Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Sebab-Sebab Ilmu Menjadi Bermanfaat: Membangun Peradaban Islam melalui Ilmu, Amal, dan Penyucian Jiwa

Rabu, 24 Juni 2026 | 08:04 WIB Last Updated 2026-06-24T01:04:43Z
TintaSiyasi.id -- Telaah Dakwah Ideologis-Sufistik atas Kitab Nashā'ihul 'Ibād
"Seandainya engkau mengumpulkan ilmu yang sangat banyak, niscaya ilmu itu tidak akan bermanfaat bagimu, kecuali jika engkau mengamalkan tiga perkara, yaitu jangan mencintai dunia, jangan bersahabat dengan setan, dan jangan menyakiti seorang pun."

Pendahuluan: Krisis Manusia Modern Bukan Kekurangan Ilmu, tetapi Kehilangan Cahaya Ilmu
Kita hidup pada zaman yang disebut sebagai era pengetahuan (knowledge age). Informasi dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik. Perpustakaan dunia tersedia di dalam genggaman. Gelar akademik semakin banyak, lembaga pendidikan semakin megah, dan teknologi kecerdasan buatan semakin canggih. Namun, bersamaan dengan itu, manusia justru mengalami krisis makna, krisis moral, krisis ketenangan, bahkan krisis kemanusiaan.
Fenomena ini membuktikan satu kenyataan besar: bertambahnya ilmu tidak selalu diikuti bertambahnya hikmah.

Al-Qur'an sejak empat belas abad yang lalu telah mengingatkan bahwa ilmu yang sejati bukan sekadar memperluas pengetahuan, melainkan menghadirkan rasa takut kepada Allah.
"Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama." (QS. Fāṭir: 28).
Ayat ini menunjukkan bahwa indikator keberhasilan ilmu bukanlah banyaknya hafalan, tingginya gelar, luasnya pengaruh, atau banyaknya pengikut, tetapi semakin dalam ketundukan hati kepada Allah Swt.
Inilah hakikat ilmu yang diajarkan para ulama salaf, termasuk dalam Kitab Nashā'ihul 'Ibād karya Imam Nawawi al-Bantani. Beliau menegaskan bahwa ilmu hanya akan menjadi cahaya jika melahirkan perubahan pada hati, amal, dan akhlak.

Ilmu adalah Amanah, Bukan Sekadar Prestasi
Dalam tradisi Islam, ilmu bukan sekadar alat memperoleh pekerjaan, kedudukan, ataupun penghormatan manusia.
Ilmu adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Rasulullah Saw., bersabda bahwa seorang hamba tidak akan bergeser kedua kakinya pada hari kiamat sampai ditanya, di antaranya:
"Tentang ilmunya, untuk apa ia mengamalkannya."
Perhatikan, yang ditanyakan bukan berapa banyak ilmu yang dimiliki, melainkan bagaimana ilmu itu diamalkan.

Oleh krena itu para ulama berkata:
العلم يهتف بالعمل فإن أجابه وإلا ارتحل

"Ilmu memanggil amal. Jika amal menjawabnya maka ilmu akan menetap. Jika tidak, ilmu akan pergi."
Ilmu yang tidak diamalkan lambat laun akan kehilangan keberkahannya.

Kisah Bani Israil: Tiga Kunci Ilmu Menjadi Bermanfaat.

Dalam kitab ini diriwayatkan bahwa Allah mewahyukan kepada salah seorang nabi dari Bani Israil agar menyampaikan pesan kepada seorang ahli ibadah:

"Sekalipun engkau mengumpulkan ilmu sebanyak apa pun, ilmu itu tidak akan bermanfaat kecuali engkau mengamalkan tiga perkara."

Tiga perkara tersebut merupakan fondasi seluruh perjalanan spiritual seorang mukmin.

1. Jangan Mencintai Dunia
Allah tidak melarang manusia memiliki dunia, tetapi yang dilarang adalah ketika dunia memiliki hati manusia.
Ada perbedaan besar antara:
• memiliki harta
• diperbudak oleh harta.
Perbedaan antara:
• memimpin jabatan
• diperbudak jabatan.
Perbedaan antara:
• menggunakan dunia
• menjadikan dunia sebagai tujuan hidup.
Dunia hanyalah sarana.
Akhirat adalah tujuan.
Allah berfirman:
"Kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan dan saling bermegah-megahan."
Orang yang mencintai dunia akan mengukur keberhasilan dengan angka.
Sedangkan orang yang mencintai Allah mengukur keberhasilan dengan keberkahan.
Inilah perbedaan paradigma materialisme dengan paradigma tauhid.

Perspektif Dakwah Ideologis

Kapitalisme modern membentuk manusia menjadi homo economicus, yaitu manusia yang seluruh orientasi hidupnya diarahkan kepada keuntungan materi.
Islam menolak cara pandang tersebut.
Islam membangun manusia sebagai 'abdullah (hamba Allah) sekaligus khalifatullah (pemimpin di bumi).
Oleh karena itu orientasi hidup seorang Muslim bukan keuntungan semata, melainkan keridaan Allah.

2. Jangan Bersahabat dengan Setan
Setan adalah musuh yang paling cerdas.
Ia tidak selalu mengajak manusia kepada dosa besar.
Kadang ia datang melalui pintu agama.
Ia membisikkan:
"Aku lebih alim."
"Aku lebih suci."
"Aku paling benar."
"Aku paling berjasa."
Kesombongan intelektual adalah penyakit yang paling berbahaya bagi para pencari ilmu.
Iblis tidak menjadi kafir karena bodoh.
Ia menjadi kafir karena sombong.
Maka setiap ilmu yang menambah kesombongan sesungguhnya sedang dipakai setan untuk menjauhkan manusia dari Allah.

Dimensi Tasawuf
Para sufi mengatakan:
"Hijab paling tebal antara manusia dengan Allah bukan kebodohan, tetapi merasa sudah mengetahui."
Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin rendah hatinya.
Padi yang semakin berisi akan semakin merunduk.

3. Jangan Menyakiti Sesama Manusia
Inilah puncak seluruh ilmu.
Ukuran keberhasilan pendidikan Islam bukan banyaknya ijazah.
Bukan banyaknya karya.
Bukan banyaknya ceramah.
Tetapi akhlak.
Rasulullah Saw., bersabda:
"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya."
Ilmu yang benar akan melahirkan kasih sayang.
Bukan kebencian.
Melahirkan persatuan.
Bukan permusuhan.
Melahirkan kelembutan.
Bukan kekerasan.
Oleh karena itu dakwah Islam harus menghadirkan rahmat.
Bukan kemarahan.

Munajat Abu Sulaiman Ad-Darani: Ketika Harapan Lebih Besar daripada Ketakutan
Salah satu munajat yang sangat menyentuh berasal dari Imam Abu Sulaiman ad-Darani:
"Ya Allah, jika Engkau menuntutku karena dosaku maka aku akan memohon ampunan-Mu. Jika Engkau menuntutku karena kebakhilanku maka aku memohon kemurahan-Mu. Jika Engkau memasukkanku ke neraka maka akan aku katakan kepada para penghuninya bahwa aku mencintai-Mu."
Munajat ini bukan bentuk keberanian kepada Allah.
Tetapi ekspresi cinta.
Beliau mengetahui bahwa amalnya sangat sedikit.
Namun beliau lebih mengenal luasnya rahmat Allah.
Inilah maqam raja'.
Harapan yang lahir dari pengenalan kepada sifat-sifat Allah.
Semakin seseorang mengenal Allah,
semakin besar harapannya.
Semakin besar cintanya.
Semakin kecil rasa ujubnya.

