Joko menyebut, padahal sebelumnya
pada Oktober 2025, Presiden Prabowo Subianto juga menyatakan, bahasa Portugis
akan menjadi salah satu prioritas dalam pendidikan Indonesia.
"Persoalannya bukanlah
bahasa Prancis atau Portugis. Persoalannya adalah arah," ujarnya tegas
pada TintaSiyasi.ID pada Senin (01/06/2026).
Alasan pencanangan itu, menurut
Joko sejatinya berdasar pada hubungan strategis Indonesia dengan bangsa-bangsa
tersebut.
"Kemarin Portugis karena
Brasil dianggap penting. Sekarang Prancis karena hubungan dengan Paris menguat.
Lusa mengikuti siapa lagi?" ujarnya
Menurut Joko, pendidikan adalah
pondasi dalam membangun sebuah negara, karena menentukan cara berpikir
generasi, arah hidup hingga masa depan sebuah bangsa.
"Pendidikan bukan sekadar
instrumen diplomasi. Pendidikan adalah proyek peradaban. Menentukan cara
berpikir generasi, arah hidup mereka, bahkan masa depan sebuah bangsa,"
terangnya.
Dalam sistem saat ini, pendidikan
memang bertujuan untuk mengikuti kebutuhan sistem itu sendiri. “Sehingga,
pendidikan kehilangan esensinya. Padahal menurut Islam, pendidikan bukan hanya
mengenai mencetak kebutuhan pasar,” bebernya.
"Dalam republik demokrasi
yang berasaskan sekuler, pendidikan mengikuti kebutuhan dan kepentingan
manusia. Kurikulum dapat berubah sesuai arah politik, kebutuhan pasar, atau
perkembangan geopolitik. Karena agama dipisahkan dari kehidupan, pendidikan
tidak dibangun di atas wahyu, melainkan atas pertimbangan pragmatis yang
berubah-ubah," terangnya.
"'Akibatnya, tujuan
pendidikan bergeser dari membentuk manusia yang bertakwa menjadi menghasilkan
sumber daya manusia yang sesuai kebutuhan sistem," lanjutnya.
Joko mengutip pandangan Syekh
Taqiyuddin An-Nabhani yang menjelaskan mengenai tujuan pendidikan di jaman
kekhilafahan yang sesuai dengan pengajaran dalam Islam.
"Berbeda dengan itu, Syekh
Taqiyuddin An-Nabhani dalam Nizham Al-Islam (1953) menjelaskan,
akidah Islam harus menjadi asas pendidikan,” lugasnya.
Lanjut dikatakan, bahkan dalam
pasal-pasal pendidikan Muqaddimah Ad-Dustur, An-Nabhani menegaskan, tujuan
pendidikan adalah membentuk Syakhshiyah Islamiyah (kepribadian Islam) dan
membekali manusia dengan ilmu-ilmu yang diperlukan dalam kehidupan.
"Karena itu, dalam khilafah
Islam yang berasaskan tauhid, pendidikan tidak diarahkan untuk mengikuti
perubahan hubungan diplomatik atau kebutuhan kapitalisme global. Pendidikan
diarahkan untuk melahirkan generasi yang beriman, berilmu, bertakwa, dan mampu
memimpin peradaban dengan Islam," paparnya
Ia juga menegaskan bahwa Islam
tidak memusuhi bahasa asing, namun persoalan yang sedang dihadapi saat ini
lebih menekankan pada arah pendidikan yang semakin buram, terlebjh banyak
permasalahan seputar dunia pendidikan yang belum tuntas.
"Islam tentu tidak memusuhi
bahasa asing. Rasulullah saw. bahkan memerintahkan Zaid bin Tsabit ra.
mempelajari bahasa Yahudi,” sebutnya.
Sepanjang sejarah, ia menyatakan
bahwa umat Islam menguasai berbagai bahasa dunia. Namun mereka mempelajarinya
untuk dakwah, ilmu pengetahuan, dan kepemimpinan peradaban. Karena bahasa
adalah alat, bukan arah," terangnya
Joko mengingatkan bahwa setiap
keputusan penguasa akan berdampak besar bagi yang dipimpin sesuai dengan hadis
Rasulullah saw., sehingga perlu adanya kebijakan yang jelas, yang membawa
banyak kemaslahatan.
"Rasulullah saw. bersabda, ‘Imam
adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya.’,”
kutipnya dari hadis Riwayat Imam Al-Bukhari dan Imam Al-Muslim.
Karena itu, ia menyatakan bahwa seorang
penguasa tidak akan ditanya berapa banyak kerja sama internasional yang
berhasil dibangun atau berapa banyak bahasa asing yang masuk ke kurikulum.
“Yang akan ditanyakan adalah
apakah kebijakannya mendekatkan manusia kepada Allah atau justru menjauhkan
mereka dari-Nya. Ukuran tertingginya adalah rida Allah Swt.," pungkasnya.[]
Hima Dewi