TintaSiyasi.id -- Kerisauan terhadap Rezeki dan Ketakutan kepada Makhluk
Hikmah Dakwah Ideologis-Sufistik dalam Perspektif Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam Kitab At-Tanwir fi Isqath at-Tadbir
Di antara penyakit hati yang paling halus namun paling berbahaya adalah terhijabnya hati dari Allah SWT. Hijab bukan sekadar dosa yang tampak, tetapi segala sesuatu yang membuat hati lebih sibuk memandang selain Allah daripada memandang-Nya. Seorang hamba mungkin rajin beribadah, tetapi jika hatinya dipenuhi kecemasan terhadap dunia dan ketakutan kepada manusia, maka ia belum benar-benar merasakan kemerdekaan ruhani.
Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam At-Tanwir fi Isqath at-Tadbir memberikan peringatan yang sangat mendalam bahwa dua perkara yang paling sering menghijab manusia dari Allah adalah kerisauan terhadap rezeki dan ketakutan terhadap makhluk. Kedua penyakit ini membuat hati kehilangan ketenangan, mengurangi tawakal, dan melemahkan keyakinan kepada Allah sebagai satu-satunya Pengatur kehidupan.
1. Kerisauan terhadap Rezeki: Hijab yang Menggerogoti Tawakal
Allah SWT telah menegaskan bahwa Dialah Pencipta sekaligus Pemberi rezeki bagi seluruh makhluk. Tidak ada seekor burung yang terbang di langit, tidak ada semut yang berjalan di bumi, kecuali telah dijamin rezekinya oleh Allah.
Sebagaimana firman Allah dalam makna QS. Adz-Dzariyat ayat 58:
اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِيْنُ
"Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rezeki, Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh."
Demikian pula dalam makna QS. Hud ayat 6:
۞ وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ
“ Tidak satu pun hewan yang bergerak di atas bumi melainkan dijamin rezekinya oleh Allah. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya.1) Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauhulmahfuz).”
1) Menurut sebagian mufasir, yang dimaksud dengan tempat kediaman adalah dunia dan tempat penyimpanan adalah akhirat. Menurut mufasir lain, maksud tempat kediaman adalah rahim dan tempat penyimpanan adalah tulang sulbi.
"Tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah yang menjamin rezekinya."
Namun ironisnya, manusia sering lebih percaya kepada saldo rekening daripada janji Allah. Mereka menghabiskan waktu untuk mengkhawatirkan masa depan, tetapi sedikit waktu untuk memperkuat keyakinan kepada Dzat Yang menjamin masa depan tersebut.
Ibnu Athaillah mengajarkan bahwa kecemasan terhadap rezeki muncul ketika hati merasa dirinya sebagai pengatur kehidupan. Padahal manusia hanyalah pelaksana ikhtiar, sedangkan Allah adalah Penentu hasil.
Orang yang selalu gelisah tentang rezeki akan mudah:
• kehilangan ketenangan ibadah;
• tergoda mencari penghasilan dengan cara haram;
• iri kepada keberhasilan orang lain;
• mengukur kemuliaan manusia berdasarkan harta;
• sulit bersyukur atas nikmat yang telah dimiliki.
Padahal Rasulullah SAW bersabda bahwa seandainya manusia bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberikan rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung yang pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.
Hadis ini tidak mengajarkan kemalasan. Burung tetap terbang mencari makan. Yang diajarkan adalah ikhtiar tanpa kegelisahan, bekerja tanpa kehilangan ketergantungan kepada Allah.
2. Ketakutan kepada Makhluk: Syirik Khafi yang Melemahkan Jiwa
Hijab kedua adalah rasa takut yang berlebihan kepada manusia.
Takut kehilangan jabatan.
Takut kehilangan pelanggan.
Takut kehilangan atasan.
Takut kepada penguasa.
Takut kepada ancaman manusia.
Takut miskin.
Takut gagal.
Semua ketakutan ini lahir ketika hati memberikan kekuasaan kepada makhluk melebihi yang seharusnya.
Allah mengingatkan dalam makna QS. Ali Imran ayat 175:
اِنَّمَا ذٰلِكُمُ الشَّيْطٰنُ يُخَوِّفُ اَوْلِيَاۤءَهٗۖ فَلَا تَخَافُوْهُمْ وَخَافُوْنِ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
“ Sesungguhnya mereka hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan teman-teman setianya. Oleh karena itu, janganlah takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu orang-orang mukmin.
"Janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian benar-benar beriman."
Ketika seorang mukmin menyadari bahwa seluruh makhluk hanyalah alat dalam kekuasaan Allah, maka rasa takut kepada makhluk akan berubah menjadi rasa hormat yang proporsional, bukan ketundukan hati.
Tidak ada seorang pemimpin yang mampu menghalangi rezeki jika Allah telah menetapkannya.
Tidak ada seorang manusia yang mampu memberi manfaat apabila Allah tidak menghendakinya.
Tidak ada seorang musuh yang mampu mencelakakan tanpa izin Allah.
Inilah makna tauhid yang membebaskan jiwa.
3. Mengapa Dua Penyakit Ini Menjadi Hijab?
Karena keduanya memindahkan pusat ketergantungan hati dari Allah kepada makhluk.
Orang yang risau tentang rezeki sebenarnya sedang menggantungkan ketenangan kepada harta.
Orang yang takut kepada manusia sebenarnya sedang menggantungkan keselamatannya kepada makhluk.
Padahal seorang arif hanya bergantung kepada Allah.
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa tawakal bukan meninggalkan usaha, melainkan memurnikan keyakinan bahwa sebab tidak bekerja sendiri. Sebab hanya berfungsi karena Allah mengizinkannya. Oleh sebab itu, orang yang mengenal Allah akan menggunakan sebab, tetapi tidak menyembah sebab.
4. Perspektif Tasawuf: Isqath at-Tadbir
Judul kitab At-Tanwir fi Isqath at-Tadbir berarti "Pencerahan dalam Melepaskan Sikap Merasa Mengatur."
Bukan berarti manusia tidak boleh membuat rencana, tetapi jangan sampai hati merasa bahwa rencana itulah yang menentukan hasil.
Perencanaan adalah ibadah.
Ketergantungan kepada rencana adalah hijab.
Ikhtiar adalah kewajiban.
Menganggap ikhtiar sebagai penentu mutlak adalah kesalahan.
Ketika hati telah menyerahkan tadbir kepada Allah, lahirlah ketenangan yang luar biasa.
5. Jalan Keluar dari Dua Hijab Ini
Ibnu Athaillah mengajarkan beberapa langkah ruhani:
1. Perkuat keyakinan bahwa Allah telah menjamin rezeki setiap makhluk.
2. Perbanyak zikir agar hati tidak dipenuhi bisikan ketakutan.
3. Terus bekerja dan berikhtiar dengan sungguh-sungguh, tetapi jangan menggantungkan hati kepada pekerjaan.
4. Latih qana'ah dan syukur agar tidak dikuasai rasa kurang.
5. Perbanyak doa dan munajat sehingga hati hanya bergantung kepada Allah.
6. Ingat bahwa semua makhluk adalah hamba Allah yang tidak memiliki kekuasaan mutlak.
Penutup: Kemerdekaan Sejati adalah Ketergantungan kepada Allah
Orang yang bebas dari kerisauan rezeki akan bekerja dengan penuh semangat tanpa diperbudak dunia.
Orang yang bebas dari ketakutan kepada makhluk akan berani menegakkan kebenaran tanpa kehilangan adab.
Inilah pribadi yang dibentuk oleh tauhid dan tasawuf yang lurus: kuat dalam ikhtiar, tenang dalam tawakal, lapang dalam syukur, serta kokoh dalam keberanian karena seluruh harapan dan rasa takutnya hanya tertuju kepada Allah SWT.
Sebagaimana hikmah Ibnu Athaillah mengajarkan, selama hati masih disibukkan oleh kegelisahan terhadap rezeki dan rasa takut kepada makhluk, selama itu pula cahaya ma'rifat sulit memenuhi jiwa. Namun ketika kedua hijab itu tersingkap melalui keyakinan, tawakal, dan penyerahan diri kepada Allah, hati akan dipenuhi cahaya ketenangan, sehingga seorang hamba memandang bahwa tidak ada Pengatur, Penjamin, Pemberi manfaat, maupun Penolak mudarat selain Allah semata. Itulah hakikat kemerdekaan ruhani yang menjadi tujuan perjalanan seorang salik menuju ridha-Nya.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Spiritual Motivator Nasional Quantum Spirit)
