Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Flotilla Dicegat, Om Joy: Keberpihakan Politik Dunia Islam terhadap Palestina Lemah

Selasa, 26 Mei 2026 | 16:20 WIB Last Updated 2026-05-26T09:20:55Z

TintaSiyasi.id -- Menanggapi pencegatan kapal disertai penculikan dan penyiksaan sejumlah aktivis kemanusiaan, termasuk 9 WNI, yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla yang dilakukan oleh militer penjajah Zionis Israel, Jurnalis Joko Prasetiyo menilai hal itu menunjukkan lemahnya keberpihakan politik dunia Islam terhadap Palestina.

 

"Tragedi Flotilla ini sesungguhnya bukan hanya memperlihatkan kebrutalan entitas penjajah Zionis Yahudi, tetapi juga memperlihatkan lemahnya keberpihakan politik dunia Islam terhadap Palestina," tuturnya kepada TintaSiyasi.ID, Selasa (19/05/2026).

 

Om Joy, sapaan akrabnya, mengatakan, berulangnya tragedi pencegatan kapal aktivis yang berjuang mendobrak blokade ilegal di Gaza untuk menyalurkan bantuan itu tidak boleh dibaca sekadar sebagai kasus penyanderaan relawan kemanusiaan.

 

“Peristiwa ini adalah simbol telanjang tentang bagaimana Flotilla dicegat, Gaza disekat, sementara para penguasa dunia Islam justru makin dekat dengan Barat dan sibuk menjaga hubungan diplomatiknya,” jelasnya.

 

"Entitas penjajah Zionis Yahudi berani mencegat kapal sipil di laut internasional karena mereka tahu konsekuensi politiknya nyaris tidak ada. Dunia internasional mungkin ribut beberapa hari, media akan ramai sesaat, lalu semuanya kembali normal. Gaza tetap diblokade. Palestina tetap dibantai," ujarnya.

 

Paling memprihatinkan, lanjut Om Joy, negeri-negeri Muslim tetap melanjutkan pola lama, yakni pidato keras di depan publik, tetapi lunak dalam tindakan politik nyata.

 

Indonesia misalnya, menurutnya, selama ini tampil sebagai pendukung Palestina dalam berbagai forum internasional, namun dukungan itu mayoritas berhenti pada kecaman diplomatik dan retorika kemanusiaan.

 

“Bahkan, ketika beberapa waktu lalu empat TNI yang bertugas di Lebanon gugur diduga akibat serangan entitas penjajah Zionis Yahudi pun, tidak membuat pemerintah melakukan tekanan politik yang benar-benar signifikan terhadap rezim Zionis maupun negara-negara pendukungnya,” imbuhnya.

 

"Lebih ironis lagi ketika sebagian penguasa Muslim termasuk Indonesia justru aktif dalam berbagai forum 'perdamaian global', Board of Peace (BoP), dialog lintas agama, dan kampanye moderasi internasional, tetapi gagal menghadirkan perlindungan konkret terhadap rakyat Gaza, Palestina," sesalnya.

 

Ironi dunia Islam hari ini, bebernya, penguasanya makin dekat Barat, sementara Gaza-Palestina makin disekat. “Padahal, Barat yang mereka dekati itulah yang selama ini menjadi pelindung utama entitas penjajah Zionis Yahudi di panggung internasional,” ujarnya.

 

Menurutnya, negara-negara besar yang paling keras bicara HAM justru menjadi pemasok senjata, pelindung diplomatik, dan tameng politik bagi penjajahan di Palestina.

 

"Mereka berbicara tentang toleransi global, tetapi Gaza tetap dihujani rudal. Mereka sibuk mempromosikan harmoni dunia, tetapi kapal kemanusiaan dicegat di laut internasional. Mereka bangga disebut wajah Islam moderat, tetapi Palestina tetap terkubur di bawah reruntuhan dalam kondisi sekarat," imbuhnya.

 

Akibatnya, kata Om Joy, forum-forum perdamaian berubah menjadi panggung pencitraan moral. "Banyak bicara kemanusiaan, tetapi bungkam terhadap akar penjajahan. Banyak menyerukan toleransi, tetapi takut menyentuh kepentingan geopolitik Barat," ungkapnya.

 

Ia menerangkan, tubuh umat hari ini tercerai-berai oleh nasionalisme, pragmatisme politik, dan ketergantungan kepada kekuatan asing. “Palestina dianggap sekadar isu regional, bukan luka seluruh kaum Muslim. Padahal, dalam hadis Rasulullah menyatakan umat Islam itu laksana satu tubuh,” tandasnya.

 

"Karena itu, tragedi Flotilla ini sesungguhnya bukan hanya memperlihatkan kebrutalan entitas penjajah Zionis Yahudi, tetapi juga memperlihatkan lemahnya keberpihakan politik dunia Islam terhadap Palestina," tegasnya.

 

Solusi Islam

 

Dalam persoalan tersebut, Om Joy membeberkan empat poin solusi politik dan peradaban berdasarkan Islam.

 

Pertama, umat Islam harus menyadari bahwa penjajahan Palestina bukan sekadar konflik wilayah, melainkan akibat langsung dari tercerai-berainya umat Islam dalam sistem negara-bangsa warisan kolonial.

 

Kedua, negeri-negeri Muslim harus melepaskan ketergantungan politik, ekonomi, dan militer kepada negara-negara imperialis Barat. "Selama penguasa Muslim masih mencari legitimasi dari Barat, maka keberpihakan kepada Palestina hanya akan menjadi slogan," ujarnya.

 

Ketiga, umat Islam harus kembali kepada ajaran Islam yang kaffah. "Bukan kosmetik ataupun moderat yang sibuk menjual citra damai tetapi kehilangan keberanian melawan penjajahan," imbuh Om Joy.

 

Keempat, umat membutuhkan kepemimpinan politik Islam yang benar-benar menjaga darah dan kehormatan kaum Muslim yakni khilafah.

 

"Di bawah komando khalifah (kepala negara khilafah), pasukan terbaik kaum Muslim berjihad menghancurkan penjajahan di Palestina, Rohingya, Turkistan Timur (Uighur), Kashmir, dan negeri-negeri Muslim lainnya yang saat ini terjajah,” ujarnya.

 

“Dalam sejarah Islam, keberadaan khilafah menjadikan musuh-musuh Islam berpikir ribuan kali sebelum menyerang wilayah kaum Muslim," terangnya lebih lanjut.

 

Lebih dari itu, Om Joy menegaskan, diam terhadap kezaliman terhadap Palestina bukan hanya persoalan politik dunia, tetapi juga persoalan hisab di akhirat.

 

Sebab, lanjutnya, setiap penguasa akan dimintai pertanggungjawaban atas darah kaum Muslim yang tertumpah ketika ia memiliki kekuasaan namun memilih aman bersama kepentingan global.

 

"Palestina bukan sekadar isu kemanusiaan. Palestina adalah cermin kehinaan politik dunia Islam hari ini dan bisa menjadi saksi yang memberatkan para penguasa di hadapan Allah Swt. kelak," pungkasnya.[] Saptaningtyas

Opini

×
Berita Terbaru Update