TintaSiyasi.id -- Pendahuluan: Krisis Makrifat di Zaman Modern
Di tengah kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan peradaban modern, manusia justru mengalami krisis yang paling mendasar, yaitu krisis makrifat kepada Allah. Manusia mampu menjelajahi angkasa, menembus dasar samudra, dan menguasai kecerdasan buatan, tetapi sering gagal mengenali tujuan hidupnya sendiri. Akibatnya, lahirlah kegelisahan, kekosongan spiritual, kehilangan makna hidup, dan kerusakan moral yang semakin meluas.
Dalam perspektif Islam, akar seluruh krisis kemanusiaan sesungguhnya adalah krisis pengenalan terhadap Allah. Ketika manusia lupa kepada Allah, ia pun lupa kepada dirinya sendiri. Allah SWT berfirman: "Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri."
(QS. Al-Hasyr: 19)
Karena itu, tujuan tertinggi dakwah bukan hanya mengajarkan hukum halal dan haram, bukan pula sekadar membangun identitas keagamaan, melainkan mengantarkan manusia menuju makrifatullah—mengenal Allah dengan pengenalan yang benar sehingga seluruh hidupnya tunduk kepada-Nya.
Di antara ulama besar yang memberikan penjelasan mendalam tentang makrifat adalah Imam Izzuddin bin Abdussalam, yang dikenal sebagai Sulthanul Ulama (Pemimpin Para Ulama). Beliau memadukan kedalaman ilmu syariat, ketajaman pemikiran ideologis, dan kejernihan spiritualitas tasawuf.
Makrifat: Tujuan Tertinggi Penciptaan Manusia
Makrifat berasal dari kata 'arafa yang berarti mengetahui, mengenal, dan menyadari.
Namun makrifat kepada Allah bukan sekadar mengetahui bahwa Allah ada.
Iblis pun mengetahui Allah ada.
Orang-orang musyrik Quraisy pun mengakui Allah sebagai Pencipta.
Tetapi makrifat adalah pengenalan yang melahirkan:
• Ketundukan total.
• Kecintaan mendalam.
• Ketaatan tanpa syarat.
• Penghambaan yang tulus.
• Kesadaran terus-menerus akan kehadiran Allah.
Makrifat adalah ketika ilmu berubah menjadi cahaya hati.
Seseorang tidak hanya mengetahui Allah dengan akalnya, tetapi juga merasakan pengawasan-Nya, mencintai-Nya, takut kepada-Nya, berharap kepada-Nya, dan menyerahkan seluruh hidupnya kepada-Nya.
Karena itu para ulama mengatakan:
"Awal agama adalah mengenal Allah, dan akhir perjalanan para wali juga mengenal Allah."
Makrifat adalah awal sekaligus akhir perjalanan spiritual manusia.
Menurut Izzuddin bin Abdussalam, Hakikat Dzat Allah Tidak Dapat Dijangkau
Salah satu prinsip penting yang diajarkan Imam Izzuddin bin Abdussalam adalah bahwa manusia tidak akan pernah mampu mengetahui hakikat Dzat Allah secara sempurna.
Allah tidak dapat dicakup oleh pikiran.
Allah tidak dapat dibatasi oleh imajinasi.
Allah tidak dapat diukur oleh logika manusia.
Semakin tinggi makrifat seseorang, semakin ia menyadari keterbatasan dirinya.
Para arif justru semakin merasakan ketidakmampuan mereka mengenal Allah secara sempurna.
Inilah makna firman Allah:
"Mereka tidak mengetahui Allah dengan pengenalan yang semestinya."
(QS. Az-Zumar: 67)
Makrifat sejati bukan merasa telah sampai kepada Allah.
Makrifat sejati adalah kesadaran bahwa Allah Maha Agung di luar jangkauan seluruh makhluk.
Jalan Pertama: Mengenal Allah Melalui Asmaul Husna
Menurut Imam Izzuddin bin Abdussalam, pintu terbesar menuju makrifat adalah memahami nama-nama Allah.
Allah memperkenalkan diri-Nya melalui Asmaul Husna.
Ketika seseorang memahami bahwa Allah adalah:
• Ar-Rahman (Maha Pengasih),
• Ar-Rahim (Maha Penyayang),
• Al-'Alim (Maha Mengetahui),
• Al-Hakim (Maha Bijaksana),
• Al-Qadir (Maha Kuasa),
maka ia mulai mengenal Rabb-nya.
Namun makrifat tidak berhenti pada hafalan nama.
Makrifat adalah menyaksikan manifestasi nama-nama Allah dalam kehidupan.
Ketika melihat kasih sayang seorang ibu, ia mengingat Ar-Rahman.
Ketika melihat keadilan Allah dalam sejarah, ia mengingat Al-'Adl.
Ketika melihat keindahan alam semesta, ia mengingat Al-Jamil.
Seluruh alam menjadi cermin yang memantulkan nama-nama Allah.
Jalan Kedua: Tadabbur Alam Semesta
Imam Izzuddin bin Abdussalam mengajarkan bahwa alam semesta adalah kitab terbuka yang penuh dengan ayat-ayat Allah.
Langit adalah ayat.
Bumi adalah ayat.
Matahari adalah ayat.
Tubuh manusia adalah ayat.
Sejarah umat manusia adalah ayat.
Semakin seseorang merenungkan ciptaan Allah, semakin bertambah makrifatnya.
Allah berfirman:
"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri."
(QS. Fussilat: 53)
Seorang mukmin tidak melihat alam hanya sebagai benda mati.
Ia melihatnya sebagai jendela menuju Allah.
Ia tidak berhenti pada ciptaan, tetapi menembus kepada Sang Pencipta.
Jalan Ketiga: Ketaatan kepada Syariat
Dalam dakwah ideologis Islam, syariat bukan sekadar aturan hukum.
Syariat adalah jalan menuju Allah.
Banyak orang ingin mencapai hakikat tetapi meremehkan syariat.
Mereka ingin memperoleh cahaya tanpa menyalakan pelita.
Padahal para ulama menegaskan:
"Setiap hakikat yang bertentangan dengan syariat adalah kesesatan."
Imam Izzuddin bin Abdussalam menegaskan bahwa makrifat tidak mungkin diperoleh melalui kemaksiatan.
Shalat adalah jalan makrifat.
Puasa adalah jalan makrifat.
Zakat adalah jalan makrifat.
Jihad melawan hawa nafsu adalah jalan makrifat.
Semakin sempurna penghambaan seseorang, semakin dekat ia kepada Allah.
Karena hakikat ubudiyah adalah hakikat makrifat.
Jalan Keempat: Tazkiyatun Nafs
Hati adalah wadah cahaya makrifat.
Namun hati yang dipenuhi penyakit tidak mampu menerima cahaya tersebut.
Penyakit hati yang paling berbahaya adalah:
• Kesombongan.
• Riya'.
• Ujub.
• Dengki.
• Cinta dunia berlebihan.
• Ambisi kekuasaan.
• Ketamakan harta.
Karena itu perjalanan menuju makrifat adalah perjalanan membersihkan hati.
Tasawuf yang benar bukan melarikan diri dari dunia.
Tasawuf adalah membersihkan hati agar mampu menjalankan amanah Allah dengan benar.
Hati yang bersih akan menjadi cermin yang memantulkan cahaya ketuhanan.
Jalan Kelima: Mengenal Kelemahan Diri
Para ulama mengatakan:
"Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya."
Ketika seseorang menyadari bahwa dirinya lemah, ia mengenal Allah Yang Maha Kuat.
Ketika ia menyadari dirinya miskin, ia mengenal Allah Yang Maha Kaya.
Ketika ia menyadari dirinya fana, ia mengenal Allah Yang Maha Kekal.
Makrifat lahir dari kerendahan hati.
Karena itu orang yang paling jauh dari makrifat sering kali adalah orang yang paling bangga dengan dirinya.
Makrifat dan Dakwah Perubahan Peradaban
Makrifat menurut Imam Izzuddin bin Abdussalam bukanlah spiritualitas pasif.
Beliau sendiri adalah ulama yang berani menghadapi penguasa zalim.
Beliau mengajarkan bahwa orang yang benar-benar mengenal Allah tidak akan takut kepada selain Allah.
Makrifat melahirkan:
• Keberanian melawan kezaliman.
• Kejujuran dalam berdakwah.
• Keteguhan memegang prinsip.
• Kepedulian terhadap umat.
• Perjuangan menegakkan keadilan.
Makrifat bukan membuat manusia menjauh dari masyarakat.
Makrifat justru membuat manusia menjadi rahmat bagi masyarakat.
Orang yang mengenal Allah akan mencintai makhluk-Nya.
Orang yang mengenal Allah akan memperjuangkan kemaslahatan umat.
Orang yang mengenal Allah akan membangun peradaban yang berlandaskan tauhid.
Tingkatan-Tingkatan Perjalanan Menuju Makrifat
Perjalanan menuju makrifat dapat diringkas sebagai berikut:
Ilmu → Iman → Amal → Mujahadah → Tazkiyah → Mahabbah → Makrifat
Ilmu membuka pintu.
Iman menghidupkan keyakinan.
Amal menguatkan keimanan.
Mujahadah membersihkan jiwa.
Tazkiyah menyucikan hati.
Mahabbah menumbuhkan cinta.
Makrifat menghadirkan kedekatan kepada Allah.
Namun setelah makrifat, perjalanan tidak berhenti.
Semakin mengenal Allah, semakin besar rasa takut dan cinta kepada-Nya.
Semakin dekat kepada Allah, semakin besar kerendahan hati.
Semakin tinggi maqam seseorang, semakin ia merasa belum melakukan apa-apa di hadapan Allah.
Penutup: Makrifat sebagai Cahaya Kehidupan
Makrifat bukan sekadar konsep intelektual.
Makrifat adalah cahaya yang mengubah cara pandang manusia terhadap hidup, dunia, dan akhirat.
Orang yang telah mencicipi makrifat tidak lagi menjadikan dunia sebagai tujuan, melainkan sebagai sarana menuju Allah.
Ia bekerja karena Allah.
Ia berjuang karena Allah.
Ia mencintai karena Allah.
Ia memberi karena Allah.
Ia hidup bersama Allah dan berharap kembali kepada Allah.
Inilah jalan yang diajarkan Imam Izzuddin bin Abdussalam: jalan yang memadukan tauhid yang kokoh, syariat yang tegak, akhlak yang mulia, perjuangan yang berani, dan tasawuf yang murni.
Pada akhirnya, makrifat bukanlah merasa telah sampai kepada Allah, melainkan terus berjalan menuju-Nya dengan penuh kerendahan hati, hingga tiba saat kembali kepada-Nya dalam keadaan hati yang bersih.
"Ya Allah, anugerahkan kepada kami ilmu yang menuntun kepada makrifat, amal yang mengantarkan kepada kedekatan, hati yang dipenuhi mahabbah, dan kehidupan yang seluruhnya menjadi jalan menuju ridha-Mu. Aamiin."
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Spiritual Motivator Nasional Quantum Spirit)