TintaSiyasi.id -- Renungan Dakwah Ideologis–Sufistik tentang Amanah, Keadilan, dan Keberkahan
"Bagaimana mungkin negeri yang dikaruniai Allah kekayaan alam yang melimpah justru mengalami kekurangan energi?"
Pertanyaan ini bukan sekadar pertanyaan ekonomi. Ia adalah pertanyaan moral, pertanyaan peradaban, dan pertanyaan keimanan.
Indonesia dianugerahi Allah dengan gunung-gunung yang menyimpan batu bara, minyak, gas, nikel, emas, tembaga, hutan yang luas, laut yang kaya, dan tanah yang subur. Namun, tidak jarang masyarakat menghadapi pemadaman listrik, kenaikan biaya hidup atau berbagai kesulitan dalam mengakses kebutuhan dasar.
Bagi seorang mukmin, setiap ironi bukan hanya dilihat sebagai persoalan teknis, tetapi juga sebagai bahan muhasabah. Allah mengajarkan agar kita membaca realitas dengan mata ilmu sekaligus mata hati.
Allah Swt., berfirman:
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian akibat dari perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Ar-Rum: 41).
Ayat ini mengingatkan bahwa berbagai persoalan dapat menjadi panggilan untuk memperbaiki tata kelola, akhlak, dan tanggung jawab sebagai khalifah di bumi.
Allah Pemilik Sejati Seluruh Kekayaan Alam
Gunung-gunung batu bara bukan milik korporasi, bukan milik individu, bahkan bukan milik penguasa. Semuanya adalah milik Allah.
Manusia hanyalah penerima amanah.
Allah berfirman:
"Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang telah Dia berikan kepadamu."
(QS. An-Nur: 33).
Oleh karena itu, siapa pun yang mengelola sumber daya alam harus menyadari bahwa ia sedang memegang amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Krisis Sesungguhnya Adalah Krisis Amanah
Sejarah menunjukkan bahwa banyak negeri miskin sumber daya mampu maju karena tata kelolanya baik. Sebaliknya, banyak negeri kaya justru menghadapi berbagai persoalan ketika amanah, integritas, dan keadilan melemah.
Rasulullah Saw., bersabda:
"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya."
Hadis ini berlaku bagi setiap pemegang amanah sesuai kapasitasnya: Pemimpin negara, pejabat, pengusaha, pengelola sumber daya hingga masyarakat.
Keberkahan Tidak Hanya Diukur dari Banyaknya Kekayaan
Islam membedakan antara banyak dan berkah.
Banyak harta belum tentu membawa ketenteraman. Sebaliknya, keberkahan menjadikan nikmat yang ada memberi manfaat luas.
Allah berfirman:
"Sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi." (QS. Al-A'raf: 96).
Keberkahan lahir dari iman, kejujuran, keadilan, kerja keras, dan amanah.
Pandangan Sufistik: Membersihkan Hati Sebelum Mengelola Negeri
Para ulama tasawuf mengingatkan bahwa kerusakan besar sering kali bermula dari penyakit hati.
Ketamakan melahirkan eksploitasi.
Cinta dunia melahirkan pengkhianatan amanah.
Kesombongan membuat manusia lupa bahwa semua nikmat berasal dari Allah.
Hati yang bersih akan melahirkan kebijakan yang adil. Hati yang dipenuhi hawa nafsu dapat menyeret manusia kepada keputusan yang hanya menguntungkan sebagian pihak.
Oleh karena itu, pembaruan peradaban tidak cukup dengan pembangunan fisik, tetapi juga membutuhkan pembangunan ruhani.
Membangun Peradaban Amanah
Islam mengajarkan bahwa kemajuan tidak hanya diukur oleh besarnya produk domestik, tetapi juga oleh:
tegaknya keadilan
terjaganya amanah
terlindunginya hak masyarakat
dan terpeliharanya kemaslahatan umum.
Negeri akan menjadi kuat jika ilmu, akhlak, profesionalisme, dan ketakwaan berjalan beriringan.
Muhasabah untuk Kita Semua
Sebelum menyalahkan orang lain, marilah bertanya kepada diri sendiri:
Sudahkah kita jujur dalam pekerjaan?
Sudahkah kita menjaga amanah sekecil apa pun?
Sudahkah kita menggunakan nikmat Allah dengan penuh rasa syukur?
Sudahkah kita mendoakan para pemimpin agar diberi petunjuk dan kekuatan untuk berlaku adil?
Perubahan besar selalu dimulai dari perubahan hati.
Allah berfirman:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11).
Penutup: Menjemput Keberkahan Negeri
Indonesia bukan negeri yang miskin. Allah telah mengaruniainya kekayaan alam yang luar biasa. Tantangan terbesar bukan semata-mata jumlah sumber daya, melainkan bagaimana amanah itu dikelola dengan ilmu, integritas, keadilan, dan rasa tanggung jawab kepada Allah.
Marilah kita berdoa agar Allah menjadikan negeri ini negeri yang baldatun ṭayyibatun wa rabbun ghafūr—negeri yang baik, makmur, adil, dan memperoleh ampunan-Nya.
Semoga setiap pemimpin, pengelola sumber daya, dan seluruh rakyat Indonesia diberi hati yang takut kepada Allah, cinta kepada keadilan, dan semangat untuk membangun peradaban yang menghadirkan kemaslahatan bagi semua. Aamiin ya Rabbal 'Alamin.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa