Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Fitrah Perempuan Gugur Menopang Beban

Jumat, 08 Mei 2026 | 20:00 WIB Last Updated 2026-05-08T13:00:30Z
TintaSiyasi.id -- Penemuan cooler bag berisi ASI di tengah puing tragedi kereta stasiun Bekasi Timur menjadi saksi bisu perjuangan seorang ibu yang menggandakan perannya demi buah hati tercinta. Peristiwa ini muncul bersamaan dengan skandal pengasuhan Day Care di Yogyakarta dan penganiayaan domestik yang berujung kematian balita oleh neneknya saat sang ibu sedang bekerja. Rentetan tragedi kemanusiaan ini menyampaikan kenyataan pahit yang sama, yakni patahnya tulang rusuk karena dipaksa menjadi tulang punggung yang menanggung beban. Ini adalah teguran keras atas rapuhnya ketahanan keluarga saat negara absen dalam memberikan jaminan kesejahteraan, hingga fitrah kelembutan mereka perlahan mati karena kelelahan mental.

Berdasarkan laporan Kompas.TV Jember (01/05/2026), insiden tragis di Stasiun Bekasi Timur (27/04/2026) merenggut nyawa 16 perempuan pejuang keluarga. Kecelakaan beruntun yang melibatkan taksi listrik, KRL Commuter line, dan KA Argo Bromo Anggrek ini menyisakan duka mendalam. Di tengah puing evakuasi, petugas menemukan sebuah cooler bag berisi ASI. Benda sederhana ini menjadi simbol perjuangan para ibu yang bertaruh nyawa mencari nafkah meninggalkan rumah. Seorang ibu harus membelah dirinya antara menjadi pejuang ASI dan pencari sesuap nasi. Bagi mereka, risiko yang dihadapi bukan hanya kelelahan, melainkan kematian. 

Fenomena ini menunjukkan wajah gelap sistem kapitalisme. Dalam kacamata kapitalisme, manusia khususnya para ibu hanya dilihat sebagai faktor produksi yang harus bekerja keras demi perputaran roda ekonomi. Sistem ini memaksa perempuan menggandakan perannya untuk memikul peran menjadi mesin penggerak ekonomi di luar rumah demi upah, sekaligus tetap bertanggung jawab terhadap urusan rumah tangga. Dalam logika ini, keuntungan diletakkan di atas nilai keselamatan dan kehangatan di rumah. Ibu yang harusnya bertugas mendidik generasi, harus rela menukar waktunya dengan kualitas pengasuhan dan ketahanan keluarga menjadi harganya. Kapitalisme telah mengubah waktu ibu dan anak ditukar dengan upah yang pas-pasan demi tuntutan hidup. 

Di Yogyakarta, publik kembali dikejutkan dengan skandal kekerasan pengasuhan. Berdasarkan laporan BBC.com (27/04/2026), polisi menggerebek lokasi Day Care Little Aresha setelah mendapat laporan tentang tindakan tidak manusiawi. Skandal ini merupakan fenomena gunung es yang menunjukkan betapa rapuhnya sistem pengasuhan anak ketika orang tua terdesak tuntutan ekonomi, sehingga pengasuhan harus diserahkan kepada pihak lain yang tidak bertanggung jawab.

Ketika negara menganggap kesejahteraan adalah urusan pribadi, maka negara akan berlepas tangan dari penyediaan fasilitas pengasuhan anak yang layak. Kesejahteraan keluarga dan keamanan rakyatnya diabaikan, maka pengasuhan dilempar ke pasar bebas. Mereka yang tak mampu bayar harga tinggi harus merelakan jiwa buah hati pada sistem pengasuhan yang rapuh. 

Kisah memilukan berlanjut dari Kediri. Melansir Polreskedirikota.com (17/04/2026), seorang bocah berusia 4 tahun meninggal dunia setelah dianiaya oleh neneknya sendiri. Pelaku yang tersulut emosi memukul korban hanya karena tidak menuruti perintah untuk tidur siang. Korban ditemukan oleh ibunya yang baru pulang kerja di dalam timba cucian berisi air dalam kondisi badan penuh luka memar. Orang tua lanjut usia yang lelah dipaksa mengambil tanggung jawab menjaga anak kecil akibat tekanan ekonomi keluarga sehingga kehilangan kontrol emosi dan nyawa anak menjadi taruhannya.

Adanya tekanan ekonomi telah memaksa seorang tulang rusuk berubah menjadi tulang punggung karena kebutuhan hidup makin berat. Akibatnya, perempuan terpaksa menggandakan perannya. Tanpa dukungan materi dan emosi yang cukup, fitrah perempuan yang diciptakan sebagai sumber ketenangan akan terkikis. Perempuan yang secara fitrah adalah sumber kasih sayang, kini amat mudah meledak. Tantangan berat lainnya adalah ketika perempuan ada di luar rumah, maka akan muncul ketimpangan dalam masalah pengasuhan anak. Muncul sebuah tanya, jika ibu bekerja mencari nafkah, lantas siapa yang menjaga anak di rumah? Para orang tua bekerja terpaksa mengalihkan pengasuhan anak kepada kerabat keluarga, mencari pengasuh di rumah atau menitipkan pada yayasan yang tersedia, meski meragukan kualitasnya, memang tak ada pilihan lain.

Keluarga adalah benteng pertahanan terakhir sebuah negara. Untuk itu, negara perlu hadir memberikan jaminan pekerjaan dan kesejahteraan kepada kepala keluarga, sehingga perempuan tidak memikul beban berat yang tidak sesuai fitrahnya. Pekerjaan di luar rumah seharusnya menjadi pilihan, bukan sebuah tuntutan lari dari kemiskinan demi mengejar masa depan. Kesejahteraan bukanlah soal angka, tetapi hak setiap keluarga. Tragedi ini tidak perlu terulang jika negara berani mengambil peran dalam menghadirkan perlindungan dan kepastian agar tulang rusuk tidak perlu patah karena menopang beban yang tidak sesuai fitrahnya. Sudah saatnya negara menjadi pelindung nyata bagi para ibu demi menjaga kehormatan dan menjaga kualitas peradaban generasi masa depan. 

Yota Mutia, S.Psi
Praktisi Art Therapy

Opini

×
Berita Terbaru Update