TintaSiyasi.id -- "Rupiah begini, rupiah begini, apa? Eh, dolar begini. Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan? Pangan aman, energi aman, ya. Banyak negara panik, Indonesia masih oke, " ujar Presiden Prabowo Subianto (bbc.com, 18/5/2026).
Presiden RI Prabowo Subianto juga mengatakan rakyat Indonesia tidak bermimpi mengalami kehidupan yang kaya raya, tetapi hidup layak. Hal itu disampaikan Prabowo saat menyampaikan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (K-PPKF/ pada Rapat Paripurna Ke- 19 DPR RI Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025- 2027 di kompleks parlemen DPR/ MPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu 20 Mei 2026 (CNNIndonesia, Rabu 20/5/2026).
Beberapa kutipan pidato tersebut diucapkan Presiden RI dalam agenda resminya belakangan waktu ini. Sebagai seorang pemimpin negara, tentu pernyataan yang disampaikan, terutama dalam forum resmi negara akan memberikan pengaruh untuk rakyat, terlebih saat ini keadaan masyarakat sedang terpuruk akibat kebijakan yang memberatkan hampir di seluruh lapisan masyarakat.
Dalam kehidupan bernegara, gaya komunikasi serta narasi yang disampaikan seorang pemimpin negara akan menjadi perhatian umum, terutama bila disampaikan di ruang publik. Mirisnya, fenomena yang sering keluar dari lisan para pemimpin saat ini cenderung asal bunyi (asbun) ketika menanggapi berbagai kelumit yang terjadi. Bahkan beberapa pernyataan memicu polemik di tengah-tengah masyarakat, yang akhirnya melahirkan tanggapan sinis, kecewa hingga masyarakat serasa kehilangan harapan akan pemimpin ideal yang sesuai ekspektasi.
Fakta menampilkan pernyataan asbun dari pemimpin bukan sekedar gaya komunikasi atau ciri khas seseorang, melainkan cerminan cara pandang pemimpin terhadap urusan publik serta pemahaman seseorang terhadap permasalahan yang dihadapi.
Pernyataan demi pernyataan yang disampaikan oleh para pemimpin negeri ini telah menunjukkan pola yang sama, yaitu adanya reduksi persoalan yang kompleks, menyepelekan masalah rakyat serta penawaran solusi yang sejatinya tidak menyentuh akar masalah. Rakyat akhirnya mempertanyakan apakah pemimpin serta para pejabat memang benar-benar memiliki kecakapan layaknya kriteria pemimpin ideal sesuai harapan?
Padahal, dalam Islam, seorang pemimpin atau pejabat bukan sekedar seorang individu yang bisa bebas berpendapat juga bebas membuat pernyataan. Pemimpin adalah pengurus urusan rakyat (raa'in) yang setiap ucapannya berhak direspon dan berkonsekuensi luas di khalayak umum. Selayaknya seorang pemimpin pun pemangku kebijakan merespons segala yang terjadi dengan pernyataan yang solutif, sistematis dan menyeluruh, sehingga narasi yang muncul akan mampu menyentuh inti dan akar permasalahan serta menciptakan solusi yang mutakhir. Karena ucapan pemimpin dan pejabat publik akan membentuk opini yang mempengaruhi kepercayaan masyarakat bahkan mampu mengarahkan rakyatnya dalam memahami dan menyikapi persoalan.
Islam sebagai agama juga pandangan hidup manusia, tidak datang hanya untuk mengatur ibadah ritual umat Islam saja, tetapi juga mengarahkan manusia dalam cara berpikir, bertindak dan menjalani hidup, baik sebagai individu juga masyarakat. Karena Islam adalah mabda, yang menjadikan aqidah sebagai landasan berpikir dan syariat sebagai aturan kehidupan.
Syariat Islam itu lengkap, meliputi aqidah (keyakinan kepada Allah), ibadah, akhlaq, hidup sebagai individu, berkeluarga, bermasyarakat, hingga bernegara. Maka fenomena munculnya pernyataan asbun dari pemimpin tidak akan terjadi, digantikan pemimpin yang layak, yaitu cakap kompetensinya, mampu mengemban amanah kepemimpinan, mampu memahami realitas dan bisa mengkaitkan berbagai persoalan serta memiliki cara pandang politik yang benar dalam mengelola urusan umat berdasarkan Islam.
Maka dari itu, pemimpin tidak boleh melepaskan diri dari tanggung jawab ilmu ketika berbicara tentang urusan rakyatnya. Allah berfirman, "Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya,” (TQS al- Isra' (17): 36).[]
Oleh: Sandhi Indrati
Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok