TintaSiyasi.id -- Data PBB mencatat tragedi yang terus berulang di Tepi Barat termasuk Yerusalem Timur. Antara Januari 2024 hingga Juli 2026 ada sekitar 174 anak Palestina yang tewas. Artinya, rata-rata lebih dari satu anak meninggal setiap minggu selama periode 2,5 tahun tersebut. Anak-anak yang seharusnya berada di bangku sekolah justru menjadi korban dari eskalasi kekerasan yang tak kunjung usai.
Dampaknya tidak berhenti pada korban jiwa. Lebih dari 1.500 anak Palestina juga mengalami luka-luka dalam rentang waktu yang sama. Hampir separuh dari mereka terluka akibat peluru tajam. Banyak dari anak-anak ini harus menjalani perawatan panjang, mengalami cacat permanen, dan trauma psikologis yang akan membekas seumur hidup. Sekolah, rumah sakit, dan permukiman warga yang seharusnya jadi tempat aman kini tak lagi steril dari kekerasan.
Selain korban tewas dan luka, ribuan anak juga menghadapi realitas penahanan. Hingga Juli 2026 tercatat 355 anak Palestina dari Tepi Barat sedang ditahan dalam tahanan militer Israel. Mereka ditahan tanpa proses hukum yang adil, jauh dari keluarga, dan rawan mengalami intimidasi. (AntaraNews.com, 15/08/2026)
Data ini menunjukkan bahwa anak-anak Palestina di Tepi Barat hidup dalam situasi yang sangat mencekam. Mereka menghadapi ancaman langsung terhadap jiwa, tubuh dan kebebasan mereka setiap hari.
Kejahatan Zionis Israel terhadap anak-anak Palestina terbukti sangat biadab dan menjijikkan, mereka merenggut ribuan nyawa tak berdosa, melukai, dan membuat cacat permanen pada tubuh-tubuh kecil yang seharusnya tumbuh dalam rasa aman dan penuh kasih sayang.
Serangan itu tidak hanya menghancurkan rumah-rumah, sekolah, rumah sakit, tetapi juga trauma mendalam, rasa takut berkepanjangan, serta penderitaan psikologis yang merusak masa depan generasi Palestina. Anak-anak dipaksa hidup dalam reruntuhan, kehilangan orang tua, kelaparan, dan tanpa akses pendidikan maupun layanan kesehatan. Sungguh ini adalah bentuk nyata dari kezaliman kolektif dan pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia serta hukum internasional.
Sungguh Zionis dengan sengaja meningkatkan teror, ribuan serangan, pengusiran, perampasan, dan genosida dalam senyap untuk menguasai Tepi Barat sebagaimana mereka berhasil menguasai Gaza. Penangkapan massal, blokade ekonomi, dan penggunaan kekuatan militer secara brutal dengan menciptakan rasa takut yang sistematis agar warga Palestina terpaksa meninggalkan tanahnya. Tujuannya jelas yaitu memecah wilayah Tepi Barat, memutus keterkaitan antar kampung, dan merampas tanah sedikit demi sedikit hingga Palestina kehilangan ruang hidup dan kedaulatan, persis seperti skenario penghancuran yang sebelumnya dijalankan di Gaza.
Namun, yang tak kalah memilukan adalah respons atau lebih tepatnya ketidakpedulian dari dunia internasional dan para penguasa di negeri-negeri Muslim. Suara yang seharusnya lantang membela kebenaran justru bungkam. Tangan yang seharusnya terulur untuk menolong justru terlipat diam. Kejahatan terbesar yang terjadi di depan mata dunia ternyata bukan pembunuhan itu sendiri, melainkan diamnya mereka yang berkuasa ketika pembunuhan sedang berlangsung.
Kekejaman ini terasa semakin pahit ketika dunia internasional dan para penguasa negeri-negeri Muslim justru bungkam. Tidak ada tindakan nyata, tidak ada kekuatan yang digerakkan. Diamnya mereka seakan memberi izin agar darah anak-anak terus mengalir.
Sungguh Islam tidak akan membiarkan kezaliman merajalela, terlebih terhadap anak-anak yang lemah dan tak berdaya. Membiarkan anak-anak dibunuh, dilukai, dan dipenjara tanpa ada yang membela bertentangan sepenuhnya dengan syariat Allah. Anak-anak Palestina adalah golongan yang disebut langsung dalam Al-Qur'an sebagai orang-orang tertindas yang wajib dibela:
Mengapa kalian tidak berperang di jalan Allah untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak? (TQS. An-Nisa: 75)
Ukhuwah dan persatuan negeri Muslim adalah kekuatan, sebab penyebab utama kelemahan umat hari ini adalah perpecahan. Jika negeri-negeri Muslim bersatu di atas ikatan ukhuwah islamiah, menutup perbedaan, dan berdiri sebagai satu kekuatan maka tak akan ada kekuatan asing yang berani menginjak-injak umat ini. Penegakan kembali sistem Khilafah yang melindungi umat adalah satu-satunya jalan agar kekuatan umat kembali menyatu, suara menjadi lantang, dan kekejaman musuh dapat dibalas dengan kekuatan yang seimbang.
Seruan jihad untuk membebaskan Palestina wajib terus digaungkan tanpa henti. Partai-partai politik yang berpegang pada akidah Islam harus menjadi garda terdepan menyerukan pengerahan dan pengiriman tentara-tentara Islam ke medan perjuangan sampai kibas penjajah runtuh, Baitul Maqdis kembali ke pangkuan umat Muslim, dan pembebasan Palestina terwujud nyata di muka bumi ini, bukan hanya sekadar menjadi harapan di lisan saja.
Wallahu a'lam bishshawab.[]
Sandrina Luftia
Aktivis Muslimah