"Layakkah Iran menjadi calon negara super power? Menurut saya
tidak layak. Sangat berbahaya kita mempercayai Iran untuk merepresentasikan
Islam sebagai negara super power, karena bisa jadi di panggung mengatakan A dan
di balik panggung dia mengatakan B," ucapnya saat acara Liqa Syawal
1447 H di Yogyakarta, Ahad (12/05/2026).
Bahkan, menurut Kiai Shiidiq, sangat berbahaya jika sebagai Muslim terlalu
mempercayai Iran sebagai wakil negara Islam yang super power, karena
meskipun saat ini tengah bertikai dengan Amerika Serikat (AS), namun Iran
memiliki sejarah pernah menjalin kerja sama dengan AS.
Lanjutnya, ia menjelaskan, pada tahun 1986 terjadi skandal yang dinamakan
'Iran Kontra'. “Saat itu pemimpin Iran Khomeini menjalin kerja sama jual beli
senjata dengan Presiden AS Ronald Reagan. Padahal di tahun 1979, usai Revolusi
Iran, Khomeini menyebut Amerika ialah setan besar,” ungkapnya.
"Jadi kenapa Iran membeli senjata dari Amerika? Karena Iran berperang
dengan Irak. Jadi pada waktu itu Iran kekurangan senjata. Dari mana dia beli?
Ternyata dari setan besar, dari kafir yang menjadi musuh mereka,"
terangnya.
Ia menegaskan, di dalam Islam, jual beli antara kaum Muslim dengan negara
kafir harbi hukumnya haram. "Dalilnya surah Al-Maidah ayat 2, tolong
menolonglah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan, jangan tolong menolong dalam
dosa dan permusuhan," ungkapnya.
Terlebih, ia mengungkapkan bahwa Amerika bekerja sama dengan Iran lantaran
dana jual beli senjata itu akan digunakan untuk membiayai satu kelompok
pemberontak di negara Nikaragua untuk memberontak kepada negaranya.
"Ini Iran lho yang melakukan jual beli. Bagaimana mungkin
negara yang di panggung bilang Amerika itu setan besar dan negara kafir musuh
kita, tapi di belakang panggung mereka jual beli senjata," keluhnya.
Namun, ia melihat kerja sama antara Amerika dan Iran tidak hanya soal jual
beli senjata. “Pada tahun 2003 Iran pernah berperan membantu Amerika menginvasi
Irak. Pada saat itu Iran melayani kepentihan AS melalui Hizbullah,” ulasnya.
"Jadi Iran itu melayani kepentingan Amerika. Dengan cara apa? Dengan
cara yang namanya punya proxy, namanya Hizbullah,” sebutnya.
“Jadi Hizbullah adalah kelompok milisi militer dari Syiah, dibiayai
senjatanya dan dananya dari Iran. Hizbullah itu tidak hanya ada di Iran tapi
juga ada di Irak. Di Irak itu ada Hizbullah dan dia membantu Amerika menyerang
Irak," bebernya.
Lebih lanjut, Kiai Shiddiq menambahkan, ketika pemilihan presiden Iran
terdapat sebuah undang-undang yang bersifat nasionalistik yang berbunyi Presiden
Iran harus orang Iran. “Alhasil, undang-undang tersebut pada saat itu dikritik
oleh Hizbut Tahrir lantaran pemimpin Islam tidak boleh dari bangsa tertentu,”
urainya.
"Karena tidak ada dalilnya dari Al-Qur'an dan dari hadis. Hizbut
Tahrir menerangkan bahwa yang namanya pemimpin atau khalifah itu syaratnya itu
tujuh, tetapi tidak menyebutkan syarat kebangsaan,” tuturnya.
Kiai Shiddiq menyebutkan tujuh syarat itu satu dia adalah Muslim,
laki-laki, akil atau berakal, balig, Muslim, merdeka bukan budak, adil bukan
orang fasik, dan mampu," paparnya.
"Jadi kita harus melihat Iran itu tidak hanya yang sekarang. Sekarang
itu kita lihat dia hebat sekali, tetapi kalau kita melihat sejarah, dia itu
pelayan Amerika serikat. Iran itu melakukan kerja sama dengan Amerika di balik
panggung," tutupnya.[] Taufan