Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Jurnalis: Solusi Dua Negara Melanggengkan Penjajahan di Palestina

Selasa, 09 Juni 2026 | 13:20 WIB Last Updated 2026-06-09T06:20:29Z

TintaSiyasi.id -- Merespons pernyataan Presiden Prabowo Subianto (Mei 2025) yang kembali menegaskan dukungan Indonesia terhadap gagasan solusi dua negara, Jurnalis Joko Prasetyo menegaskan solusi dua negara melanggengkan penjajahan Zionis Yahudi atas Palestina. “Solusi dua negara itu melanggengkan penjajahan Zionis Yahudi atas Palestina,” tandasnya.

 

Selain itu, ia juga menyatakan bahwa Presiden Prancis Emmanuel Macron (April–Juni 2025) terus mendorong pengakuan negara Palestina dalam koridor Solusi Dua Negara. "PBB dan sejumlah negara lain pun kembali menggelar berbagai forum internasional untuk menghidupkan agenda yang sama," ungkapnya kepada TintaSiyasi.ID, Ahad (07/06/2026).

 

"Gagasan solusi dua negara bukanlah konsep baru. Selama puluhan tahun dunia internasional telah menjadikannya sebagai resep utama penyelesaian konflik Palestina," tambahnya.

 

"Konferensi demi konferensi digelar. Resolusi demi resolusi diterbitkan. Negosiasi demi negosiasi dilakukan. Perjanjian Oslo ditandatangani. Berbagai forum perdamaian dibentuk. Namun apa hasilnya? Israel semakin kuat secara politik, ekonomi, dan militer. Pemukiman Zionis Yahudi terus meluas. Wilayah Palestina semakin menyempit. Gaza tetap diblokade. Ribuan rakyat sipil terus menjadi korban agresi," jelasnya.

 

Ironisnya, ia katakan, setiap kali situasi memburuk, dunia kembali menawarkan resep yang sama “solusi dua negara”.

 

Menurut Om Joy, sapaan akrabnya, seolah kegagalan puluhan tahun terakhir bukanlah bukti bahwa ada sesuatu yang salah pada paradigma yang digunakan.

 

"Di sinilah persoalan yang lebih mendasar," tegasnya.

 

Menurutnya lagi, kapitalisme internasional memandang Palestina sebagai sengketa politik yang harus diselesaikan melalui kompromi, negosiasi, dan pembagian wilayah.

 

"Akibatnya, penjajahan diperlakukan seperti sengketa biasa yang dapat dinegosiasikan di meja perundingan," imbuhnya.

 

"Padahal bagi kaum Muslim, Palestina bukan sekadar konflik perbatasan. Palestina adalah negeri yang dijajah," jelasnya.

 

“Ketika solusi dua negara membagi Palestina menjadi wilayah Israel dan wilayah Palestina, muncul pertanyaan mendasar: bukankah ini berarti menerima sebagian hasil penjajahan sebagai sesuatu yang sah?” katanya

 

Om Joy menjelaskan, dalam pandangan Islam, Palestina termasuk tanah kharajiah (wilayah yang pernah dibebaskan dan menjadi bagian permanen Daulah Islam). "Tanah yang telah menjadi bagian dari Darul Islam tidak gugur statusnya hanya karena diduduki atau dirampas penjajah. Ia tetap wajib dipertahankan dan dibebaskan," lanjutnya.

 

"Dari sudut pandang inilah, solusi dua negara dipandang bukan sebagai pengakhiran penjajahan, melainkan pengakuan politik terhadap sebagian hasil penjajahan tersebut," jelasnya lagi.

 

Ia menilai, perbedaan cara pandang ini melahirkan perbedaan solusi. "Jika masalahnya dianggap sengketa wilayah, maka solusi yang ditawarkan adalah kompromi wilayah. Namun jika masalahnya adalah penjajahan, maka solusi yang dibutuhkan adalah mengakhiri penjajahan," terangnya.

 

"Karena itu, pertanyaan yang jarang diajukan adalah 'mengapa umat Islam terus diminta berkompromi dengan hasil penjajahan?'," tanya Om Joy.

 

"Bukankah solusi dua negara pada hakikatnya mengakui keberadaan permanen entitas penjajah di tanah Palestina?" tanyanya lagi.

 

Ia tegaskan lagi kritik mendasar terhadap solusi dua negara. "Ia tidak menghapus penjajahan. Ia hanya berusaha membuat penjajahan dapat diterima melalui kesepakatan politik internasional,” tandasnya.

 

Bukan Isu Lokal

 

Menurut Om Joy, bagi kaum Muslim, Palestina bukan urusan satu bangsa atau satu wilayah semata. “Di sana berdiri Masjidilaqsa, kiblat pertama kaum Muslim dan salah satu masjid yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam sebagai tempat suci ketiga setelah Makkah dan Madinah,” tuturnya.

 

Karena itu, ia katakan, Palestina bukan sekadar persoalan rakyat Palestina. “Palestina adalah urusan umat Islam secara keseluruhan,” tegasnya.

 

"Namun sejak runtuhnya khilafah dan terpecahnya dunia Islam ke dalam puluhan negara bangsa, Palestina perlahan dipersempit menjadi masalah lokal yang harus ditanggung sendiri oleh rakyat Palestina," ujarnya.

 

"Akibatnya, umat hanya menjadi penonton tragedi yang terus berulang. Mereka mengutuk penjajahan, mengirim bantuan kemanusiaan, menghadiri konferensi, lalu kembali menyaksikan agresi berikutnya," sambungnya.

 

"Siklus ini terus berulang tanpa pernah menyentuh akar persoalan," tandasnya.

