Sampai kapan umat mengeluhkan akibat jahiliah, tetapi enggan meninggalkan jahiliah itu sendiri? Sampai kapan umat menginginkan kebangkitan, tetapi tetap bertahan dengan sistem yang menjadi sumber keterpurukan? ucapnya kepada Tintasiyasi.id, Senin (15/6/2026).
Menurut Joko, esensi jahiliah sering kali disalahpahami oleh sebagian besar masyarakat, bahwasanya jahiliah bukanlah sekadar nama suatu zaman atau periode masa lalu, melainkan setiap keadaan ketika manusia menolak petunjuk Allah swt. dan menjadikan aturan selain wahyu sebagai dasar dalam mengatur kehidupan.
“Oleh karena itu, jahiliah bisa hadir dalam bentuk yang berbeda-beda pada setiap masa termasuk di era modern ini. Hari ini manusia hidup di tengah kemajuan teknologi yang luar biasa.
Ia juga menyoroti kondisi memprihatinkan di negeri-negeri muslim, rakyat di berbagai wilayah berpenduduk mayoritas Islam justru dibebani kesulitan ekonomi, padahal wilayah mereka memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah. Sayangnya, potensi besar tersebut tidak sepenuhnya digunakan untuk kepentingan rakyat.
"Ini bukan sekedar kegagalan individu atau kesalahan kebijakan suatu saat. Karena persoalannya lebih mendasar, manusia mengambil alih hak Allah swt. dalam menentukan aturan kehidupan," ungkapnya.
Selanjutnya, ia mengingatkan 1 Muharam erat hubungannya dengan hijrah Rasulullah saw. dan hijrahnya Rasulullah saw. bukan sekedar perpindahan dari Makkah ke Madinah. Hijrah adalah perpindahan dari jahiliah menuju Islam, dari pemerintahan manusia menuju hukum Allah, serta dari keterpurukan menuju kebangkitan.
“Apakah umat akan berhijrah Islam secara kaffah, atau menuju terus bertahan dalam berbagai bentuk keterjajahan yang lahir dari sistem jahiliah? Banyak orang memahami hijrah sebagai perubahan pribadi. Padahal hijrah Rasulullah SAW jauh lebih besar dari itu,” terangnya.
Adapun, pria yang akrab disapa om Joy ini menjelaskan ketika Rasulullah berhijrah ke Madinah, yang berpindah bukan hanya individu-individu muslim, melainkan yang berpindah pusat kehidupan umat. Dari masyarakat yang diatur oleh masyarakat jahiliah yang diatur oleh syariat menuju Islam.
Oleh karena itu, hijrah bukan sekadar meninggalkan dosa. Hijrah juga berarti meninggalkan aturan yang bertentangan dengan Islam menuju aturan yang bersumber dari wahyu Allah swt, tegasnya.
Mereka mengeluhkan ketidakadilan ekonomi, tetapi mempertahankan sistem yang melahirkannya. Mereka mengeluhkan kerusakan moral, tetapi membiarkan standar moral yang ditentukan manusia. Mereka mengeluhkan perpecahan, tetapi tetap mempertahankan sistem yang memecah-belah umat. Tidak ada kebangkitan tanpa perubahan. Dan tidak ada perubahan tanpa hijrah, tambahnya.
Alhasil, ia menekankan bahwa umat Islam pernah memimpin dunia bukan karena jumlah atau kekayaan semata. Di masa kejayaan Islam, umat bangkit karena menjadikan Islam sebagai asas kehidupan.
Dari akidah Islam lahir cara pandang yang benar tentang manusia, kehidupan, dan tujuan hidup. Dari akidah yang sama lahir sistem kehidupan yang melahirkan kedamaian dan kesejahteraan. Oleh karena itu, kebangkitan umat tidak mungkin dibangun di atas kapitalisme, sekularisme, nasionalisme, atau ideologi lainnya. Asas kebangkitan umat adalah Islam, terangnya.
Sehingga, ia menilai permasalahan umat tidak hanya terjadi pada individu, karena itu solusi Islam juga tidak boleh dibatasi pada individu. Islam tidak hanya mengatur ibadah, tetapi juga ekonomi, pergaulan, pendidikan, politik, hukum, dan kehidupan masyarakat.
Oleh karena itu, hijrah yang dibutuhkan bukan hanya hijrah pribadi, tetapi hijrah kehidupan. Hijrah individu berarti memperbaiki akidah dan amal. Hijrah berarti menjadikan nilai-nilai Islam sebagai standar kehidupan. Hijrah politik berarti menjadikan syariat Islam sebagai referensi dalam pengaturan publik. berarti, jika ujungnya menyeluruh, maka hijrahnya pun harus menyeluruh,” simpulnya. [] Taufan