TintaSiyasi.id -- Genosida warga Palestina yang dilakukan oleh Zion*s rupanya masih berlanjut hingga saat ini. Lembaga UNICEF dibawah naungan PBB melaporkan bahwa Zion*s sengaja menargetkan serangan terhadap anak Gaza hingga lebih dari seribu anak syahid sejak Oktober 2023. Dikutip dari CNN Indonesia, Juru bicara UNICEF James Elder menyatakan bahwa pasukan Israel telah menewaskan sedikitnya 265 anak-anak di Gaza yang tercatat sejak gencatan senjata diumumkan.
Situasi gencatan senjata tersebut digambarkan oleh nya sebagai sebuah ilusi yang kejam dan mematikan. Hal ini tentu nya bukanlah kali pertama Zion*s menewaskan banyak nyawa tidak berdosa dari warga Palestina. Anak-anak lainnya mengalami luka fisik hingga banyak yang cacat sekaligus mengalami trauma psikologis yang berat. Masa depan anak Gaza terancam, ini merupakan genosida oleh Zion*s. Tindakan yang begitu kejam dan tidak berperi kemanusiaan ini justru menjadi tontonan dunia tanpa ada yang berinisiatif diantara para pemimpin kaum Muslimin untuk mengirimkan bantuan untuk mengusir bangsa Zion*s dari bumi Palestina.
Tidak Ada Ruang Aman Bagi Anak Palestina
Berbagai upaya yang dilakukan Zion*s untuk dapat menduduki wilayah Palestina secara menyeluruh merupakan bagian dari agenda besar mereka untuk mendirikan “tanah air nasional bagi bangsa Yahudi” di Palestina. Zion*s sengaja menargetkan anak-anak Gaza dalam rangka genosida untuk menghabisi muslim Palestina. Zion*s melakukan segala cara (termasuk membunuh anak-anak) demi meraih tujuan mereka, yaitu menguasai seluruh wilayah Palestina dan mewujudkan Israel raya. Mereka tidak peduli gencatan senjata dan kecaman lembaga PBB, genosida terus mereka lakukan.
Dunia tidak bisa berharap Zion*s melunak, maupun pada PBB yang terbukti gagal dengan puluhan resolusinya, apalagi pada dunia Islam yang makin merapat pada AS dan Zion*s karena paham nasionalisme dan politik kapitalistik. Berbagai pendekatan Barat terhadap Palestina terus berlanjut dengan wajah baru. Amerika Serikat semakin terang-terangan menunjukkan keberpihakannya kepada Israel, termasuk pengakuan Yerusalem sebagai ibukota Israel dan dukungan terhadap aneksasi wilayah Palestina. Perjanjian Abraham Accord menjadi bukti bahwa Amerika Serikat berhasil menggandeng beberapa negara Arab untuk menormalisasi hubungan dengan Israel seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, Sudan dan Maroko.
Belum lama, Muncul gagasan Board of Peace yang menjerat negara lain ikut serta mencapai kedamaian dunia sebagai kedok untuk melakukan rekonstruksi Gaza. BoP berhasil memikat negara-negara semacam Indonesia, Arab Saudi dan lainnya untuk bergabung bersama AS. Miris nya Palestina sendiri tidak dilibatkan sebagai korban kebiadaban Zion*s. Konsep semacam ini sejatinya merupakan alat legitimasi baru bagi solusi versi Barat. Dunia hari ini senantiasa mengabaikan akar permasalahannya, yakni penjajahan, perampasan tanah, dan penolakan hak kembali pengungsi Palestina.
Perlindungan di bawah Naungan Islam
Khilafah merupakan negara adidaya Islam yang mampu mempertahankan Palestina dari agenda Zionis yang hendak menguasainya. Kini, Adidaya Amerika Serikat yang membesarkan dan terus menjaga eksistensinya dan memaksakan kehadiran negara Zionis dan penjajahan atas Palestina sebagai sesuatu yang normal.
Oleh karena itu, satu-satunya harapan pembebasan Palestina ada pada Khilafah. Khilafah adalah satu-satunya institusi politik Islam yang akan melakukan jihad fisabilillah untuk mengalahkan Zion*s dan membebaskan Palestina. Khilafah mewujudkan perlindungan bagi anak-anak Palestina, baik terhadap jiwa, kesehatan fisik dan mental, pendidikan, kesejahteraan, maupun seluruh aspek masa depan mereka. Khilafah adalah pelindung umat yang harus diperjuangkan penegakannya. Khilafahlah yang menolong agama Allah dan menerapkan hukum-hukum-Nya, menjadi pihak yang dimenangkan dengan izin Allah dan menyinari dunia dengan keadilan dan jihadnya. Allah akan memuliakannya dengan pertolongan-Nya. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Muhammad ayat 7 yang artinya “Jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian” (QS Muhammad [47]: 7).
Langkah yang seharusnya dilakukan untuk membebaskan Palestina dari penjajahan adalah mengirimkan pasukan untuk menumpas dan mengakhiri penjajahan, serta berperang melawan Zionisme secara langsung. Perlu dingat bahwa sebagai seorang muslim, keimanan terhadap kebenaran aturan Allah-lah yang akan menguatkan seluruh kaum muslimin untuk bersatu dan melepaskan diri dari ketergantungan kepada AS yang penuh dengan kedzaliman. Harus ada upaya untuk keluar dari dominasi kekufuran ini. Tidak ada kebaikan bagi suatu kekuasaan yang berada dalam dominasi AS. Umat Islam harus bersatu mendobrak batas-batas nasionalisme untuk membentuk satu kesadaran akan pentingnya menerapkan sistem Islam dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyyah berdasarkan manhaj nabi SAW. Wallahu a’lam [].
Oleh: Najma Alhumaira
(Aktivis Muslimah)