Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Perintah Belajar Bahasa Portugis, Jurnalis: Ke Mana Arah Pendidikan Indonesia

Rabu, 10 Juni 2026 | 16:46 WIB Last Updated 2026-06-10T09:46:57Z

TintaSiyasi.id -- Jurnalis Joko Prasetyo mempertanyakan arah pendidikan Indonesia pascapernyataan Presiden Prabowo yang melempar agenda baru untuk mempelajari bahasa Prancis pada Mei 2026. “Ke mana arah pendidikan Indonesia?” tanyanya.

 

Joko menyebut, padahal sebelumnya pada Oktober 2025, Presiden Prabowo Subianto juga menyatakan, bahasa Portugis akan menjadi salah satu prioritas dalam pendidikan Indonesia.

 

"Persoalannya bukanlah bahasa Prancis atau Portugis. Persoalannya adalah arah," ujarnya tegas pada TintaSiyasi.ID pada Senin (01/06/2026).

 

Alasan pencanangan itu, menurut Joko sejatinya berdasar pada hubungan strategis Indonesia dengan bangsa-bangsa tersebut.

 

"Kemarin Portugis karena Brasil dianggap penting. Sekarang Prancis karena hubungan dengan Paris menguat. Lusa mengikuti siapa lagi?" ujarnya

 

Menurut Joko, pendidikan adalah pondasi dalam membangun sebuah negara, karena menentukan cara berpikir generasi, arah hidup hingga masa depan sebuah bangsa.

 

"Pendidikan bukan sekadar instrumen diplomasi. Pendidikan adalah proyek peradaban. Menentukan cara berpikir generasi, arah hidup mereka, bahkan masa depan sebuah bangsa," terangnya.

 

Dalam sistem saat ini, pendidikan memang bertujuan untuk mengikuti kebutuhan sistem itu sendiri. “Sehingga, pendidikan kehilangan esensinya. Padahal menurut Islam, pendidikan bukan hanya mengenai mencetak kebutuhan pasar,” bebernya.

 

"Dalam republik demokrasi yang berasaskan sekuler, pendidikan mengikuti kebutuhan dan kepentingan manusia. Kurikulum dapat berubah sesuai arah politik, kebutuhan pasar, atau perkembangan geopolitik. Karena agama dipisahkan dari kehidupan, pendidikan tidak dibangun di atas wahyu, melainkan atas pertimbangan pragmatis yang berubah-ubah," terangnya.

 

"'Akibatnya, tujuan pendidikan bergeser dari membentuk manusia yang bertakwa menjadi menghasilkan sumber daya manusia yang sesuai kebutuhan sistem," lanjutnya.

 

Joko mengutip pandangan Syekh Taqiyuddin An-Nabhani yang menjelaskan mengenai tujuan pendidikan di jaman kekhilafahan yang sesuai dengan pengajaran dalam Islam.

 

"Berbeda dengan itu, Syekh Taqiyuddin An-Nabhani dalam Nizham Al-Islam (1953) menjelaskan, akidah Islam harus menjadi asas pendidikan,” lugasnya.

 

Lanjut dikatakan, bahkan dalam pasal-pasal pendidikan Muqaddimah Ad-Dustur, An-Nabhani menegaskan, tujuan pendidikan adalah membentuk Syakhshiyah Islamiyah (kepribadian Islam) dan membekali manusia dengan ilmu-ilmu yang diperlukan dalam kehidupan.

 

"Karena itu, dalam khilafah Islam yang berasaskan tauhid, pendidikan tidak diarahkan untuk mengikuti perubahan hubungan diplomatik atau kebutuhan kapitalisme global. Pendidikan diarahkan untuk melahirkan generasi yang beriman, berilmu, bertakwa, dan mampu memimpin peradaban dengan Islam," paparnya

 

Ia juga menegaskan bahwa Islam tidak memusuhi bahasa asing, namun persoalan yang sedang dihadapi saat ini lebih menekankan pada arah pendidikan yang semakin buram, terlebjh banyak permasalahan seputar dunia pendidikan yang belum tuntas.

 

"Islam tentu tidak memusuhi bahasa asing. Rasulullah saw. bahkan memerintahkan Zaid bin Tsabit ra. mempelajari bahasa Yahudi,” sebutnya.

 

Sepanjang sejarah, ia menyatakan bahwa umat Islam menguasai berbagai bahasa dunia. Namun mereka mempelajarinya untuk dakwah, ilmu pengetahuan, dan kepemimpinan peradaban. Karena bahasa adalah alat, bukan arah," terangnya

 

Joko mengingatkan bahwa setiap keputusan penguasa akan berdampak besar bagi yang dipimpin sesuai dengan hadis Rasulullah saw., sehingga perlu adanya kebijakan yang jelas, yang membawa banyak kemaslahatan.

 

"Rasulullah saw. bersabda, ‘Imam adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya.’,” kutipnya dari hadis Riwayat Imam Al-Bukhari dan Imam Al-Muslim.

 

Karena itu, ia menyatakan bahwa seorang penguasa tidak akan ditanya berapa banyak kerja sama internasional yang berhasil dibangun atau berapa banyak bahasa asing yang masuk ke kurikulum.

 

“Yang akan ditanyakan adalah apakah kebijakannya mendekatkan manusia kepada Allah atau justru menjauhkan mereka dari-Nya. Ukuran tertingginya adalah rida Allah Swt.," pungkasnya.[] Hima Dewi

Opini

×
Berita Terbaru Update