Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Direktur IMLA: Fenomena Imigran Ceuta Buktikan Batas Geografis Tak Selalu Sama dengan Batas Politik

Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:36 WIB Last Updated 2026-08-11T03:36:50Z

TintaSiyasi.id -- Direktur International Muslim Lawyers Alliance (IMLA) Dr. Chandra Purna Irawan, S.H., M.H. menegaskan bahwa fenomena imigran dari Maroko ke Kota Ceuta, Spanyol, membuktikan sejarah panjang sering kali lebih menentukan kedaulatan suatu wilayah dibandingkan garis pada peta.

 

"Fenomena imigran dari Maroko ke Kota Ceuta membuktikan bahwa batas geografis tidak selalu sama dengan batas politik. Dalam hubungan internasional, sejarah sering kali lebih menentukan daripada peta," ucapnya kepada TintaSiyasi.ID pada Sabtu (01/08/2026)

 

Candra menjelaskan, Ceuta yang merupakan kawasan otonom Spanyol yang berada di utara Afrika itu menjadi panggung unik bahwa batas geografis tidak selalu sama dengan batas politik.

 

Adapun, ia memandang keberadaan wilayah Spanyol di tanah Afrika ini tak lepas dari rekam jejak sejarah panjang di kawasan Selat Gibraltar.

 

“Bermula dari penaklukan Portugal pada tahun 1415, Ceuta kemudian beralih di bawah pemerintahan Spanyol hingga penduduknya memilih untuk tetap setia kepada Kerajaan Spanyol saat Portugal merdeka pada 1640,” jelasnya.

 

"Status tersebut kemudian diakui melalui Perjanjian Lisbon tahun 1668. Sejak saat itu, Ceuta terus menjadi bagian dari Spanyol hingga sekarang," ungkapnya.

 

"Karena wilayah ini terpisah dari daratan utama Spanyol oleh laut dan dikelilingi wilayah Maroko, Ceuta dikategorikan sebagai exclave Spanyol, yaitu wilayah suatu negara yang terpisah dari wilayah utamanya," paparnya menambahkan.

 

Meski demikian, ia menjelaskan sejak meraih kemerdekaan pada tahun 1956, Maroko terus mengklaim Ceuta sebagai bagian dari kedaulatannya, namun Spanyol menolak tegas dan mempertahankannya sebagai wilayah negaranya.

 

“Akibatnya, status Ceuta menjadi masih menjadi salah satu isu sengketa kedaulatan antara Spanyol dan Maroko,” ungkapnya.

 

Lebih lanjut, ia menerangkan bahwasanya tidak hanya Ceuta, Spanyol juga menguasai kota otonom Melilla di Afrika Utara yang memiliki rekam jejak sejarah dan status sengketa serupa.

 

“Keberadaan kedua wilayah ini menciptakan fenomena unik, di mana gelombang migrasi yang diberitakan media sejatinya bukanlah perjalanan menyeberangi benua dari Afrika ke Eropa, melainkan perpindahan di dalam daratan Afrika menuju wilayah berdaulat Spanyol,” bebernya.

 

"Karena itu, setiap kali dunia melihat ribuan migran berenang atau menggunakan perahu menuju Ceuta, sesungguhnya mereka tidak sedang menyeberang dari Afrika ke Eropa. Mereka masih berada di Afrika, tetapi sedang berusaha memasuki wilayah Uni Eropa yang kebetulan terletak di benua Afrika," pungkasnya.[] Taufan 


Opini

×
Berita Terbaru Update