Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Dunia Pendidikan Berduka, Salah Siapa?

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:23 WIB Last Updated 2026-06-17T23:23:41Z
Tintasiyasi.id.com -- Dunia pendidikan kembali menorehkan cerita pilu. Kali ini pesantren sebagai corong pendidikan berbasis Islam yang menjunjung adab dan keilmuan tak luput dari fenomena bullying. 

Tiga santri di Pondok Pesantren Lombok Tengah diduga sengaja dibakar oleh seniornya. Mirisnya bahwa pihak pesantren lepas tanggung jawab atas kasus tersebut. 

Nyatanya kasus ini sudah sering terjadi. FSGI mencatat 60 kasus kekerasan di satuan pendidikan sepanjang 2025, naik drastis dari 36 kasus di 2024 dan hanya 15 kasus di 2023, dengan 358 korban dan 126 pelaku. Tentunya ini harus menjadi catatan serius bagi dunia pendidikan khususnya pesantren. 

Pesantren dengan pola pendidikan boarding yang aktif 24 jam. Bullying tentu akan menjadi tantangan tersendiri. Selain itu sistem kasta senioritas tak kalah menjadi budaya warisan dari generasi sebelumnya yang turut memicu kondisi ini. 

Sistem pendidikan saat dalam kapitalisme saat ini adalah sistem pendidikan sekuler. Memisahkan antara agama dan dunia. Bahkah seolah tidak lagi mencerminkan tujuan utamanya untuk menciptakan generasi mulia dan bermatabat. Sehingga tidak heran jika generasi yang dihasilkan adalah generasi yang jauh dari nilai-nilai kebaikan. 

Sistem pendidikan sekuler juga hanya berorientasi pada pencapaian akademik dan materi semata. Dengan mengesampingkan pembentukan kepribadian Islam. Akibatnya generasi hanya tumbuh dalam lingkungan yang minim akhlak dan kekerasan tumbuh subur.

Sistem pendidikan tidaklah berdiri sendiri. Ketidakmampuan sistem pendidikan membentuk pribadi mulia tentunya didukung oleh gagalnya negara sebagai penanggung jawab atas rakyatnya. 

Negara tidak mempu menganalisa akar masalah yang tengah terjadi dan hanya menyelesaikan permasalahan cabang. Sehingga tak ayal bahwa kasus serupa akan sangat mungkin kembali terjadi. 

Diantaranya adalah bahwa sanksi yang diberikan oleh negara tidak mampu memberikan efek jera bagi pelaku dengan alasan dibawah umur. Kondisi ini memicu dendam bagi pelaku dan tidak jarang korban akan bertransformasi menjadi pelaku tersebab ketidakmampuan negara mengatasi permasalahan ini dengan baik. 

Dalam Islam bullying merupakan tidakan berdosa. Maka Islam akan membentuk ketaqwaan individu sebagai pondasi awal. Individu yang sudah memiliki keimanan dan ketaqwaan kokoh akan menjadi pribadi matang yang senantiasa terikat dengan syariat. 

Sistem pendidikan Islam akan mencetak generasi berakhlak mulia dan cerdas sehingga mampu menjadi generasi terbaik. Ini bisa dibuktikan bagaimana banyak ilmuwan muslim yang menjadi ujung tombak berkembangnya keilmuan modern hari ini. 

Sebut saja al khawarizmi, ibnu sina, ibnu al haitsam dan sebagaimana. Mereka adalah ilmuwan muslim yang tidak hanya memiliki kecerdasan akademik tapi juga spiritual dan akhlak mulia.

Negara khilafah juga hadir penuh untuk mendukung pendidikan mampu diperoleh dengan baik oleh seluruh warga daulah. Terbukti dari bagaimana dari masa ke masa negara Khilafah akan menggratiskan pendidikan mulai dari jenjang dasar sampai pendidikan tinggi. 

Negara juga memberikan apresiasi kepada para ilmuwan dan peneliti atas karya mereka. Jika berupa jurnal dan buku maka akan diganjar emas seberat karya mereka. 

Negara juga memiliki sanksi tegas sebagai mekanisme terakhir mengatasi permasalahan bullying. Dalam Islam seorang yang telah baligh wajib menanggung beban syariat atas perbuatannya. Ini adalah aksi nyata oleh khilafah untuk menyelesaikan bullying. Wallahu a'laam bishshowwab.[]

Oleh: Yosi E. Purwanti, S.E
(Aktivis Muslimah)

Opini

×
Berita Terbaru Update