Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Hari Buruh 2026: Buruh Menjerit di Tengah Perang Kapitalis

Jumat, 08 Mei 2026 | 15:00 WIB Last Updated 2026-05-08T08:01:00Z
Tintasiyasi.id.com -- Setiap 1 Mei, dunia kembali memperingati Hari Buruh Internasional. Jalanan dipenuhi tuntutan kesejahteraan, keadilan upah, dan perlindungan kerja. 

Namun pada 2026, suara kaum buruh menghadapi tekanan yang jauh lebih berat. Pecahnya perang Iran melawan aliansi Amerika-Zionis sejak akhir Februari telah memperparah krisis ekonomi global, menghantam rantai pasok energi, memicu inflasi tinggi, dan membuka ancaman stagflasi di berbagai negara.

Gangguan di Selat Hormuz menjadi pukulan telak bagi distribusi energi dunia. Harga minyak melonjak, biaya produksi meningkat, industri terguncang, dan buruh kembali menjadi pihak pertama yang dikorbankan. 

Gelombang PHK, penyesuaian upah, pengurangan jam kerja, hingga ancaman kehilangan mata pencaharian menjadi kenyataan pahit yang menghantui jutaan pekerja.

Di Indonesia, dampaknya semakin terasa pada sektor industri yang bergantung pada bahan baku impor seperti tekstil, garmen, dan plastik. Ribuan pekerja menghadapi ancaman efisiensi, sementara puluhan ribu lainnya berada di ambang PHK jika konflik global terus berkepanjangan. Kondisi ini memperjelas satu fakta bahwa buruh selalu menjadi korban pertama ketika sistem ekonomi global bergejolak.

Sudah Susah, Kini Kian Terhimpit

Ironisnya, sebelum perang meletus pun kehidupan buruh sejatinya sudah penuh ketidakpastian. Upah minim, sistem outsourcing yang menekan, jaminan sosial yang terbatas, serta tingginya biaya hidup telah lama menjadi beban struktural. Banyak buruh masuk kategori working poor bekerja keras setiap hari, namun tetap kesulitan memenuhi kebutuhan hidup layak.

Negara memang menawarkan berbagai mitigasi seperti early warning system PHK, dialog tripartit, dan jaring pengaman sosial. Namun langkah-langkah tersebut sejatinya lebih bersifat tambal sulam dibanding solusi mendasar. Buruh hanya diposisikan sebagai objek stabilitas ekonomi, bukan sebagai rakyat yang wajib dijamin kesejahteraannya secara hakiki.

Akibatnya, tiap tahun buruh terus turun ke jalan dengan tuntutan serupa, tetapi persoalan mendasar tak pernah benar-benar terselesaikan.

Perang Hanya Pemicu, Kapitalisme adalah Akar Krisis

Banyak pihak menganggap perang sebagai penyebab utama krisis global. Padahal sejatinya, perang hanyalah pemantik yang mempercepat kerusakan dari sistem yang sejak awal sudah rapuh, yaitu kapitalisme sekuler.

Kapitalisme berdiri di atas asas kebebasan kepemilikan dan pasar bebas. Dalam sistem ini, sumber daya alam, energi, bahkan kebutuhan vital masyarakat dapat dikuasai korporasi dan pemilik modal. Negara tidak berperan penuh sebagai pengurus rakyat, melainkan hanya regulator yang memastikan roda pasar tetap berjalan.

Akibatnya, kesejahteraan masyarakat sangat bergantung pada kepentingan pasar, bukan pada tanggung jawab negara. Yang kuat menguasai, yang lemah tersingkir.

Dalam skala global, sistem ini melahirkan dominasi negara-negara adidaya yang bukan hanya mengendalikan ekonomi, tetapi juga politik dan peperangan. Konflik bersenjata kerap menjadi instrumen bisnis raksasa industri pertahanan, energi, dan geopolitik. Perang bukan sekadar tragedi kemanusiaan, tetapi juga ladang keuntungan bagi oligarki global.

Kaum buruh akhirnya hanya menjadi angka statistik dalam pusaran kerakusan kapitalisme internasional.

Buruh Butuh Perlindungan Hakiki, Bukan Janji Stabilitas

Selama dunia tetap bertahan pada kapitalisme sekuler, buruh akan terus berada dalam lingkaran eksploitasi. Kesejahteraan akan selalu dikorbankan demi investasi, efisiensi, dan kepentingan pemilik modal.

Sosialisme maupun komunisme bukan solusi, sebab keduanya sama-sama menyingkirkan aturan Ilahi dalam pengelolaan kehidupan. Sejarah telah membuktikan kegagalannya.

Islam menawarkan sistem berbeda melalui penerapan syariat secara kaffah dalam institusi Khilafah.

Dalam sistem Islam,

Pertama, negara wajib menjamin kebutuhan dasar setiap individu.

Kedua, sumber daya alam dikelola negara untuk kemaslahatan rakyat, bukan korporasi

Ketiga, buruh diperlakukan adil dengan akad kerja yang jelas dan perlindungan menyeluruh

Keempat, negara berperan sebagai pengurus, bukan fasilitator kapital

Kelima, politik luar negeri dibangun untuk melindungi umat, bukan menjadi alat penjajahan global.

Dengan sistem ini, buruh tidak sekadar menjadi roda produksi, tetapi manusia yang dimuliakan syariat.

Saatnya Buruh Bangkit Secara Ideologis 

Hari Buruh seharusnya bukan sekadar momentum menuntut kenaikan upah atau menolak PHK. Lebih dari itu, ini adalah saat yang tepat untuk menyadari bahwa penderitaan buruh berakar pada sistem rusak yang menopang kehidupan global hari ini.

Kaum buruh membutuhkan perjuangan ideologis untuk mengganti sistem kapitalisme dengan sistem Islam yang adil.
Sebab selama kapitalisme bercokol, buruh akan terus menjadi korban krisis, perang, dan kerakusan elite global.

Hari ini, buruh tidak hanya butuh pekerjaan. Buruh butuh sistem yang memuliakan.
Dan itu hanya lahir dari perubahan mendasar, yaitu mengganti kapitalisme dengan Islam kaffah.[]

Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)

Opini

×
Berita Terbaru Update