اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْۗ هَلْ مِنْ شُرَكَاۤىِٕكُمْ مَّنْ يَّفْعَلُ مِنْ ذٰلِكُمْ مِّنْ شَيْءٍۗ سُبْحٰنَهٗ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ ࣖ
"Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberi rezeki kepadamu, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu kembali. Adakah di antara apa yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat melakukan sesuatu dari yang demikian itu? Mahasuci Dia dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan."
(QS. Ar-Rum: 40)
Pendahuluan
Salah satu penyakit hati yang paling banyak menggelisahkan manusia adalah ketakutan terhadap rezeki. Banyak orang berani meninggalkan prinsip agama demi mengejar penghasilan. Ada yang rela berbohong, korupsi, menipu, bahkan menggadaikan kehormatan dirinya hanya karena takut miskin.
Padahal Al-Qur'an mengajarkan bahwa Pencipta dan Pemberi Rezeki adalah Zat yang sama, yaitu Allah SWT.
QS. Ar-Rum ayat 40 merupakan salah satu ayat yang menyusun logika tauhid secara sangat sistematis.
Allah menyebut empat perkara besar:
1. Allah menciptakan.
2. Allah memberi rezeki.
3. Allah mematikan.
4. Allah membangkitkan kembali.
Keempatnya merupakan bukti Rububiyah Allah yang tidak dimiliki oleh siapa pun selain-Nya.
Hubungan Erat antara Penciptaan dan Rezeki
Menarik bahwa setelah menyebut penciptaan, Allah langsung menyebut rezeki.
Urutannya bukan tanpa hikmah.
Karena siapa yang menciptakan, Dialah yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan ciptaan-Nya.
Dalam kehidupan sehari-hari manusia saja, seseorang yang membuat sebuah mesin tentu menyediakan bahan bakarnya. Seorang peternak menyediakan makanan ternaknya. Orang tua yang melahirkan anak berkewajiban menafkahinya.
Maka bagaimana mungkin Allah menciptakan miliaran manusia lalu membiarkan mereka tanpa jaminan rezeki?
Inilah logika tauhid yang diajarkan Al-Qur'an.
Tafsir Para Ulama
1. Tafsir Ibnu Katsir
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini merupakan dalil paling kuat bahwa hanya Allah yang berhak disembah.
Karena seluruh proses kehidupan manusia berada di tangan-Nya.
Tidak ada satu makhluk pun yang mampu:
• menciptakan manusia,
• menjamin rezekinya,
• menentukan kematiannya,
• ataupun membangkitkannya kembali.
Oleh sebab itu menyembah selain Allah adalah bentuk ketidaklogisan akal sekaligus penyimpangan tauhid.
2. Tafsir Al-Qurthubi
Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa penyebutan rezeki setelah penciptaan mengandung makna bahwa Allah tidak pernah menciptakan sesuatu secara sia-sia.
Setiap makhluk yang Allah ciptakan telah disiapkan pula jatah kehidupannya.
Rezeki bukan sekadar makanan.
Rezeki meliputi:
• udara,
• air,
• kesehatan,
• ilmu,
• keluarga,
• keamanan,
• kesempatan,
• bahkan hidayah.
3. Tafsir Fakhruddin Ar-Razi
Ar-Razi menjelaskan bahwa manusia sering mengakui Allah sebagai Pencipta, tetapi ketika mencari penghidupan justru lebih takut kepada manusia daripada kepada Allah.
Inilah bentuk lemahnya tauhid.
Padahal manusia hanyalah sebab.
Sedangkan Allah adalah Musabbibul Asbab (Penyebab dari segala sebab).
Perspektif Imam Al-Ghazali
Dalam Ihya' Ulumiddin dan Al-Maqshad al-Asna, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa salah satu nama Allah adalah Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki).
Beliau menerangkan bahwa:
Allah memberi rezeki sebelum seorang hamba mampu memintanya.
Ketika manusia masih berada di dalam rahim, Allah telah:
• menyediakan makanan melalui plasenta,
• menyiapkan air ketuban,
• mengatur detak jantung,
• membentuk organ tubuh,
• menjaga janin selama berbulan-bulan.
Padahal bayi belum pernah berdoa.
Belum pernah bekerja.
