TintaSiyasi.id --Cahaya di Tengah Ujian: Menemukan Allah di Awal, Menang di Akhir.
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern—ketika manusia berlomba mengejar kenyamanan, stabilitas, dan pengakuan—ada satu kenyataan yang sering diabaikan: dunia ini tidak pernah diciptakan sebagai tempat ketenangan yang abadi. Ia adalah ladang ujian. Ia adalah ruang tempaan. Dan siapa pun yang memasukinya tanpa pemahaman ini, niscaya akan dipenuhi kegelisahan.
Seorang sufi besar, Ibnu Athaillah as-Sakandari, melalui karya monumentalnya Al-Hikam, mengingatkan kita dengan kalimat yang tajam dan jernih:
“Jangan kamu merasa heran atas terjadinya kesulitan selama kamu berada di dunia ini, karena itulah karakter asli dunia.”
Kalimat ini bukan sekadar nasihat, melainkan koreksi terhadap cara memandang kita yang keliru.
Dunia Bukan Tempat Istirahat, Tapi Tempat Perjalanan
Banyak manusia hidup dengan asumsi tersembunyi: bahwa hidup seharusnya berjalan mulus. Ketika kenyataan tidak sesuai harapan—ketika usaha gagal, doa terasa lama dikabulkan, atau ujian datang bertubi-tubi—mereka mulai goyah, bahkan menerima takdir.
Padahal, masalahnya bukan pada hidup. Permasalahan ada pada ekspektasi.
Dunia memang tidak pernah menjanjikan untuk menjadi tempat istirahat. Ia adalah tempat persinggahan. Tempat di mana iman diuji, kesabaran diasah, dan keikhlasan dimurnikan.
Jika seseorang memahami ini sejak awal, maka setiap kesulitan tidak lagi terasa sebagai beban yang menghancurkan, tetapi sebagai proses yang menguatkan.
Ia tidak bertanya lagi, “Mengapa ini terjadi pada saya?”
Melainkan, “Apa yang Allah ingin ajarkan padaku?”
Antara Ketergantungan kepada Allah dan Ilusi Kemandirian
Dalam hikmah berikutnya, Ibnu Athaillah mengungkapkan rahasia yang sangat halus namun menentukan arah hidup seseorang:
“Permintaan tidak akan tertahan selama kamu memohon kepada Allah. Namun permintaan tidak akan mudah jika kamu bergantung pada dirimu sendiri.”
Di sinilah letak ujian yang paling dalam: bukan pada kesulitan itu sendiri, tetapi pada siapa hati ini bersandar.
Manusia modern sering diajarkan untuk percaya pada diri sendiri. Itu tidak sepenuhnya salah. Namun dalam perspektif ruhani, ada bahaya besar ketika kepercayaan diri berubah menjadi ketergantungan mutlak pada kemampuan diri.
Ketika seseorang menggantungkan segalanya pada dirinya:
• ia mudah cemas karena sadar keterbatasannya,
• ia mudah putus asa ketika gagal,
• dan ia mudah sombong ketika berhasil.
Namun ketika ia bersandar kepada Allah:
• hatinya tenang meski hasil belum terlihat,
• langkahnya ringan meski jalan terasa berat,
• jiwa dan jiwa tetap rendah hati meski mencapai keberhasilan.
Bukan berarti dia tidak berusaha. Justru ia berusaha dengan maksimal. Namun ia sadar:
usaha adalah kewajiban, hasil adalah hak Allah.
Awal Menentukan Akhir: Rahasia yang Sering Diabaikan
Salah satu hikmah paling dalam yang sering luput dari perhatian adalah:
“Di antara tanda keberhasilan pada akhir adalah kembali kepada Allah di awal.”
Banyak orang fokus pada hasil akhir:
• ingin sukses,
• ingin berhasil,
• ingin mencapai tujuan.
Namun mereka lupa bahwa keberhasilan sejati tidak dimulai di akhir, melainkan di awal.
Awal yang dimaksud bukan sekadar langkah pertama secara fisik, tetapi niat dan orientasi hati.
Jika sejak awal:
• niat sudah lurus karena Allah,
• langkah dimulai dengan doa dan tawakal,
• tujuan tidak melampaui ridha-Nya,
maka perjalanan itu—meskipun penuh rintangan—akan berakhir pada kebaikan.
Sebaliknya, jika awalnya sudah memenuhi ambisi dunia:
• ingin dipuji manusia,
• ingin terlihat hebat,
• ingin mengurung orang lain,
maka keberhasilan yang dicapai pun akan kosong dari makna.
Ia mungkin sampai pada tujuan, tetapi kehilangan arah.
Cahaya yang Konsisten: Dari Awal hingga Akhir
Hikmah berikutnya menegaskan sebuah hukum spiritual yang sangat kuat:
“Barangsiapa yang cemerlang pada permulaan, akan cemerlang juga pada kesudahan.”
Ini bukan sekadar ungkapan motivasi. Ini adalah hukum ruhani.
Cahaya keikhlasan di awal akan menjadi lentera sepanjang perjalanan. Ia akan menuntun langkah, menguatkan hati, dan menjaga arah.
Sebaliknya, kegelapan niat di awal akan menjadi bayangan yang terus mengikuti. Ia mungkin tidak terlihat di permukaan, tetapi perlahan akan merusak dari dalam.
Oleh karena itu, dalam perjalanan hidup, yang paling penting bukanlah seberapa cepat kita melangkah, tetapi bagaimana kita memulai langkah itu.
Menata Ulang Hidup: Dari Dunia ke Tuhan
Dari rangkaian hikmah ini, kita diajak untuk melakukan transformasi cara pandang:
• Dari mengeluh terhadap ujian → memahami hakikat dunia
• Dari bergantung pada diri sendiri → bersandar sepenuhnya kepada Allah
• Dari mengejar hasil → memperbaiki niat di awal
• Dari ambisi dunia → menuju keikhlasan yang bercahaya
Hidup bukan menghindari tentang kesulitan.
Hidup adalah menemukan Allah di dalam setiap kesulitan.
Dan ketika seseorang telah menemukan Allah:
• kegagalan tidak lagi menghancurkan,
• keberhasilannya tidak lagi membutakan,
• perjalanan dan hidup menjadi penuh makna.
Penutup: Saatnya Kembali ke Awal yang Benar
Jika hari ini hidup terasa berat, jangan terburu-buru menyalahkan keadaan.
Lihatlah ke dalam: mungkin ada yang perlu diluruskan di awal.
Mungkin niatnya perlu diperbaiki.
Mungkin sandaran perlu dipindahkan.
Mungkin hati perlu kembali kepada Allah.
Karena sejatinya, kemenangan tidak ditentukan di garis akhir.
Ia menentukan sejak langkah pertama—ketika hati memilih:
apakah akan berjalan sendiri, atau berjalan bersama Allah.
Maka memulai hari ini dengan awal yang benar.
Luruskan niat.
Éso.
Kembalikan segalanya kepada-Nya.
Sebab ketika awalmu bersama Allah,
maka tidak ada akhir kecuali kemenangan yang penuh cahaya.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Rohani dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)