TintaSiyasi.id -- Sebuah Refleksi Dakwah Ideologis-Sufistik
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Rezeki yang lapang bukanlah sekadar banyaknya harta yang dimiliki, luasnya kekuasaan yang diraih, tingginya jabatan yang disandang, atau melimpahnya fasilitas kehidupan yang dinikmati. Dalam pandangan Islam yang berlandaskan tauhid dan disinari cahaya tasawuf, rezeki yang lapang adalah rezeki yang tidak menjadi hijab antara seorang hamba dengan Allah SWT, tidak menyeret pemiliknya kepada kelalaian, dan tidak menjadi beban hisab yang memberatkan pada Hari Akhir.
Banyak manusia mengejar rezeki, tetapi sedikit yang memahami hakikat rezeki. Banyak yang mengumpulkan kekayaan, tetapi sedikit yang memperoleh keberkahan. Banyak yang memiliki dunia, tetapi kehilangan Allah. Padahal keberuntungan sejati bukanlah ketika dunia berada di tangan, melainkan ketika Allah bersemayam di dalam hati.
Krisis Peradaban: Ketika Rezeki Menjadi Tujuan Hidup
Salah satu penyakit terbesar manusia modern adalah menjadikan rezeki sebagai tujuan hidup, bukan sarana pengabdian kepada Allah. Ukuran keberhasilan direduksi menjadi materi. Nilai seseorang ditentukan oleh apa yang dimiliki, bukan oleh siapa dirinya di hadapan Allah.
Akibatnya lahirlah generasi yang:
• Kaya tetapi gelisah.
• Berlimpah harta tetapi miskin makna.
• Mempunyai banyak relasi tetapi kesepian.
• Memiliki fasilitas mewah tetapi kehilangan ketenangan jiwa.
Inilah bentuk kemiskinan spiritual yang paling berbahaya.
Tasawuf mengajarkan bahwa akar kebahagiaan bukan terletak pada kepemilikan, melainkan pada kedekatan dengan Allah. Ketika hati mengenal Rabb-nya, maka dunia berada pada posisi yang semestinya: sekadar alat, bukan tujuan.
Tauhid: Fondasi Kelapangan Rezeki
Hakikat tauhid bukan sekadar mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, tetapi meyakini bahwa hanya Allah satu-satunya sumber segala karunia.
Seorang ahli tauhid memahami:
• Allah yang memberi.
• Allah yang menahan.
• Allah yang melapangkan.
• Allah yang menyempitkan.
• Allah yang mencukupkan.
Karena itu, ia tidak menggantungkan harapan kepada manusia. Ia bekerja keras, tetapi hatinya tidak bergantung pada pekerjaan. Ia berdagang, tetapi tidak menyembah keuntungan. Ia memiliki harta, tetapi tidak diperbudak oleh harta.
Tauhid membebaskan manusia dari penghambaan kepada dunia.
Semakin kuat tauhid seseorang, semakin lapang jiwanya menghadapi kehidupan.
Rezeki yang Menjadi Cahaya
Ada rezeki yang menjadi cahaya dan ada rezeki yang menjadi kegelapan.
Rezeki menjadi cahaya apabila:
• Diperoleh dengan cara halal.
• Digunakan untuk kebaikan.
• Menambah rasa syukur.
• Menguatkan ibadah.
• Mendekatkan kepada Allah.
Sebaliknya, rezeki menjadi kegelapan apabila:
• Diperoleh dengan cara haram.
• Menumbuhkan kesombongan.
• Melahirkan ketamakan.
• Menjauhkan dari dzikir.
• Membuat hati lalai dari akhirat.
Para ulama sufi sering mengingatkan bahwa musibah terbesar bukanlah kekurangan harta, melainkan kekayaan yang membuat seseorang melupakan Allah.
Karena itu, ukuran keberkahan bukan banyaknya harta, melainkan besarnya manfaat dan kedekatan kepada Allah yang lahir darinya.
Selamat dari Nafsu, Syahwat, dan Ketamakan
Tiga musuh besar perjalanan ruhani manusia adalah:
1. Nafsu
Nafsu selalu mengajak kepada kesenangan tanpa batas. Ia tidak pernah merasa puas.
Jika satu gunung emas dimiliki, ia menginginkan dua gunung emas. Jika dua gunung emas dimiliki, ia menginginkan seluruh dunia.
Karena itu, orang yang mengikuti nafsu akan terus merasa miskin meskipun memiliki segalanya.
2. Syahwat
Syahwat bukan hanya urusan biologis, tetapi segala bentuk dorongan yang melampaui batas syariat.
Syahwat yang tidak terkendali membuat hati keras, akal tumpul, dan ruh kehilangan kejernihannya.
Orang yang dikuasai syahwat sulit merasakan manisnya ibadah dan kedekatan dengan Allah.
3. Ketamakan
Ketamakan adalah keyakinan tersembunyi bahwa kebahagiaan terletak pada penambahan dunia.
Orang tamak tidak pernah merasa cukup.
Sementara orang yang mengenal Allah akan merasakan qana'ah, yaitu kekayaan hati yang membuatnya bersyukur atas apa yang ada sambil tetap berikhtiar memperbaiki kehidupan.
Qana'ah: Kekayaan yang Sesungguhnya
Dalam perspektif sufistik, qana'ah bukan berarti pasif atau malas bekerja.
Qana'ah adalah:
• Aktif dalam usaha.
• Maksimal dalam ikhtiar.
• Tenang terhadap hasil.
Ia bekerja keras karena Allah memerintahkannya bekerja.
Namun ia menerima hasil dengan lapang karena meyakini bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik baginya.
Qana'ah melahirkan ketenangan yang tidak bisa dibeli oleh kekayaan sebesar apa pun.
Rezeki dan Amanah Peradaban
Islam tidak mengajarkan kemiskinan sebagai cita-cita. Islam juga tidak memuliakan kemewahan sebagai tujuan.
Islam mengajarkan amanah.
Setiap rezeki mengandung tanggung jawab sosial.
Karena itu, seorang mukmin bertanya:
• Berapa yang saya miliki?
• Dari mana saya memperolehnya?
• Untuk apa saya menggunakannya?
• Siapa yang merasakan manfaatnya?
Harta yang tidak mengalir kepada kemaslahatan akan menjadi beban.
Sebaliknya, harta yang digunakan untuk dakwah, pendidikan, kemanusiaan, dan pemberdayaan umat akan menjadi investasi akhirat yang terus mengalir pahalanya.
Rezeki yang Tidak Dihisab dengan Berat
Para salafus saleh sangat berhati-hati terhadap dunia bukan karena membencinya, tetapi karena memahami tanggung jawab di baliknya.
Setiap nikmat akan ditanya:
• Bagaimana diperoleh?
• Bagaimana digunakan?
Kesadaran inilah yang membuat mereka hidup sederhana meskipun mampu hidup mewah.
Mereka takut jika kenikmatan dunia justru menjadi sebab panjangnya hisab di akhirat.
Mereka lebih memilih keberkahan daripada kemegahan.
Jalan Menuju Rezeki yang Lapang
Beberapa jalan ruhani untuk memperoleh rezeki yang lapang dan berkah adalah:
1. Memperkuat Tauhid
Menyandarkan hati hanya kepada Allah.
2. Menjaga Kehalalan
Tidak mengorbankan agama demi keuntungan dunia.
3. Memperbanyak Istighfar
Karena dosa sering menjadi penghalang turunnya keberkahan.
4. Memperbanyak Sedekah
Sedekah tidak mengurangi harta, tetapi mengundang pertolongan Allah.
5. Menyambung Silaturahim
Silaturahim menjadi sebab dilapangkannya rezeki dan umur yang diberkahi.
6. Bersyukur
Syukur adalah magnet keberkahan.
7. Menolong Sesama
Allah menolong hamba selama hamba menolong saudaranya.
Renungan Penutup
Wahai saudaraku, janganlah engkau meminta dunia yang banyak. Mintalah hati yang mampu mengelola dunia dengan benar.
Janganlah engkau meminta kekayaan yang membuatmu lupa kepada Allah. Mintalah kekayaan yang membuatmu semakin tunduk kepada-Nya.
Janganlah engkau meminta kehidupan yang mewah. Mintalah kehidupan yang berkah.
Sebab hakikat rezeki yang lapang bukanlah banyaknya yang masuk ke dalam tangan, tetapi sedikitnya yang menguasai hati.
Ketika dunia berada di tangan dan Allah berada di hati, itulah kemuliaan. Namun ketika dunia masuk ke dalam hati, maka di situlah awal berbagai kesengsaraan.
Ya Allah, karuniakan kepada kami rezeki yang halal, luas, berkah, dan menenangkan jiwa. Jadikanlah dunia di tangan kami, bukan di hati kami. Selamatkan kami dari nafsu, syahwat, dan ketamakan. Kokohkan kami di atas tauhid dan syariat hingga kami berjumpa dengan-Mu dalam keadaan Engkau ridha kepada kami. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.
Dr. Nasrul Syarif M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa)