Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Keberanian dan Cita-Cita Tinggi: Jalan Ruhani Menuju Kemuliaan Hakiki

Jumat, 08 Mei 2026 | 11:30 WIB Last Updated 2026-05-08T04:30:45Z
TintaSiyasi.id -- Nasihat emas dari Mustafa al-Ghalayini dalam karya monumentalnya Idhatun Nasyi'in bukan sekadar motivasi duniawi, melainkan seruan ideologi-ideologi yang membangkitkan jiwa: “Orang-orang sukses di masa lalu adalah mereka yang berani maju dan memiliki cita-cita tinggi.”

Namun dalam perspektif Islam—terlebih dalam kedalaman tasawuf—nasihat ini mengandung makna yang jauh lebih dalam: ia adalah panggilan untuk membebaskan jiwa dari belenggu kehinaan menuju kemuliaan sebagai hamba Allah.

1. Ideologi Keberanian: Membebaskan Diri dari Mentalitas Lemah
Umat ​​ini tidak pernah kekurangan potensi, tetapi sering kali kehilangan keberanian. Rasa takut menjadi “penjara batin” yang menghambat lahirnya generasi unggul.
Padahal, dalam Al-Qur'an Allah berfirman:
Layanan Pelanggan dan Layanan Pelanggan كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ  
 “Janganlah kamu merasa lemah dan jangan pula bersedih hati, padahal kamulah yang paling tinggi derajatnya jika kamu beriman.” (QS. Ali 'Imran : 139)

Keberanian dalam Islam bukanlah nekat tanpa arah, namun keberanian yang lahir dari iman. Ia adalah keberanian untuk:
• Menegakkan kebenaran di tengah arus kebatilan
• Melawan hawa nafsu yang mengajak pada kemalasan
• Bangkit dari kegagalan tanpa kehilangan harapan
Dalam pandangan para sufi, keberanian adalah tanda kehidupan hati. Hati yang hidup tidak tunduk pada dunia, tetapi hanya tunduk kepada Allah.

2. Cita-Cita Tinggi ('Uluwwul Himmah): Energi Spiritual Para Kekasih Allah
Cita-cita tinggi bukan sekedar keinginan besar, namun visi hidup yang melampaui dunia. Ia adalah energi ruhani yang mendorong seseorang untuk terus naik menuju derajat yang lebih tinggi di sisi Allah.

Para ulama menyebutnya sebagai 'uluwwul himmah—tingginya semangat jiwa. Orang yang memiliki himmah tinggi tidak puas dengan:
• Ibadah yang biasa-biasa saja
• Ilmu yang dangkal
• Amal yang minim
Ia selalu ingin menjadi lebih dekat kepada Allah, lebih bermanfaat bagi umat, dan lebih bersih hatinya.
sebagai nasihat agung:
“Jangan engkau ridha dengan derajat rendah, padahal Allah menciptakanmu untuk kedudukan yang tinggi.”

3. Teladan Generasi Agung: Dari Mimpi Besar Menuju Realitas Peradaban

Sejarah Islam dipenuhi oleh orang-orang yang memiliki keberanian dan cita-cita tinggi:
• Muhammad membawa risalah tauhid di tengah masyarakat jahiliyah dengan penuh keberanian
• Umar bin al-Khattab membangun peradaban dengan visi besar dan ketegasan
• Salahuddin al-Ayyubi memerdekakan Al-Quds dengan tekad yang tidak tergoyahkan
Mereka bukan sekadar tokoh sejarah, tetapi bukti nyata bahwa keberanian dan cita-cita tinggi dapat mengubah dunia.
Namun rahasia terbesar mereka bukan hanya strategi atau kekuatan, melainkan kedekatan mereka dengan Allah.

4. Perspektif Sufistik: Dari Ambisi Dunia Menuju Ma'rifatullah

Tasawuf tidak menolak cita-cita, tetapi mengarahkannya. Dalam dunia sufistik, cita-cita tertinggi bukanlah kekayaan atau kekuasaan, melainkan ma'rifatullah—mengenal Allah dengan sebenar-benarnya.
Seorang sufi tidak kehilangan ambisinya, tetapi ambisinya berubah:
• Dari ingin dikenal manusia → ingin dikenal oleh Allah
• Dari mengejar dunia → mengejar ridha-Nya
• Dari membangun nama → membangun kedekatan dengan-Nya
Di sinilah letaknya revolusi jiwa:
Ketika keberanian dan cita-cita tinggi diarahkan untuk perjalanan menuju Allah.

5. Penyakit Zaman: Rendahnya Cita-Cita dan Hilangnya Keberanian

Realitas umat hari ini menunjukkan krisis yang membingungkan:
• Banyak yang takut memulai kebaikan
• Banyak yang cepat menyerah dalam perjuangan
• Banyak yang puas dengan kehidupan yang biasa-biasa saja
Padahal Rasulullah ﷺ mengajarkan:
“Jika kamu memohon kepada Allah, mohonlah surga Firdaus.”
Ini adalah pendidikan jiwa agar tidak memiliki cita-cita rendah.
Rendahnya cita-cita adalah tanda lemahnya iman.
Sedangkan tingginya cita-cita adalah tanda hidup harapan kepada Allah.

6. Jalan Praktis: Menumbuhkan Keberanian dan Cita-Cita Tinggi

Untuk membangkitkan kembali semangat keberanian dan himmah, diperlukan langkah nyata:
a. Meluruskan Niat
Niatkan setiap cita-cita sebagai ibadah dan jalan menuju ridha Allah.
b. Memperkuat Tauhid
Semakin kuat keyakinan kepada Allah, semakin hilang rasa takut kepada-Nya.
C. Melatih Diri Keluar dari Zona Nyaman
Keberanian tidak datang tiba-tiba, tetapi dipraktekkan melalui tindakan.
D. Bergaul dengan Orang-Orang Besar Jiwanya
Lingkungan sangat mempengaruhi tinggi rendahnya cita-cita.
e. Memperbanyak Doa dan Tawakal
Karena pada akhirnya, semua keberhasilan adalah pertolongan Allah.

7. Penutup: Bangkitkan Jiwa Besar, Raih Kemuliaan Abadi
Nasihat Mustafa al-Ghalayini adalah lintas panggilan zaman:
Jangan hidup dengan jiwa yang kecil dalam tubuh yang besar.
Jangan memiliki potensi besar tetapi cita-cita yang rendah.
Bangkitlah dengan keberanian.
Hidupkan cita-cita yang tinggi.
Dan arahkan semuanya menuju Allah.
Karena pada akhirnya, keberhasilan sejati bukanlah ketika dunia berada di tangan kita, tetapi ketika Allah berada di dalam hati kita.
“Barangsiapa mengenal Allah, maka kecilnya segala sesuatu selain Nya.”

Semoga kita termasuk hamba-hamba yang berani melangkah, tinggi cita-citanya, dan sampai kepada Allah dengan hati yang selamat. Aamiin.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Rohani dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update