TintaSiyasi.id -- Direktur International Muslim Lawyers Alliance (IMLA) Dr. Chandra Purna Irawan, S.H., M.H. menegaskan bahwa fenomena imigran dari Maroko ke Kota Ceuta, Spanyol, membuktikan sejarah panjang sering kali lebih menentukan kedaulatan suatu wilayah dibandingkan garis pada peta.
"Fenomena imigran dari
Maroko ke Kota Ceuta membuktikan bahwa batas geografis tidak selalu sama dengan
batas politik. Dalam hubungan internasional, sejarah sering kali lebih
menentukan daripada peta," ucapnya kepada TintaSiyasi.ID pada Sabtu
(01/08/2026)
Candra menjelaskan, Ceuta yang
merupakan kawasan otonom Spanyol yang berada di utara Afrika itu menjadi
panggung unik bahwa batas geografis tidak selalu sama dengan batas politik.
Adapun, ia memandang keberadaan
wilayah Spanyol di tanah Afrika ini tak lepas dari rekam jejak sejarah panjang
di kawasan Selat Gibraltar.
“Bermula dari penaklukan Portugal
pada tahun 1415, Ceuta kemudian beralih di bawah pemerintahan Spanyol hingga
penduduknya memilih untuk tetap setia kepada Kerajaan Spanyol saat Portugal
merdeka pada 1640,” jelasnya.
"Status tersebut kemudian
diakui melalui Perjanjian Lisbon tahun 1668. Sejak saat itu, Ceuta terus
menjadi bagian dari Spanyol hingga sekarang," ungkapnya.
"Karena wilayah ini terpisah
dari daratan utama Spanyol oleh laut dan dikelilingi wilayah Maroko, Ceuta
dikategorikan sebagai exclave Spanyol, yaitu wilayah suatu negara yang
terpisah dari wilayah utamanya," paparnya menambahkan.
Meski demikian, ia menjelaskan
sejak meraih kemerdekaan pada tahun 1956, Maroko terus mengklaim Ceuta sebagai
bagian dari kedaulatannya, namun Spanyol menolak tegas dan mempertahankannya
sebagai wilayah negaranya.
“Akibatnya, status Ceuta menjadi
masih menjadi salah satu isu sengketa kedaulatan antara Spanyol dan Maroko,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menerangkan
bahwasanya tidak hanya Ceuta, Spanyol juga menguasai kota otonom Melilla di
Afrika Utara yang memiliki rekam jejak sejarah dan status sengketa serupa.
“Keberadaan kedua wilayah ini
menciptakan fenomena unik, di mana gelombang migrasi yang diberitakan media
sejatinya bukanlah perjalanan menyeberangi benua dari Afrika ke Eropa,
melainkan perpindahan di dalam daratan Afrika menuju wilayah berdaulat Spanyol,”
bebernya.
"Karena itu, setiap kali dunia melihat ribuan migran berenang atau menggunakan perahu menuju Ceuta, sesungguhnya mereka tidak sedang menyeberang dari Afrika ke Eropa. Mereka masih berada di Afrika, tetapi sedang berusaha memasuki wilayah Uni Eropa yang kebetulan terletak di benua Afrika," pungkasnya.[] Taufan