Belum pernah beribadah.
Artinya, rezeki mendahului usaha manusia.
Usaha hanyalah sunnatullah.
Sedangkan pemberi rezeki tetap Allah.
Al-Ghazali juga menjelaskan bahwa keyakinan kepada Allah sebagai Ar-Razzaq melahirkan tawakal, bukan kemalasan. Seorang mukmin diperintahkan berikhtiar melalui jalan yang halal, namun hatinya tidak bergantung kepada usaha itu, melainkan kepada Allah yang menjadikan usaha tersebut berbuah.
Pandangan Ibnu Athaillah As-Sakandari
Dalam Al-Hikam, Ibnu Athaillah berkata:
"Istirahatkan dirimu dari mengatur urusan yang telah Allah tanggung untukmu."
Maksudnya bukan berhenti bekerja.
Tetapi jangan menjadikan kecemasan terhadap rezeki menguasai hati.
Karena Allah telah berfirman:
"Aku menciptakanmu."
Kemudian Allah melanjutkan:
"Aku memberimu rezeki."
Jadi penciptaan selalu diiringi jaminan rezeki.
Mengapa Masih Ada Orang Miskin?
Pertanyaan ini sering muncul.
Jawabannya, karena rezeki bukan hanya uang.
Allah membagi rezeki sesuai hikmah-Nya.
Ada yang kaya harta tetapi miskin kesehatan.
Ada yang sederhana hartanya tetapi kaya ilmu, keluarga yang harmonis, ketenangan jiwa, atau keberkahan waktu.
Sebaliknya, ada orang bergelimang kekayaan tetapi hidup dalam kecemasan yang tidak berkesudahan.
Kemiskinan juga dapat menjadi ujian kesabaran, sebagaimana kekayaan menjadi ujian syukur. Keduanya tidak otomatis menunjukkan kemuliaan atau kehinaan seseorang di sisi Allah; yang menjadi ukuran adalah iman, ketakwaan, dan cara menyikapi nikmat maupun ujian.
Pelajaran Tauhid
QS. Ar-Rum ayat 40 mengajarkan bahwa:
• Allah adalah satu-satunya Pencipta.
• Allah adalah satu-satunya Pemberi Rezeki.
• Allah adalah satu-satunya Pemilik kehidupan dan kematian.
• Allah adalah satu-satunya yang membangkitkan manusia pada hari kiamat.
Maka tidak layak manusia menggantungkan harapan mutlak kepada makhluk, apalagi menghalalkan segala cara demi rezeki. Ikhtiar tetap wajib dilakukan, tetapi hasil akhirnya berada di bawah kehendak Allah.
Hikmah Kehidupan
Dari ayat ini kita belajar bahwa:
1. Jangan takut miskin ketika menaati Allah.
2. Carilah rezeki dengan jalan yang halal dan bermartabat.
3. Jadikan usaha sebagai bentuk ketaatan, bukan sebagai sesembahan hati.
4. Bersyukurlah atas setiap bentuk rezeki, baik yang tampak maupun yang tidak tampak.
5. Perkuat tawakal tanpa meninggalkan ikhtiar yang sungguh-sungguh.
6. Ingatlah bahwa kehidupan dunia hanyalah satu tahap sebelum kembali kepada Allah untuk mempertanggungjawabkan amal.
Penutup
QS. Ar-Rum ayat 40 mengajarkan bahwa penciptaan, rezeki, kehidupan, kematian, dan kebangkitan merupakan satu rangkaian yang seluruhnya berada dalam kekuasaan Allah. Ayat ini meneguhkan tauhid rububiyah sekaligus membangun ketenangan batin: jika Allah telah menciptakan manusia, maka Dia pula yang menjamin rezekinya sesuai hikmah-Nya.
Karena itu, seorang mukmin tidak menjadikan harta sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai amanah yang diperoleh melalui ikhtiar yang halal, disertai tawakal, syukur, dan keyakinan bahwa Ar-Razzaq tidak pernah menelantarkan hamba-Nya. Dengan keyakinan seperti ini, hati menjadi lapang, usaha menjadi jujur, dan kehidupan dipenuhi keberkahan.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Spiritual Motivator Nasional Quantum Spirit)
.png)