TintaSiyasi.id -- Dakwah bukan sekadar aktivitas berbicara di mimbar, menulis nasihat, atau mengajak manusia kepada kebaikan. Dakwah adalah jalan para nabi. Jalan yang dipenuhi pengorbanan, air mata, kesabaran, bahkan penolakan. Namun justru di sanalah letak kemuliaannya. Orang-orang yang memilih jalan dakwah sejatinya sedang memilih jalan menuju kedekatan dengan Allah SWT.
Di zaman yang penuh fitnah, materialisme, dan krisis moral seperti hari ini, para pengemban dakwah sering menghadapi hinaan, tekanan, bahkan pengkhianatan. Tetapi seorang mukmin harus memahami bahwa setiap ujian dalam dakwah adalah bagian dari proses penyucian jiwa dan pengangkatan derajat di sisi Allah.
1. Saat Dihina dan Ditolak, Ingatlah Jalan Para Nabi
Tidak ada nabi yang tidak dicaci. Tidak ada rasul yang tidak ditolak. Nabi Nuh AS diejek kaumnya. Nabi Ibrahim AS dibakar. Nabi Musa AS dimusuhi Fir’aun. Bahkan Rasulullah SAW, manusia paling mulia, dituduh gila, penyair, tukang sihir, dan pendusta.
Maka ketika seorang dai dihina karena mempertahankan kebenaran, itu bukan tanda kegagalan. Itu adalah tanda bahwa ia sedang berjalan di jejak para nabi.
Allah SWT berfirman:
“Dan sungguh, rasul-rasul sebelum engkau telah didustakan, tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan yang dilakukan terhadap mereka...”
(QS. Al-An’am: 34)
Dakwah bukan jalan mencari popularitas. Dakwah adalah jalan mencari ridha Allah. Jika manusia tidak menyukai kebenaran, bukan berarti kebenaran itu salah.
Secara sufistik, hinaan manusia adalah latihan menghancurkan ego (nafs). Sebab selama hati masih haus pujian manusia, dakwah belum benar-benar ikhlas karena Allah.
2. Saat Didzalimi, Jangan Lemah
Seorang pejuang kebenaran kadang menjadi sasaran fitnah dan kezhaliman. Tetapi Islam mengajarkan bahwa kekuatan seorang mukmin bukan terletak pada balas dendam, melainkan pada kesabaran dan keteguhan hati.
Doa orang yang teraniaya tidak memiliki hijab di sisi Allah. Tangisan orang yang dizalimi mengguncang langit.
Kadang Allah menunda kemenangan agar hamba-Nya semakin dekat kepada-Nya. Karena dalam penderitaan, manusia belajar tawakal. Dalam luka, manusia belajar bergantung hanya kepada Allah.
Jangan takut kepada makar manusia. Karena sebesar apa pun kekuatan mereka, semuanya berada di bawah kekuasaan Allah SWT.
“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”
(QS. Ali ‘Imran: 173)
Dalam pandangan dakwah ideologis, kezhaliman terhadap para pengemban Islam sering muncul karena pertarungan antara kebenaran dan kebatilan memang tidak pernah berhenti. Cahaya tauhid selalu dibenci oleh sistem kehidupan yang dibangun di atas hawa nafsu dan kepentingan dunia.
3. Saat Perjuangan Terasa Berat dan Panjang
Jalan dakwah bukan jalan instan. Perubahan umat tidak terjadi dalam satu malam. Rasulullah SAW berdakwah selama 23 tahun dengan penuh pengorbanan.
Kadang seorang dai merasa lelah karena sedikitnya dukungan, minimnya penghargaan, dan beratnya tantangan. Namun yakinlah, Allah tidak pernah menyia-nyiakan amal orang-orang yang berjuang di jalan-Nya.
Setiap langkah menuju majelis ilmu dicatat. Setiap tetes keringat dalam perjuangan dicatat. Bahkan kegelisahan memikirkan umat pun bernilai ibadah jika dilakukan karena Allah.
Dalam perjalanan ruhani, rasa lelah itu justru menjadi kendaraan menuju ma’rifatullah. Sebab orang yang terus bertahan dalam dakwah akan merasakan bahwa tidak ada tempat bergantung selain Allah.
Sufisme mengajarkan bahwa puncak ketenangan bukan ketika ujian hilang, tetapi ketika hati tetap tenang bersama Allah di tengah badai ujian.
4. Saat Merasa Sendirian, Ketahuilah Allah Bersama Orang-Orang yang Menegakkan Kebenaran
Kadang pejuang dakwah merasa sendiri. Sedikit teman seperjuangan. Banyak yang menjauh. Bahkan orang dekat bisa berubah menjadi penentang.
Tetapi hakikatnya, seorang mukmin tidak pernah sendiri.
Allah bersama orang-orang yang sabar. Allah bersama orang-orang yang bertakwa. Allah bersama orang-orang yang memperjuangkan agama-Nya.
Kebersamaan Allah jauh lebih berharga daripada dukungan seluruh manusia.
Nabi Ibrahim AS pernah sendirian menghadapi satu negeri penyembah berhala. Rasulullah SAW pernah terusir dari Thaif dan dilempari batu. Namun pertolongan Allah datang pada waktu terbaik.
Maka jangan ukur kekuatan dakwah dengan jumlah pengikut. Ukurlah dengan sejauh mana Allah hadir di dalam hati kita.
Karena kemenangan sejati bukan sekadar menang secara duniawi, tetapi tetap istiqamah sampai akhir hayat.
5. Istiqamah di Tengah Ujian adalah Jalan Menuju Kemenangan
Istiqamah adalah karamah terbesar. Banyak orang semangat di awal, tetapi gugur di tengah jalan karena cinta dunia, takut kehilangan jabatan, atau haus pengakuan manusia.
Padahal kemenangan Islam selalu lahir dari orang-orang yang sabar menjaga prinsip.
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka...”
(QS. Fussilat: 30)
Istiqamah berarti tetap berada di jalan Allah meski sendirian. Tetap berdakwah meski dicaci. Tetap jujur meski rugi. Tetap taat meski sulit.
Di sinilah dimensi ideologis dan sufistik bertemu:
Ideologis, karena dakwah harus menjaga kemurnian aqidah dan syariat.
Sufistik, karena perjuangan harus dibangun di atas keikhlasan, cinta kepada Allah, dan penyucian hati.
Tanpa ruh spiritual, dakwah bisa berubah menjadi ambisi kekuasaan. Dan tanpa perjuangan ideologis, spiritualitas bisa kehilangan arah perjuangan umat.
Dakwah Adalah Jalan Kemuliaan
Wahai para pengemban dakwah, jangan takut terhadap kerasnya perjalanan. Karena sesungguhnya dunia hanyalah tempat singgah sementara.
Mungkin manusia tidak menghargaimu. Mungkin perjuanganmu tidak viral. Mungkin namamu tidak dikenal. Tetapi Allah mengetahui setiap niat, luka, dan pengorbananmu.
Kelak di akhirat, semua kesabaran akan dibalas dengan kemuliaan yang abadi.
Teruslah menyalakan cahaya dakwah. Teruslah menjadi penyeru kebenaran. Teruslah memperbaiki hati sebelum memperbaiki dunia.
Karena dakwah yang paling kuat adalah dakwah yang lahir dari hati yang dekat dengan Allah SWT.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang istiqamah, ikhlas dalam perjuangan, kuat menghadapi ujian, dan wafat dalam husnul khatimah. Aamiin.
Dr. Nasrul Syarif M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)