Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Murid Melecehkan Guru, Demoralisasi Kronis Peradaban

Sabtu, 02 Mei 2026 | 21:56 WIB Last Updated 2026-05-02T14:56:37Z
TintaSiyasi.id -- Tidak ada yang menyangka bahwa semakin tahun profesi guru kian kehilangan martabat. Bukan hanya negara yang sengaja mengkotak-kotakkan kesejahteraan mereka berdasarkan karir dan jenjang pangkat, pembebanan tugas administratif yang tidak ada ujungnya, wali murid yang kadang memidana akibat tidak terima putra-putrinya didisiplinkan karena telah melanggar aturan dan sekarang murid yang sedang dalam bimbingan dan didikan pun sengaja merendahkan harga diri Beliau sebagai perantara ilmu. 

Detikjabar.com edisi 20 April 2026 memberitakan bahwa palajar SMA di Purwakarta mengolok-olok guru mereka hingga mengacungkan jari tengah ke arah pahlawan tanpa tanda jasa itu. 

Bu Guru tersebut bernama Bu Atum, seorang guru baru yang mengajar PPKn. Dikabarkan oleh sumber yang sama bahwa setelah mengajar materi kebhinekaan itu sembilan siswa terekam tengah mengacungkan jari tengah ke arah Ibu Guru Atum yang berjalan meninggalkan kelas. 

Ternyata sudah separah ini runtuhnya adab para pelajar kita. Mereka adalah anak-anak yang hampir sepanjang hidupnya dilalui dengan menuntut ilmu nyatanya tak lebih beradab dari anak jalanan yang memang tidak pernah mengenyam pendidikan. Lalu sekolah yang katanya adalah tempat menuntut ilmu kini tak ubahnya seperti lorong-lorong gang tempat para preman membuat onar. 

Perubahan besar ini tentu menjadi sebuah tugas berat bagi para pemangku kebijakan pendidikan yang selama ini menentukan arah prioritasnya dalam memutuskan pemberlakuan kurikulum dan sebagainya. 

Inikah pengaruh yang dituju oleh penetapan kurikulum yang selalu berganti setiap kali ganti pemerintahan? Inikah kenyataan yang diharapkan oleh adanya program sekolah digital, bermacam-macam bimbingan teknis serta berbagai inovasi pendidikan lainnya yang harus dijalani guru dan sekolah agar dianggap sebagai sekolah yang maju? 

Patut kita sadari bahwa semua kebijakan di dunia pendidikan dalam sistem yang tidak mau mengikuti aturan Islam tidak pernah sekalipun memperhatikan aspek ruhiyah. Sistem sekuler kapitalistik yang sedang dijalankan negeri ini selalu menjadikan keuntungan para pemangku kebijakan sebagai tujuan utamanya. 

Dengan berganti kurikulum maka akan terbuka peluang bagi pemilik modal untuk menjual modul-modul kurikulum terbaru dan LKS. Tidak ketinggalan rangkaian bimbingan teknis berbayar juga siap mendukung pemberlakuan kurikulum baru. Bahkan tak jarang muncul celetukan dari pegiat pendidikan bahwa beliau baru saja memahami kurikulum sebelumnya dan sekarang sudah dianjurkan untuk mempelajari kurikulum baru.

Dan yang lebih berbahaya adalah menjauhkan generasi islam dari ajaran agamanya sendiri. Kiranya inilah bukti peribahasa yang mengatakan bahwa kita akan menuai apa yang kita tabur.
 
Hendaknya kita mengakui bahwa arah pendidikan kita selama ini memang hanya ingin menjadikan lulusannya sebagai pribadi terampil yang dibutuhkan dunia kerja atau menjadi tenaga ahli yang menghasilkan tumpukan rupiah hingga memiliki kehidupan yang mewah, disegani, bahkan memiliki pengaruh di lingkungan masyarakat tapi mudah terbujuk untuk korupsi, merusak alam bahkan tidak mengerti cara menghargai sesama manusia. 

Pendidikan memang menanamkan kesadaran diri individu bahwa semua manusia memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah Swt. Bahkan surat Al Luqman ayat 14 pun diajarkan oleh guru Agama Islam agar kita bersikap baik pada kedua orang tua. Namun lagi dan lagi tuntunan itu hanya dijadikan materi hafalan, materi ulangan atau bacaan suci pada momen-momen tertentu. 

Kenyataannya generasi sekarang tidak canggung lagi untuk berkata dan bersikap kasar kepada orang tuanya termasuk guru sebagai orang tua di sekolah. Sebenarnya ada banyak faktor yang membuat para siswa bisa menghina seorang guru. Dalam kasus Bu Atum ini bisa jadi karena Beliau adalah sosok guru baru di sekolah itu, kemudian karena karakter guru tersebut yang sederhana dan penyabar. 

Murid-murid yang jauh dari ajaran Islam merasa guru baru yang bertugas di sekolah mereka adalah orang terdidik yang kerdil, mereka ingin membuat guru tersebut tidak nyaman mengajar. Bila demikian tidakkah mereka berpikir apa sebenarnya yang menjadi niat mereka sekolah selama ini bila mereka malah mempermainkan guru yang hendak berbagi ilmu agar mereka terlepas dari kebodohan? Betapa berat dosa negara ini akibat menjauhkan pemuda Islam tidak mengerti hakikat mencari ilmu. 

Detikedu.com edisi Kamis, 23 April 2026 memberitakan bahwa Bapak Dedi Mulyadi sebagai Gubernur Jawa Barat mengundang Ibu Atum. Dalam pertemuan itu Bapak Gubernur menanyakan alasan Ibu Atum yang memilih memaafkan murid Beliau serta tidak menghukumnya. Ibu guru itu menjawab bila anak yang salah tidak selamanya salah. Mereka masih memiliki kesempatan untuk belajar memperbaiki sikap. Lalu diberitakan pula oleh media yang sama bahwa dalam pertemuan itu Bapak Gubernur memberi hadiah kepada Ibu Atum berupa tabungan senilai Rp 25.000.000,-. Nominal itu akan digunakan Ibu Atum untuk mengelola yayasan yatim yang berada di bawah kepengurusan Beliau. Sebagai Gubernur yang menggalakkan wajib militer pada siswa usia remaja, Bapak Dedi Mulyadi pun akan mengirim sembilan siswa pelaku ke barak militer karena bagi Beliau sanksi skorsing selama 19 hari yang diberikan sekolah kurang efektif Beliau menambahkan agar semua pelaku dihukum membersihkan sekolah.

Kita patut bersyukur dengan adanya perhatian dari Bapak Gubernur terkait masalah ini. Pemberian hadiah itu juga dimaksudkan untuk mengobati harga diri yang terluka akibat perlakuan buruk yang dialami Ibu Atum akan tetapi tidak bisa mencabut akar masalah kenakalan siswa. 

Cukuplah kejadian ini menjadi pelajaran bahwa solusi terbaik untuk masalah ini bahkan semua masalah yang ada dalam hidup ini adalah dengan menjadikan Al Quran sebagai asas bernegara yang menyatukan semua umat Islam sedunia. Ajaran Al Quran yang dijalankan dalam kehidupan sehari-hari mampu mencetak pemuda yang tawadhu' kepada sesama. Dia senantiasa merasa dalam penjagaan Allah Swt. hingga dia tidak akan mudah terjerumus untuk menghina sesama bahkan gurunya karena dia tahu bahwa wajib bagi dirinya menghargai siapapun. Dia pun takut akan murka Allah Swt. apabila dia hendak merendahkan seseorang.


Oleh: Nurul Lailiya
Aktivis Muslimah

Opini

×
Berita Terbaru Update