Tiga Pilar Kebahagiaan Sejati

Imam Nawawi al-Bantani kemudian mengutip sebuah hikmah:
"Orang yang paling bahagia ialah orang yang memiliki hati yang alim, badan yang sabar, dan qana'ah terhadap apa yang ada di tangannya."
Kalimat pendek ini sesungguhnya merangkum seluruh konsep Spiritual Happiness dalam Islam.
Hati yang Alim
Hati adalah pusat kehidupan ruhani.
Jika hati mengenal Allah,
seluruh kehidupan menjadi terang.
Ilmu yang masuk ke akal belum tentu mengubah manusia.
Tetapi ilmu yang masuk ke hati akan mengubah seluruh hidupnya.
Hati yang alim mampu melihat hikmah di balik musibah, mengenali nikmat di balik ujian, dan menyaksikan kasih sayang Allah dalam setiap takdir.
Badan yang Sabar
Kesabaran bukan kelemahan.
Kesabaran adalah kekuatan jiwa yang menjaga seseorang tetap berada di jalan Allah ketika menghadapi cobaan, godaan, dan penantian.
Sabar melahirkan istiqamah, sedangkan istiqamah adalah jembatan menuju kemenangan.

Qana'ah
Qana'ah bukan berarti berhenti berikhtiar.
Qana'ah adalah ketenangan hati setelah ikhtiar maksimal dilakukan.
Orang yang qana'ah tidak diperbudak oleh keinginan yang tidak pernah selesai.
Ia menikmati karunia Allah dengan penuh syukur, sehingga kekayaan sejatinya berada di dalam hati, bukan pada banyaknya harta.

Dakwah Ideologis-Sufistik: Membangun Peradaban Berbasis Tauhid
Perubahan hakiki tidak dimulai dari pergantian sistem semata, tetapi dari perubahan manusia yang menghidupkan sistem Islam dengan hati yang bersih. Dakwah ideologis menanamkan akidah sebagai asas berpikir dan bertindak, sementara dimensi sufistik menyucikan hati agar dakwah dijalankan dengan ikhlas, sabar, dan penuh kasih. Ketika keduanya berpadu, lahirlah pribadi Muslim yang memiliki visi peradaban sekaligus kelembutan jiwa. Ia teguh memperjuangkan syariat Allah tanpa kehilangan akhlak, berani menyampaikan kebenaran tanpa kesombongan, dan mampu menjadi rahmat di tengah masyarakat.
Peradaban Islam yang agung pada masa lalu tidak dibangun hanya oleh kecerdasan intelektual, tetapi oleh manusia-manusia yang menjadikan ilmu sebagai ibadah, amal sebagai bukti keimanan, dan akhlak sebagai wajah dakwah.

Refleksi

Mari bertanya kepada diri sendiri:
• Apakah ilmu yang kita pelajari semakin mendekatkan kita kepada Allah?
• Apakah ilmu kita melahirkan kerendahan hati atau justru kebanggaan diri?
• Apakah ilmu kita menghadirkan manfaat bagi keluarga, masyarakat, dan umat?
• Apakah hati kita lebih mencintai Allah daripada dunia?
• Apakah lisan dan tindakan kita menjadi sumber kedamaian bagi sesama?
Jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu semakin positif, maka ilmu kita sedang hidup. Namun jika ilmu hanya berhenti pada hafalan dan perdebatan, sementara hati tetap keras dan akhlak tidak berubah, berarti kita masih perlu memohon kepada Allah agar dikaruniai 'ilmun nāfi'—ilmu yang benar-benar bermanfaat.

Penutup

Ilmu yang bermanfaat adalah cahaya yang menuntun manusia dari kegelapan hawa nafsu menuju terang hidayah. Ia melahirkan cinta kepada Allah, kasih sayang kepada sesama, kesabaran dalam menghadapi ujian, dan qana'ah terhadap segala ketetapan-Nya. Dari ilmu seperti inilah lahir pribadi yang bahagia, keluarga yang sakinah, masyarakat yang beradab, dan peradaban Islam yang memancarkan rahmat bagi seluruh alam.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang dianugerahi ilmu yang bermanfaat, amal yang ikhlas, hati yang bersih, akhlak yang mulia, dan istikamah dalam mengemban dakwah hingga akhir hayat.

اللهم إنا نسألك علماً نافعاً، ورزقاً طيباً، وعملاً متقبلاً، وقلباً خاشعاً، ولساناً ذاكراً، ونفساً مطمئنة، واجعل علمنا حجة لنا لا علينا، ووفقنا لخدمة دينك وإعلاء كلمتك. آمين.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si.  
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Spiritual Motivator Nasional Quantum Spirit

Opini

×
Berita Terbaru Update