Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Upaya Barat Membungkam Perlawanan Rakyat Gaza dengan Demiliterisasi

Rabu, 22 April 2026 | 06:46 WIB Last Updated 2026-04-21T23:46:27Z

Tintasiyasi.id.com -- Kondisi saat ini Zionis melakukan pembantaian dengan membunuh enam warga sipil di kamp Bureij. Kejadian ini adalah kelanjutan dari perang genosida yang belum berhenti,” ungkap Qassem, dikutip dari Anadolu Agency, Minggu, 12 April 2026.

Hazem Qassem, Juru bicara Hamas, mengatakan serangan terbaru di kamp pengungsi Bureij, Gaza tengah, sebagai “pembantaian mengerikan” setelah enam warga sipil dilaporkan tewas. Data medis menyebutkan, serangan terjadi sebelum fajar dan menyasar kerumunan warga sipil.

Di lokasi terpisah, seorang warga Palestina juga dilaporkan tewas dalam serangan di Beit Lahia, Gaza utara. Data tim medis mencatat total korban tewas sejak subuh hingga Sabtu siang mencapai tujuh orang.

Qassem menegaskan bahwa Israel harus dipaksa menjalankan fase pertama kesepakatan, termasuk menghentikan seluruh pelanggaran sebelum melangkah ke tahap berikutnya. 

Hamas menolak dan menganggap hal itu mengancam eksistensi serta perjuangan mereka. Meski gencatan senjata telah disepakati, Zionis terus melakukan penyerangan hingga menewaskan warga sipil hingga bulan ini.

Walapun BoP mendesak Hamas untuk melucuti senjatanya sebagai syarat rencana perdamaian Gaza. Hamas menolaknya dengan tegas.

Melumpuhkan Perlawanan

Jika kita amati secara mendalam, demiliterisasi sesungguhnya adalah strategi untuk melumpuhkan kekuatan perlawanan Palestina secara militer. Akan ada proses demiliterisasi Gaza di bawah pengawasan pemantau independen yang mencakup penghentian penggunaan senjata secara permanen.

Poin ini jelas melucuti kekuatan perlawanan Palestina. Sebaliknya hal yang sama tidak dituntut kepada Zion*s Yahudi yang justru merupakan pelaku Genosida. Pelucutan senjata adalah upaya Barat (AS) untuk menghentikan perjuangan perlawanan rakyat Gaza dengan jihad.

BoP bukan mediator netral, tetapi jebakan Kapitalisme global yang condong pada kepentingan Barat dan Zionis. Jika demiliterisasi tetap diberlakukan secara penuh di Gaza sama halnya dengan memberikan nyawa warga Palestina untuk dubunuh Zion*s tanpa perlawanan sama sekali. 

Pelucutan senjata juga bagian dari serangan pemikiran sebagai upaya mengubah cara pandang umat agar menganggap perlawanan sebagai ancaman dan penyerahan senjata sebagai jalan damai. Selama kaum muslim mendasarkan diri mereka pada syariat Islam, Barat akan menemui jalan buntu untuk menguasai kaum muslim.

Perjuangan Pembebasan Palestina
Akar dari permaslahan Palestina adalah keruntuhan Pemerintahan Islam Ustmani pada 1924 yang membuka jalan bagi terpecahnya negeri-negeri muslim dan perampasan Palestina dengan dukungan Inggris lalu dialihkan ke Amerika Serikat. 

Penguasa negeri muslim justru mendukung keberadaan zion*s dengan menjalin Kerjasama, dan membungkam suara umat untuk membela Palestina dan tidak mengirimkan bantuan militer untuk membebaskan Palestina. 

Pengkhianatan rezim ini kontras dengan meningkatnya kesadaran umat Islam termasuk generasi mudanya yang kian menentang kejahatan Zion*s.

Oleh karena itu, tidak ada jalan untuk membebaskan Palestina kecuali hanya melalui tegaknya Pemerintahan Islam. Sejarah membuktikan saat Pemerintahan Islam masih tegak, wilayah Palestina terlindungi. 

Pemimpinnya akan mampu menghadirkan kekuatan politik dan militernya melalui jihad secara nyata. Inilah jalan perjuangan sejati pembebasan Palestina dan negeri-negeri muslim lainnya yang tertindas. Solusi Gaza bukan diplomasi, tapi Pemerintahan Islam. Palestina adalah wilayah Islam yang wajib dibebaskan melalui kekuatan militer, bukan negosiasi.

Rasulullah Saw. melakukan dakwah pemikiran, politis, dan tanpa kekerasan. Dakwah Rasul fokus membina umat, baik secara personal maupun komunitas, kemudian berinteraksi dengan masyarakat untuk selanjutnya menerima kekuasaan dari umat dan menegakkan pemerintahan Islam yang pertama di Madinah. 

Itulah jemaah dakwah Islam ideologis yang akan merealisasikan ayat yang mulia;

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ۝

“Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran [3]: 104).

Pemerintahan Islam adalah raa'in dan junnah yang akan melindungi nyawa kaum Muslim.Upaya menegakkan Pemerintahan Islam pasti akan menghadapi tantangan besar dari negara-negara adidaya yang tidak menginginkan kebangkitan Islam. 

Mereka akan melakukan berbagai cara untuk menghalangi perjuangan ini dengan mengkriminalisasi para pejuangnya, melakukan penangkapan, bahkan pelarangan terhadap gerakan ini. 

Khilafah akan menggerakkan kekuatan militer seluruh negeri-negeri Muslim, untuk mengusir penjajah Zionis dari bumi Palestina. Sehingga umat harus disadarkan melalui dakwah ideologis terkait urgensi Pemerintahan Islam dan kewajiban memperjuangkannya. Wallahualam bishshawwab.[]

Oleh: Fitri Susilowati
(Aktivis Muslimah)

Opini

×
Berita Terbaru Update