Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Iran Tidak Layak Menjadi Calon Negara Super Power? Ini Penjelasannya

Selasa, 21 April 2026 | 03:32 WIB Last Updated 2026-04-20T20:32:14Z

TintaSiyasi.id -- Ahli Fikih Islam K.H. Shiddiq Al-Jawi, M.Si. menilai Iran tidak layak menjadi calon negara super power, bahkan sangat berbahaya mempercayai Iran untuk merepresentasikan Islam sebagai negara super power, karena bisa jadi di panggung mengatakan A dan di balik panggung dia mengatakan B

 

"Layakkah Iran menjadi calon negara super power? Menurut saya tidak layak. Sangat berbahaya kita mempercayai Iran untuk merepresentasikan Islam sebagai negara super power, karena bisa jadi di panggung mengatakan A dan di balik panggung dia mengatakan B," ucapnya saat acara Liqa Syawal 1447 H di Yogyakarta, Ahad (12/05/2026).

 

Bahkan, menurut Kiai Shiidiq, sangat berbahaya jika sebagai Muslim terlalu mempercayai Iran sebagai wakil negara Islam yang super power, karena meskipun saat ini tengah bertikai dengan Amerika Serikat (AS), namun Iran memiliki sejarah pernah menjalin kerja sama dengan AS.

 

Lanjutnya, ia menjelaskan, pada tahun 1986 terjadi skandal yang dinamakan 'Iran Kontra'. “Saat itu pemimpin Iran Khomeini menjalin kerja sama jual beli senjata dengan Presiden AS Ronald Reagan. Padahal di tahun 1979, usai Revolusi Iran, Khomeini menyebut Amerika ialah setan besar,” ungkapnya.

 

"Jadi kenapa Iran membeli senjata dari Amerika? Karena Iran berperang dengan Irak. Jadi pada waktu itu Iran kekurangan senjata. Dari mana dia beli? Ternyata dari setan besar, dari kafir yang menjadi musuh mereka," terangnya.

 

Ia menegaskan, di dalam Islam, jual beli antara kaum Muslim dengan negara kafir harbi hukumnya haram. "Dalilnya surah Al-Maidah ayat 2, tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan, jangan tolong menolong dalam dosa dan permusuhan," ungkapnya.

 

Terlebih, ia mengungkapkan bahwa Amerika bekerja sama dengan Iran lantaran dana jual beli senjata itu akan digunakan untuk membiayai satu kelompok pemberontak di negara Nikaragua untuk memberontak kepada negaranya.

 

"Ini Iran lho yang melakukan jual beli. Bagaimana mungkin negara yang di panggung bilang Amerika itu setan besar dan negara kafir musuh kita, tapi di belakang panggung mereka jual beli senjata," keluhnya.

 

Namun, ia melihat kerja sama antara Amerika dan Iran tidak hanya soal jual beli senjata. “Pada tahun 2003 Iran pernah berperan membantu Amerika menginvasi Irak. Pada saat itu Iran melayani kepentihan AS melalui Hizbullah,” ulasnya.

 

"Jadi Iran itu melayani kepentingan Amerika. Dengan cara apa? Dengan cara yang namanya punya proxy, namanya Hizbullah,” sebutnya.

 

“Jadi Hizbullah adalah kelompok milisi militer dari Syiah, dibiayai senjatanya dan dananya dari Iran. Hizbullah itu tidak hanya ada di Iran tapi juga ada di Irak. Di Irak itu ada Hizbullah dan dia membantu Amerika menyerang Irak," bebernya.

 

Lebih lanjut, Kiai Shiddiq menambahkan, ketika pemilihan presiden Iran terdapat sebuah undang-undang yang bersifat nasionalistik yang berbunyi Presiden Iran harus orang Iran. “Alhasil, undang-undang tersebut pada saat itu dikritik oleh Hizbut Tahrir lantaran pemimpin Islam tidak boleh dari bangsa tertentu,” urainya.

 

"Karena tidak ada dalilnya dari Al-Qur'an dan dari hadis. Hizbut Tahrir menerangkan bahwa yang namanya pemimpin atau khalifah itu syaratnya itu tujuh, tetapi tidak menyebutkan syarat kebangsaan,” tuturnya.

 

Kiai Shiddiq menyebutkan tujuh syarat itu satu dia adalah Muslim, laki-laki, akil atau berakal, balig, Muslim, merdeka bukan budak, adil bukan orang fasik, dan mampu," paparnya.

 

"Jadi kita harus melihat Iran itu tidak hanya yang sekarang. Sekarang itu kita lihat dia hebat sekali, tetapi kalau kita melihat sejarah, dia itu pelayan Amerika serikat. Iran itu melakukan kerja sama dengan Amerika di balik panggung," tutupnya.[] Taufan

Opini

×
Berita Terbaru Update