Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Penyembuh Kelalaian

Jumat, 08 Mei 2026 | 11:25 WIB Last Updated 2026-05-08T04:26:01Z
TintaSiyasi.id -- Jalan Sadar Menuju Allah ala Imam Junaid al-Baghdadi

Pendahuluan: Ketika Hati Tidak Lagi Merasa

Ada satu penyakit yang tidak tampak, namun menghancurkan kehidupan manusia dari dalam—itulah ghaflah (kelalaian).
Ia tidak melukai tubuh, tetapi mematikan hati.
Ia tidak menjadikan manusia miskin harta, tetapi melepaskan ruh dari makna.
Kelalaian adalah ketika:
• Mata melihat, tapi tidak mengambil ibrah
• Telinga mendengar, tapi tidak ada kebenaran
• Hati hidup, tapi tidak mengenal Allah
Dalam dunia modern yang bising, manusia justru semakin jauh dari pusat ketenangan: Allah SWT.
Dan di dalamnya ajaran sufistik dari Imam Junaid al-Baghdadi hadir sebagai obat ruhani yang mendalam.

Bab I: Hakikat Kelalaian dalam Pandangan Tasawuf
Menurut para sufi, kelalaian bukan sekedar lupa, tetapi:
“Terputusnya hati dari kehadiran Allah.”
Kelalaian melahirkan:
• Cinta dunia berlebihan
• Kerasnya hati
• Hilangnya rasa takut dan harap kepada Allah
• Ibadah yang kering tanpa ruh
Imam Junaid menegaskan:
“Seorang hamba tidak akan sampai kepada Allah, selama ia masih sibuk dengan selain-Nya.”
Kelalaian adalah hijab (penghalang).
Dan selama hijab itu belum terungkap, manusia hanya berjalan dalam bayang-bayang.

Bab II: Akar Kelalaian – Mengapa Hati Menjadi Mati?
Ada sebab beberapa penyakit utama ghaflah:
1. Dominasi Hawa Nafsu
Nafsu selalu menarik manusia pada kesenangan sesaat, menjauhkan dari keabadian.
2. Ke tergantungan pada Dunia
Dunia bukan masalah, tapi ketergantungannya adalah awal kehancuran ruhani.
3. Minimnya Dzikir
Hati-hati melihat cermin. Jika tidak dibersihkan dengan dzikir, ia akan berkarat.
4. Jauh dari Lingkungan Shalih
Hati mudah mati jika tidak berada dalam lingkungan yang mengingatkan kepada Allah.

Bab III: Resep Penyembuh Kelalaian ala Imam Junaid
 1. Dzikir yang Menghidupkan Hati
Dzikir bukan sekedar lisan, tetapi kehadiran hati.
“Dzikir adalah api yang merugikan kejahatan.”
Mulailah dengan:
• Istighfar
• Tasbih
• Tahlil (La ilaha إلا الله)
Namun bukan jumlah yang utama,
melainkan kehadiran hati saat berdzikir.

 2. Mujahadah: Melawan Diri Sendiri
Perjuangan terbesar bukan melawan orang lain, melainkan melawan diri sendiri.
Imam Junaid berkata:
“Jalan menuju Allah tertutup oleh nafsumu, maka perangilah ia.”
Mujahadah meliputi:
• Menahan syahwat
• Mengontrol emosi
• Mengalahkan ego

 3. Fana' (Melebur dalam Kehadiran Allah)
Ini adalah puncak perjalanan sufistik.
Fana' bukan berarti hilang secara fisik,
tetapi:
• Hilangnya ego
• Hilangnya keakuan
• Tersisanya hanya Allah dalam hati

 4. Iltizam Syariat (Konsistensi dalam Hukum Allah)
Inilah keistimewaan ajaran Junaid:
“Semua jalan tertutup kecuali bagi yang mengikuti Al-Qur'an dan Sunnah.”
Tasawuf tanpa syariat adalah kesesatan.
Syariat tanpa ruh adalah kekeringan.

 5. Suhbah (Bersama Orang Shalih)
Lingkungan menentukan arah hati.
Bersama orang yang mengingat Allah:
• Hati menjadi hidup
• Iman menjadi kuat
• Kelalaian perlahan hilang

Bab IV: Tanda-Tanda Hati yang Mulai Sembuh
Jika seseorang mulai keluar dari kelalaian, maka akan tampak:
 Mudah menangis ketika mengingat Allah
 Merasa berat melakukan maksiat
 Rindu kepada ibadah
 Tidak lagi bergantung pada dunia
 Hatinya tenang meski ujian datang

Bab V: Relevansi di Zaman Modern
Hari ini, manusia:
• Tenggelam dalam gadget
• Dikuasai oleh notifikasi
• Sibuk dengan citra, lupa makna
Kelalaian modern bukan hanya melupakan Allah,
tapi menggantikan Allah dengan dunia digital.
Maka ajaran Imam Junaid menjadi sangat relevan:
 Kembali kepada
 Kembali kepada dzikir
 Kembali kepada kehadiran hati

Penutup: Kembali Sebelum Terlambat
Wahai jiwa yang lelah…
Kelalaian mungkin sudah lama menguasainya,
tapi pintu Allah tidak pernah tertutup.
Jangan tunggu hati menjadi keras,
jangan tunggu ajal datang tanpa kesiapan.
Mulai dari sekarang:
• Satu dzikir dengan hati
• Satu taubat dengan air mata
• Satu langkah menuju Allah
serupa dengan jalan Imam Junaid al-Baghdadi:
“Siapa yang jujur ​​dalam mencari Allah, maka Allah akan membimbingnya.”

Doa Penutup
Ya Allah…
Hidupkan hati kami yang telah lama lalai,
Bersihkan jiwa kami dari cinta dunia,
Dan dekatkan kami kepada-Mu dengan kedekatan sebenar-benarnya…
Aamiin.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Rohani dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update