Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Di Balik Hari Anak Nasional: Krisis Pendidikan Generasi

Senin, 27 Juli 2026 | 21:37 WIB Last Updated 2026-07-27T14:37:59Z
TintaSiyasi.id -- Anak adalah amanah sekaligus harapan sebuah bangsa. Di pundak merekalah masa depan bertumpu, dan melalui merekalah nilai-nilai kehidupan akan diwariskan. Oleh karena itu, Hari Anak Nasional mestinya menjadi momentum untuk mensyukuri tumbuhnya generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Tahun 2026, pemerintah mengusung tema "Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan" melalui Gerakan Nasional #RuangAmanNyamanAnak (Gernas RANA).(Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Rilis Hari Anak Nasional 2026). 

Tema ini membawa harapan akan lahirnya ruang yang aman bagi setiap anak. Namun, di balik harapan itu terselip kegelisahan yang tak mudah ditepis, benarkah anak-anak Indonesia telah hidup dalam perlindungan yang semestinya?. Realitas justru menunjukkan sebaliknya. Kekerasan terhadap anak masih terjadi di tempat yang mestinya menjadi benteng perlindungan, yakni rumah dan sekolah. Data SIMFONI PPA menunjukkan ribuan anak menjadi korban kekerasan setiap tahun dengan kekerasan seksual sebagai bentuk yang paling banyak dilaporkan. (KemenPPPA–SIMFONI PPA, publikasi data 2025). 

Angka-angka itu bukan sekadar statistik. Di baliknya ada anak-anak yang kehilangan rasa aman, orang tua yang menangis, dan masa depan yang perlahan terluka. Lebih memprihatinkan lagi, sebagian anak kini tidak hanya menjadi korban, tetapi juga menjadi pelaku kekerasan. Berbagai kasus perundungan yang berujung tragis, penganiayaan antar pelajar, tawuran yang semakin brutal, hingga keterlibatan remaja dalam berbagai tindak kriminal menjadi peringatan bahwa ada yang sedang rapuh dalam proses pembentukan kepribadian generasi. Tidak ada anak yang lahir dengan keinginan menyakiti sesamanya, setiap anak belajar dari apa yang ia lihat, dengar, dan rasakan. Ketika empati mulai memudar dan kekerasan dianggap sebagai jalan menyelesaikan persoalan, itulah cermin rapuhnya pendidikan iman, moral, dan akhlak yang seharusnya dibangun dari rumah, diperkuat di sekolah, lalu dijaga oleh masyarakat serta negara. 

Generasi ini sesungguhnya sedang mengirimkan pesan kepada kita. Bukan melalui kata-kata, melainkan melalui luka yang mereka alami dan perilaku yang mereka tunjukkan. Pertanyaannya, apakah orang-orang dewasa mau mendengarkannya?. 
Fenomena ini tidak muncul dalam semalam. Ia merupakan buah dari sistem kehidupan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Pendidikan akhirnya lebih diarahkan untuk mencetak generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi lemah fondasi akidah dan akhlaknya. Rumah yang semestinya menjadi madrasah pertama perlahan kehilangan perannya. Sekolah lebih sering diukur dari prestasi akademik daripada keberhasilan membina kepribadian. Sementara itu, ruang digital tanpa batas menjadi "guru" baru yang setiap hari menyuguhkan kekerasan, pornografi, perjudian daring, dan berbagai konten yang merusak cara pandang anak terhadap kehidupan. (UNICEF, The State of the World's Children, November 2021). 

Dalam sistem kapitalisme, lapisan perlindungan anak pun melemah. Keluarga diimpit tuntutan ekonomi hingga fungsi pendidikannya berkurang, masyarakat semakin individualistis sehingga kontrol sosial memudar, sedangkan negara lebih banyak menghadirkan slogan dan seremoni daripada perlindungan yang menyentuh akar persoalan. Ketidaktegasan terhadap pornografi, perjudian daring, serta platform digital yang merusak generasi menunjukkan bahwa keselamatan anak belum benar-benar menjadi prioritas.

Islam memandang perlindungan anak bukan sekadar program sosial, melainkan amanah besar yang wajib diwujudkan oleh negara. Dalam Islam, khalifah adalah raa'in (pengurus) sekaligus junnah (perisai) bagi seluruh rakyatnya. 

Rasulullah Saw. bersabda dalam HR. Al-Bukhari No. 7138 dan Muslim No. 1829). 
 "Imam adalah pemelihara dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya."

Oleh karena itu, negara tidak cukup hanya mengampanyekan perlindungan anak, tetapi memastikan lahirnya lingkungan yang benar-benar menjaga tumbuh kembang mereka. Sistem pendidikan dibangun di atas akidah Islam agar iman, ilmu, dan akhlak tumbuh secara seimbang. Tata pergaulan diatur dengan syariat sehingga anak terjaga dari kekerasan seksual dan berbagai penyimpangan. Keluarga diperkuat agar kembali menjadi madrasah pertama, masyarakat didorong menjalankan amar makruf nahi mungkar sebagai benteng sosial, sementara negara menegakkan sanksi yang tegas dan menjerakan terhadap pelaku kekerasan. Dengan sinergi itulah setiap anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman, terlindungi, serta memiliki kepribadian Islam yang kokoh.

Hari Anak Nasional tidak semestinya berhenti sebagai perayaan tahunan yang dipenuhi slogan dan seremoni. Peringatan ini harus menjadi saat untuk bercermin. Tatkala anak-anak yang seharusnya dilindungi, justru tumbuh menjadi korban, bahkan sebagian berubah menjadi pelaku kekerasan, yang sedang diuji bukan hanya masa depan mereka, melainkan juga kualitas pendidikan yang diwariskan oleh keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara. Menyelamatkan generasi tidak cukup dengan kampanye kasih sayang, tetapi menuntut hadirnya sistem kehidupan yang menjadikan iman, moral, dan akhlak sebagai fondasi. Sebab, masa depan generasi tidak ditentukan oleh semaraknya peringatan Hari Anak Nasional, melainkan oleh kesungguhan menghadirkan sistem kehidupan yang benar-benar menjaga mereka. Hanya dengan itulah anak-anak dapat tumbuh sebagai generasi yang terlindungi, berkepribadian Islam, dan kelak menjadi pembangun peradaban yang diridai Allah Swt.

Oleh: Ida Rosida
Aktivis Muslimah

Opini

×
Berita Terbaru Update