis

Jumat, 28 Agustus 2026 | 20:32 WIB Last Updated 2026-08-28T13:32:04Z

Tintasiyasi.id.com -- Gen Z hari ini bukan cuma dituntut punya ijazah, skill, dan ambisi, tetapi juga harus kuat mental, rekening aman, produktif, dan kalau capek tinggal healing. Masalahnya, hidup tak semanis konten motivasi: harga naik, persaingan kerja ketat, penghasilan belum tentu ikut naik.

Ironisnya, saat tertekan, Gen Z malah dicap lemah atau boros. Jangan-jangan bukan Gen Z yang gagal, tetapi kapitalisme yang membuat hidup berat lalu menawarkan “healing” sebagai pelarian.

Dompet Tipis, Healing Jadi Solusi

Tekanan ekonomi memang nyata. Kompas.com (12/08/2026), mengulas dilema Gen Z antara gaji, menabung, dan menikmati hidup melalui self-reward serta healing. Sebelumnya, Kompas.com (3/05/2026) menyoroti Gen Z yang menghadapi tekanan ekonomi sekaligus tuntutan kedewasaan finansial.

Survei Deloitte menunjukkan lebih dari 48 persen Gen Z mengaku tidak merasa aman secara finansial. Biaya hidup menjadi salah satu kekhawatiran utama.

Namun di tengah dompet yang tertekan, self-reward, healing, dan gaya hidup tetap diminati. Sebagian bahkan menganggapnya sebagai kebutuhan emosional untuk menghadapi tekanan hidup.

Sekilas kontradiktif: dompet tipis, tetapi healing jalan terus. Namun justru di sinilah kapitalisme bekerja. Ketika tekanan hidup meningkat, pasar datang menawarkan “kebahagiaan” dalam berbagai bentuk.

Stres? Healing.
Capek? Self-reward.
Sedih? Shopping.
Merasa tertinggal? Ikuti tren.
Masalahnya dibuat sistem, galaunya dipanen pasar, lalu “obatnya” dijual kembali.

Tak Sekadar Soal Pandai Mengatur Uang

Persoalan Gen Z tidak cukup diselesaikan dengan nasihat financial literacy. Apa gunanya mengajarkan anak muda berhemat jika biaya hidup meningkat sementara pekerjaan layak tidak otomatis tersedia?

Kapitalisme menjadikan keuntungan sebagai penggerak utama ekonomi. Banyak kebutuhan rakyat diserahkan pada mekanisme pasar. Ketika hidup makin berat, individu justru didorong menyelesaikannya sendiri.

“Upgrade skill.”
“Bangun personal branding.”
“Harus lebih produktif.”
Nasihat itu tidak sepenuhnya salah. Namun tanpa membongkar sistemnya, Gen Z justru diarahkan beradaptasi dengan masalah yang diciptakan sistem.

Berhasil dianggap prestasi pribadi. Gagal dianggap kurang usaha. Padahal manusia bukan mesin produksi.

Ketika Galau Bisa Jadi Cuan

Tekanan ekonomi kemudian bertemu sekularisme-liberalisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Ukuran sukses pun bergeser: gaji tinggi, barang bermerek, liburan, followers, dan pengakuan manusia.

Media sosial memperparahnya. Setiap hari Gen Z disuguhi standar hidup yang terus naik. FOMO tumbuh subur.
Hari ini gadget. Besok fashion. Lusa tempat nongkrong. Setelah itu destinasi wisata. Tidak pernah selesai.

Dalam kapitalisme, konsumen ideal adalah konsumen yang tidak pernah merasa cukup. Selalu ada produk baru untuk memenuhi keinginan yang terus diciptakan.
Maka, galau pun bisa jadi cuan.

Merasa kurang? Belanja.
Merasa tertinggal? Upgrade.
Merasa lelah? Healing.
Merasa tidak bahagia? Cari pengalaman baru.

Lebih dalam lagi, muncul krisis makna. Ketika agama disingkirkan dari pengaturan kehidupan, manusia kehilangan jawaban tentang untuk apa ia hidup. Kesenangan dunia akhirnya dijadikan ukuran kebahagiaan.

Padahal Allah SWT berfirman:
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Manusia bukan diciptakan untuk menjadi konsumen. Manusia diciptakan sebagai hamba Allah.

Islam Solusi Hakiki 

Islam tidak berhenti pada nasihat, “Jangan boros.” Islam membenahi individu sekaligus sistemnya.
Dalam Islam, negara adalah ra'in, pengurus urusan rakyat. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Imam adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, negara wajib memastikan kebutuhan dasar rakyat terpenuhi. Sumber daya alam yang merupakan kepemilikan umum dikelola untuk kemaslahatan rakyat, bukan menjadi ladang akumulasi kekayaan segelintir pemilik modal.

Negara akan menciptakan kondisi agar setiap laki-laki yang mampu bekerja memperoleh pekerjaan layak untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Di sinilah perbedaannya: kapitalisme menuntut rakyat menghadapi hidup sendiri, sedangkan Islam mewajibkan negara hadir mengurus rakyat.

Islam juga tidak membiarkan generasi dibentuk pasar dan algoritma media sosial. Pendidikan dan media diarahkan untuk membangun kepribadian Islam dan memperkuat akidah. Media tidak dibiarkan sekadar menjadi mesin hiburan dan bisnis, tetapi diarahkan untuk mencerdaskan umat, menyebarkan informasi benar, dan membangun kesadaran Islam.

Dunia boleh dinikmati, tetapi bukan tujuan hidup. Gen Z boleh sukses, punya karier, dan menikmati rezeki halal. Namun semuanya harus menjadi sarana menuju ridha Allah.
Dengan akidah kokoh, generasi tidak lagi sibuk mengejar validasi likes, followers, atau barang. Mereka punya visi lebih besar: menjadi generasi pembangun peradaban Islam.

Karena itu, problem Gen Z tidak cukup dijawab dengan “lebih hemat”, “lebih produktif”, atau “lebih kuat”. Yang harus dibongkar adalah sistem yang membuat hidup terhimpit dan paradigma yang membuat kebahagiaan diukur dari konsumsi.

Gen Z bukan butuh healing untuk melupakan luka, tetapi Islam untuk menemukan arah hidup. Wallahu'alam bishshawwab.[]

Oleh: Zahida Ar-Rosyida
(Aktivis Muslimah Banua)

Opini

×
Berita Terbaru Update