Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Mengukuhkan Tauhid Hati: Jangan Bergantung Selain Allah

Sabtu, 06 Juni 2026 | 06:20 WIB Last Updated 2026-06-05T23:20:13Z
TintaSiyasi.id -- Refleksi Hikmah Ibnu 'Athaillah

Segala puji bagi Allah yang menjamin hati-hati manusia, yang kepada-Nya segala hajat bermuara, dan dari-Nya segala pertolongan diturunkan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah ﷺ, pembimbing jalan menuju Allah, serta kepada para salik yang istiqamah menapaki jalan makrifat dan tauhid.
Dalam lautan hikmah para ulama rabbani, Ibnu 'Athaillah as-Sakandari mengajarkan prinsip besar perjalanan ruhani: memerdekakan hati dari ketergantungan kepada selain Allah dan mengarahkannya hanya kepada Allah semata. Al-Hikam Ibnu Athaillah
Inilah inti perjalanan menuju Allah: tajrid al-ta'alluq — melepaskan segala sandaran selain-Nya.

1. Hanya Allah Tujuan Cita-Cita Tertinggi
Seorang hamba diajarkan:
“Janganlah cita-citamu tertuju kepada selain Allah.”
Ini bukan sekadar nasihat moral, tetapi penataan tatanan kehidupan. Karena setiap yang selain Allah bersifat terbatas, sementara hati manusia diciptakan untuk sesuatu yang tak terbatas: Allah Al-Karim, Yang Maha Pemurah tanpa batas.
Maka, siapa pun yang menggantungkan harapan kepada makhluk, ia sedang menggantungkan sesuatu yang rapuh ke sesuatu yang rapuh pula. Hasilnya adalah kekecewaan yang berulang.
Sedangkan siapa yang menggantungkan harapan kepada Allah, ia bersandar kepada Zat yang tidak pernah mengecewakan hamba-Nya.

2. Hajat Hanya di Tangan Allah
Hikmah ini menyatakan:
“Jangan meminta hajat kepada selain Allah, karena Dialah yang menurunkannya kepadamu.”
Betapa dalam maknanya: hajat tidak lahir dari makhluk, tetapi ditetapkan oleh Allah.
Artinya, manusia bukan sumber kebutuhan kita, tetapi hanyalah perantara. Maka, salah alamat hati terjadi ketika:
• kita menganggap manusia sebagai pemberi kabar,
• bukan sebagai jalan pemberian Allah.
Siapa pun yang memahami ini akan tenang dalam hidupnya, karena ia tidak akan putus asa ketika manusia menolak, dan tidak akan sombong ketika manusia memberi.

3. Husnuzhan : Melihat Jejak Kebaikan Allah
Jika hati belum mampu mengenal Allah melalui kesempurnaan sifat-Nya, maka lihatlah:
"Bukankah Dia selalu memberi kebaikan? Bukankah Dia tidak pernah berhenti memberi kebaikan?"
Pada dasarnya dasar husnuzhan kepada Allah dibangun: bukan hanya dengan dalil, tetapi dengan pengalaman hidup yang nyata.
Setiap tarikan napas, setiap detak jantung, setiap kesempatan hidup—semuanya adalah bukti bahwa:
Allah tidak pernah memutus kebaikan-Nya kepada hamba.
Maka tidak pantas seorang hamba berburuk sangka kepada Rabb yang terus menerus berbuat baik kepadanya.

4. Kebutaan Hati: Mengejar yang Fana, Lari dari yang Kekal
Sungguh mengharapkan manusia:
Ia lari dari Allah yang pasti ia temui,
tetapi mengejar dunia yang pasti ia tinggalkan.
Inilah yang disebut bukan kebutaan mata, tetapi kebutaan hati.
Banyak yang melihat dunia manusia dengan jelas, namun tidak melihat akhir perjalanannya. Padahal yang kekal bukan apa yang dikumpulkan, melainkan apa yang dibawa menuju Allah: iman dan amal saleh.

5. Jangan Berpindah dari Makhluk ke Makhluk
Seorang salik diperingatkan:
“Jangan berpindah dari satu keadaan ke keadaan lain seperti bersantai…”
Orang yang hanya berpindah dari satu sebab ke sebab lain tanpa pernah menuju Allah, hakikatnya tidak pernah sampai ke mana pun.
Ia sibuk berganti:
• manusia ke manusia,
• peluang ke peluang,
• dunia ke dunia,
tetapi tidak pernah berpindah ke sumber segala sebab: Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Padahal tujuan sejati perjalanan hidup adalah:
“Dan kepada Rabb-mulah tempat kembalinya segala tujuan.” (QS. An-Najm : 42)

6. Persahabatan yang Menghidupkan Hati
Dalam perjalanan menuju Allah, lingkungan sangat menentukan:
“Jangan bersahabat dengan orang yang keadaannya tidak membangkitkanmu kepada Allah.”
Sahabat sejati bukan hanya yang menyenangkan, tetapi yang:
• memperkuat iman,
• Mengingkari akhirat,
• mengarahkan dan mengarahkan hati kepada Allah.
Karena hati itu mudah tertular:
jika dekat dengan yang lalai, ia ikut lalai;
jika dekat dengan yang mengingat Allah, ia ikut hidup.

Penutup: Merdeka dengan Tauhid, Tenang dengan Tawakal
Seluruh hikmah ini bermuara pada satu hakikat agung:
Merdekakan hati selain Allah, dan menggantungkan hanya kepada-Nya.
Siapa yang hatinya bersandar kepada Allah:
• ia tidak hancur oleh penolakan manusia,
• tidak sombong dengan pujian,
• tidak risih karena kehilangan,
• tidak takut di masa depan.
Karena ia tahu:
yang memberi, menahan, mengangkat, dan menurunkan segala sesuatu adalah Allah semata.
Maka jadikanlah Allah sebagai tujuan, sandaran, dan tempat kembali.
Itulah jalan ketenangan para salik, dan itulah inti dari tauhid yang hidup dalam hati.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Spiritual Motivator Nasional Quantum Spirit)

Opini

×
Berita Terbaru Update