Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Menerima Ketentuan Allah dengan Sepenuhnya

Minggu, 05 Juli 2026 | 12:35 WIB Last Updated 2026-07-05T05:35:12Z
TintaSiyasi.id -- Tadabbur QS. An-Nisā' Ayat 65 : Jalan Menuju Kesempurnaan Iman

Salah satu ukuran keimanan seorang mukmin bukan hanya terletak pada banyaknya ibadah yang ia lakukan, namun juga pada sejauh mana ia menerima dan tunduk terhadap seluruh ketetapan Allah SWT dan Rasul-Nya. Seorang mukmin sejati tidak hanya menjalankan perintah Allah ketika sesuai dengan keinginannya, tetapi juga rela menerima keputusan syariat meskipun bertentangan dengan hawa nafsunya.

Allah SWT berfirman:
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُوْنَ حَتّٰى يُحَكِّمُوْكَ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوْا فِيْٓ اَنْفُسِهِمْ حَرَجًا 

Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap keputusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An-Nisā' [4]: ​​65)

Ayat ini merupakan salah satu ayat paling tegas tentang hakikat iman yang sesungguhnya.

Kandungan Makna Ayat

Ayat ini diawali dengan sumpah Allah:
"Falā wa rabbika..." (Maka demi Tuhanmu...)

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ketika Allah bersumpah atas sesuatu, berarti hal tersebut memiliki kedudukan yang sangat agung.

Allah menegaskan bahwa seseorang belum mencapai iman yang sempurna sebelum memenuhi tiga syarat utama.
1. Menjadikan Rasulullah sebagai Hakim
Iman menuntut agar seluruh persoalan kehidupan dikembalikan kepada Al-Qur'an dan Sunnah.
Bukan adat,
bukan logika semata,
bukan mayoritas manusia,
Namun wahyu Allah.
Firman Allah:
"...sampai mereka menjadikanmu sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan."
Artinya, hukum Allah berada di atas seluruh hukum buatan manusia.

2. Tidak Ada Penolakan di Dalam Hati
Allah tidak cukup hanya melihat seseorang menerima secara lahiriah.
Yang dinilai adalah isi hati.
"...kemudian mereka tidak merasa keberatan terhadap keputusanmu."
Bisa saja seseorang menjalankan hukum Allah, tetapi di dalam hatinya muncul:
• mengeluh,
• kecewa,
• merasa hukum Allah terlalu berat,
• atau berharap ada hukum lain.
Semua ini menunjukkan belum sempurnanya ketundukan hati.

3. Berserah Diri dengan Sempurna
Penutup ayat berbunyi:
"...wa yusallimū taslīmā."
Artinya:
"Mereka benar-benar menyerahkan diri sepenuhnya."
Inilah Islam yang sebenarnya.
Bukan sekedar kepatuhan secara fisik, tetapi juga:
• akal tunduk,
• hati tunduk,
• keinginan tunduk,
• dan seluruh penyerahan hidup kepada Allah.

Hikmah yang Terkandung dalam Ayat
1. Iman Tidak Cukup dengan Pengakuan
Seseorang mungkin mengaku beriman.
Namun ukuran iman menurut Allah adalah ketaatan terhadap syariat.
Semakin tunduk kepada hukum Allah,
semakin tinggi kualitas imannya.

2. Hawa Nafsu Adalah Musuh Ketundukan
Sebagian besar penolakan terhadap hukum Allah muncul karena hawa nafsu.
Padahal Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.
Allah berfirman:
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu."

3. Ketenangan Hati Lahir dari Ridha kepada Ketentuan Allah
Orang yang menerima keputusan Allah tidak akan terus-menerus hidup dalam kegelisahan.
Ia yakin:
Allah Maha Bijaksana.
Apa yang Allah tetapkan pasti mengandung maslahat meskipun belum dipahami sampai sekarang.

4. Syariat Adalah Rahmat
Seluruh hukum Allah dibangun di atas:
• keadilan,
• kasih sayang,
• hikmah,
• dan kemaslahatan.
Oleh karena itu seorang mukmin tidak boleh merasa syariat dengan santainya.

Penjelasan Beberapa Tafsir
1. Tafsir Ibnu Katsir
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini merupakan dalil bahwa siapa pun yang menolak keputusan Rasulullah ﷺ, baik lahir maupun batin, maka imannya belum sempurna. Iman yang benar menuntut penerimaan sepenuhnya terhadap hukum Allah dan Rasul-Nya.

2. Tafsir Al-Qurthubi
Al-Qurthubi menerangkan bahwa ayat ini menunjukkan tiga tingkatan ketundukan:
• menerima hukum Rasul,
• tidak merasa sempit di dalam hati,
• menyerahkan diri secara total.
Jika salah satu hilang, maka kesempurnaan iman ikut berkurang.

3. Tafsir As-Sa'di
Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa kebahagiaan dunia dan akhirat hanya dapat diraih melalui ketundukan penuh kepada Rasulullah ﷺ. Tidak cukup menaati secara lahiriah; hati pun harus ridha terhadap keputusan syariat.

4. Tafsir Ath-Thabari
Muhammad bin Jarir ath-Thabari menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “tidak merasa disetujui” adalah hilangnya rasa sempit, ragu, dan benci terhadap hukum Allah. Sedangkan “berserah diri sepenuhnya” berarti menerima keputusan itu dengan lapang dada tanpa persetujuan.

Pelajaran Penting bagi Kehidupan
• Jadikan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai pedoman utama dalam setiap persoalan.
• Jangan memilih hukum Allah hanya ketika sesuai dengan kepentingan pribadi.
• Latih hati untuk ridha terhadap setiap keputusan syariat.
• Yakinlah bahwa seluruh ketentuan Allah mengandung hikmah, meskipun tidak selalu dapat segera dipahami.
• Ketundukan kepada Allah bukan tanda kelemahan, melainkan puncak kemuliaan seorang mukmin.

Renungan Sufistik
Seorang salik (penempu jalan Allah) memahami bahwa hakikat kebebasan menuju bukanlah mengikuti semua keinginan diri, melainkan terbebas dari ikatan hawa nafsu. Ketika hati telah ridha kepada keputusan Allah, ia tidak lagi sibuk mempersoalkan mengapa suatu ketentuan terjadi, tetapi lebih fokus mencari hikmah dan memperbaiki diri.

Keridhaan (ridha) merupakan buah dari keyakinan bahwa Allah Maha Mengetahui, Maha Adil, dan Maha Penyayang. Setiap keputusan-Nya adalah wujud kasih sayang-Nya kepada hamba, meskipun terkadang terbungkus dalam ujian atau kesulitan. Orang yang mencapai maqam ridha akan merasakan ketenangan batin, karena ia memandang sepanjang perjalanan hidupnya berada dalam bimbingan Rabb Yang Mahabijaksana.

Penutup
QS. An-Nisā' ayat 65 mengajarkan bahwa iman sejati bukan sekedar pengakuan lisan atau keyakinan di hati, tetapi juga diwujudkan dalam ketundukan total kepada Allah dan Rasul-Nya. Menjadikan wahyu sebagai hakim, menghilangkan keberatan dalam hati, dan menerima seluruh ketetapan Allah dengan penuh kerelaan merupakan tanda kesempurnaan iman. Dari lahirnya pribadi yang kokoh, sabar, dan tenteram, karena ia yakin bahwa setiap keputusan Allah adalah yang paling adil, paling bijaksana, dan paling membawa kebaikan bagi kehidupan dunia maupun akhirat.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Spiritual Motivator Nasional Quantum Spirit)

Opini

×
Berita Terbaru Update