 

Jejak Sejarah

 

Om Joy mangatakan bahwa sejarah justru menunjukkan pelajaran yang berbeda. “Palestina masuk ke dalam naungan pemerintahan Islam pada masa Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu,” kisahnya.

 

“Ketika Al-Quds diserahkan kepada kaum Muslim pada tahun 638 M, Umar datang langsung ke kota tersebut dan memberikan jaminan keamanan bagi penduduknya melalui perjanjian yang dikenal sebagai Ahdah Umariyah,” lanjutnya.

 

"Sejak saat itu Palestina menjadi bagian dari Khilafah Islam selama berabad-abad. Al-Quds berkembang sebagai kota penting dalam peradaban Islam dan berbagai komunitas hidup di bawah perlindungan pemerintahan Islam," paparnya.

 

"Namun ketika tentara Salib menduduki Al-Quds pada tahun 1099 M, sejarah mencatat terjadinya pembantaian besar terhadap penduduk kota tersebut. Palestina kembali berada di bawah penjajahan asing," ungkapnya.

 

Om Joy juga mengungkapkan, hampir satu abad kemudian, Shalahuddin al-Ayyubi rahimahullah berhasil menyatukan kekuatan kaum Muslim dan membebaskan Al-Quds setelah kemenangan dalam Pertempuran Hittin pada tahun 1187 M.

 

"Perhatikan baik-baik. Palestina masuk ke dalam naungan Islam bukan melalui konferensi internasional. Al-Quds tidak dibebaskan melalui resolusi global. Shalahuddin tidak membebaskan Palestina melalui kompromi pembagian wilayah. Semua itu terjadi karena adanya persatuan politik umat yang ditopang oleh kekuatan negara," jelasnya.

 

Solusi

 

"Di tawaran solusilah benturan paling mendasar antara kapitalisme versus Islam," ungkap Om Joy.

 

Ia menyebutkan bahwa kapitalisme menawarkan solusi semu dengan diplomasi tanpa kekuatan yang memadai. “Islam menawarkan solusi tepat dengan kekuatan untuk mengakhiri penjajahan,” ujarnya.

 

"Kapitalisme menawarkan kompromi dengan realitas yang ada. Islam menawarkan perubahan terhadap realitas yang zalim. Kapitalisme menawarkan solusi dua negara. Islam menawarkan jihad fi sabilillah untuk membebaskan negeri-negeri Muslim yang dijajah," lanjutnya.

 

Lebih lanjut, Om Joy katakan, memang jihad yang berjalan selama ini merupakan amal saleh yang patut diapresiasi. “Namun sejarah menunjukkan, pembebasan negeri-negeri Muslim dari penjajahan tidak pernah ditopang oleh keberanian individu semata, melainkan oleh kekuatan politik dan militer negara yang dijalankan secara terorganisasi,” bebernya.

 

"Karena itu, Islam juga menetapkan khilafah sebagai thariqah (metode baku) untuk menerapkan syariat Islam secara kaffah, menyatukan potensi umat, menjaga kehormatan kaum Muslim, dan melindungi wilayah-wilayah Islam dari penjajahan," tandasnya.

 

Menurutnya, tanpa persatuan politik umat, Palestina akan terus menjadi bahan pembahasan dalam forum internasional. “Dibicarakan, dinegosiasikan, diperdebatkan, tetapi tidak benar-benar dibebaskan,” katanya menyayangkan.

 

Hisab

 

Menurut Om Joy, persoalan Palestina tidak berhenti pada urusan geopolitik. "Ada pertanyaan yang jauh lebih besar, bagaimana semua sikap ini akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.?" retorisnya.

 

Sebab Om Joy menilai, Palestina bukan sekadar isu politik. “Palestina adalah tanah kaum Muslim yang dijajah. Darah yang tertumpah di Gaza bukan sekadar angka statistik yang muncul di layar televisi. Semua itu akan menjadi bahan hisab pada Hari Kiamat,” ujarnya.

 

"Rasulullah saw. bersabda, ‘Imam adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya.’," nukilnya dari hadis riwayat Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim.

 

Karena itu, ia katakan, yang akan dihisab bukan seberapa banyak konferensi perdamaian yang dihadiri, bukan pula seberapa indah pidato diplomatik yang disampaikan.

 

"Yang akan dihisab adalah apakah penjajahan dilawan atau justru dibiarkan terus berlangsung. Berapa banyak lagi konferensi yang harus digelar? Berapa banyak lagi resolusi yang harus diterbitkan? Berapa banyak lagi generasi Palestina yang harus lahir di bawah penjajahan?" tanyanya.

 

"Fakta bahwa penjajahan terus berlangsung menunjukkan yang gagal bukan sekadar diplomasi, melainkan paradigma yang menjadikan penjajah sebagai pihak yang harus diajak berkompromi apalagi dilegitimasi dengan dua negara sebagai solusi," terangnya.

 

Karena itu, ia kembali menilai bahwa persoalan Palestina tidak akan selesai hanya dengan pengakuan negara demi negara. "Persoalan Palestina akan selesai ketika penjajahan itu sendiri berakhir," tandasnya.

 

"Dan Islam tidak hanya menawarkan cita-cita, tetapi juga metode bakunya: jihad fi sabilillah dalam naungan Khilafah 'ala Minhajin Nubuwwah yang menyatukan kekuatan umat, menerapkan syariat Islam secara kaffah, serta menjaga kehormatan dan tanah kaum Muslim dari penjajahan. Allahu Akbar!" tutupnya.[] Lanhy Hafa

Opini

×
Berita Terbaru Update