Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

KDMP Solusi Perekonomian Rakyat, Jurnalis: Rawan Korupsi

Selasa, 26 Mei 2026 | 15:28 WIB Last Updated 2026-05-26T08:28:52Z

TintaSiyasi.id -- Pemerintah menggembar-gemborkan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) sebagai solusi ekonomi rakyat, menanggapi hal tersebut Jurnalis Joko Prasetyo melihat solusi tersebut memiliki pola rawan korupsi.

 

“Yang paling rawan adalah pola pembangunan yang sangat top down. Program dirancang dari pusat, target ditentukan dari atas, lalu desa tinggal menjalankan. Model seperti ini membuka peluang korupsi" ucapnya kepada TintaSiyasi.ID pada Kamis (21/05/2026).

 

"Faktanya, banyak konsep KDMP justru lebih mirip minimarket modern ketimbang lembaga pemberdayaan rakyat. Fokusnya sibuk pada gerai, rak dagangan, pengadaan barang, perangkat digital, dan berbagai proyek fisik lainnya. Padahal akar kemiskinan rakyat bukan karena kurang toko,” imbuhnya.

 

Ia menjelaskan semakin panjang rantai birokrasi, semakin besar pola potensi make up dan permainanya.

 

"Berkaca dari berbagai rekam jejak proyek besar selama ini, semakin besar dana digelontorkan, semakin banyak pengadaan dilakukan, dan semakin panjang rantai birokrasi, maka semakin besar pula potensi markup, vendor titipan, laporan fiktif, dan permainan proyek. Apalagi dalam budaya politik yang masih sarat pencitraan dan transaksi kepentingan," ujarnya.

 

Solusi pemerintah dengan pembukaan KDMP, lanjutnya, yang turut membuka ruang simpan pinjam, menjadi ironi lain yang dinilai mustahil menciptakan kesejahteraan, malahan membuka peluang dosa karena sistem ribawi dalam simpan pinjamnya.

 

"Akibat sistem ribawi, rakyat kecil yang kesulitan justru makin terjerat cicilan dan utang berkepanjangan," timpalnya.

 

Joko memandang, solusi yang diciptakan pemerintah tak akan menyelesaikan masalah perekonomian rakyat selama sistem kapitalisme masih diterapkan.

 

"Masalah rakyat tidak akan selesai hanya dengan mengganti nama toko menjadi koperasi. Selama sistem ekonomi masih kapitalistik, sumber daya alam dikuasai oligarki, dan riba dilegalkan, maka rakyat hanya akan dipindahkan dari satu proyek ke proyek lain," terangnya.

 

Ia menjelaskan, solusi nyata atas permasalahan dengan sistem Islam yang memiliki paradigma berbeda dengan sistem kapitalisme saat ini. “Islam membangun manusia-manusia yang bertakwa yang takut akan dosa, menjamin kebutuhan dasar rakyat, memiliki sistem ekonomi tanpa riba, dan memiliki banyak sumner-sumber pemasukan,” tuturnya.

 

"Islam memiliki paradigma berbeda. Islam tidak membangun kesejahteraan dengan memperbanyak tempat konsumsi, tetapi dengan membangun manusia bertakwa, jujur, amanah, rajin bekerja, dan takut hisab Allah,” ujarnya.

 

Ia menegaskan, korupsi dan riba bukan hanya pelanggaran hukum yang wajib ditindak tegas, tetapi dosa yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat," bebernya

 

"Islam juga mewajibkan negara menjamin kebutuhan dasar rakyat seperti pendidikan dan kesehatan yang murah bahkan gratis,” ungkpanya.

 

Om Joy, sapaan akrabnya, menyebutkan jika pembiayaannya berasal dari pengelolaan kepemilikan umum (milkiyyah ammah) seperti tambang, minyak, gas, laut, dan hutan yang hasilnya dikembalikan untuk rakyat, bukan dikuasai segelintir elite. Islam juga memiliki sistem ekonomi tanpa riba, sistem moneter berbasis emas dan perak (dinar-dirham), serta sistem sosial berbasis zakat, wakaf, sedekah, dan taawun," sambungnya

 

"Belum lagi pemasukan baitulmal dari kharaj, fa’i, dan sumber syar’i lainnya yang Insyaallah cukup untuk menyejahterakan rakyat secara nyata," imbuhnya.

 

Ia optimis bahwa segala permasalahan akan tuntas dengan Islam yang digunakan sebagai aturan yang kaffah, tidak hanya untuk mengatur kehidupan manusia secara individu, namun juga bermasyarakat dan bernegara. “Penegakkan Islam secara kaffah ini hanya bisa melalui naungan institusi pemerintanan Islam yakni khilafah,” lugasnya.

 

Ia menegaskan, semua itu tidak mungkin diterapkan setengah-setengah. Islam harus diterapkan secara kaffah dalam naungan institusi pemerintahan Islam, khilafah.

 

Menegakkan khilafah bukan sekadar wacana politik, ujarnya lebih lanjut, melainkan fardu kifayah agar syariat Allah benar-benar tegak mengurus kehidupan manusia.

 

“Tanpa sistem Islam, solusi hanya berubah menjadi proyek dan slogan. Sebab kehidupan tidak berhenti pada jabatan dan pencitraan, tetapi berlanjut menuju hisab, surga, atau neraka. Dan hisab Allah tidak pernah bisa dimanipulasi," pungkasnya.[] Hima Dewi


Opini

×
Berita Terbaru Update