TintaSiyasi.id -- Peneliti Masyarakat Sosial Politik Indonesia (MSPI) Dr. Ryan, M.Ag., menjelaskan Saqifah Bani Saidah bukan sekadar peristiwa sejarah ia adalah pelajaran mahal tentang umat menjaga persatuan.
"Saqifah Bani Saidah bukan sekedar peristiwa sejarah Ia adalah pelajaran mahal tentang bagaimana umat ini menjaga persatuan di tengah krisis yang kemudian terjadi dari tangisan menjadi kepemimpinan, dari kekacauan menjadi kesatuan, dari duka menjadi kekuatan," ujarnya dalam acara Krisis Setelah Wafat Nabi: Fakta Saqifah & Ijma Sahabat tentang Wajibnya Khilafah di akun YouTube RayahTV, Kamis (19/2/2026).
Ia memaparkan peristiwa sejarah, hari itu Madinah tidak seperti biasanya, tidak ada senyum, tidak ada suara yang ada adalah tangisan, kebingungan, dan ketakutan Rasulullah Saw. yang tercinta wafat. Para sahabat terguncang ada yang tidak percaya, ada yang terdiam, bahkan Umar Bin Khattab sampai berkata siapa yang mengatakan Rasulullah SAW wafat akan aku potong tangan dan kakinya.
"Ini bukan sekedar duka, ini krisis kepemimpinan, ini ancaman perpecahan, ini potensi runtuhnya umat Islam yang masih baru lahir," terangnya.
Kemudian, ia melanjutkan, di tengah kekacauan itu datanglah satu sosok tenang, tegas, dan jernih, Abu Bakar As Siddiq ia masuk ke kamar Aisyah membuka kain yang menutupi wajah Rasulullah SAW yang tercinta, menciumnya sambil kemudian menangis lalu berkata 'wahai nabi Allah engkau telah merasakan kematian yang telah Allah tetapkan dan Allah tidak akan mengumpulkan dua kematian atasmu'.
Kemudian, Abu Bakar As Siddiq keluar, Umar masih berbicara dengan emosi. Abu Bakar berkata duduklah wahai Umar, lalu beliau berpidato pendek tetapi mengguncang sejarah. 'Barang siapa yang menyembah Muhammad maka Muhammad telah wafat, barangsiapa yang menyembah Allah maka Allah Maha hidup dan tidak akan mati'
Lalu, ia membaca ayat yang artinya Muhammad itu hanyalah seorang rasul, telah berlalu sebelumnya para rasul. Apakah jika ia wafat atau terbunuh kalian akan berbalik ke belakang.
"Seketika umat sadar, Umar jatuh lemas kebenaran telah kembali, tauhid kembali tegak, di sini kita belajar krisis pertama umat Islam diselesaikan dengan Al-Quran dan kepemimpinan," ungkapnya.
Ia melanjutkan, tetapi masalah belum selesai, belum ada khalifah belum ada pemimpin, padahal ancaman sudah di depan mata ada kemurtadan, pemberontakan, perpecahan dan juga hal-hal yang lain, maka sahabat Ansar berkumpul di sakifah Bani Saidah mereka bermusyawarah siapa yang akan memimpin umat setelah Rasulullah SAW wafat, kaum Muhajirin mendengar Abu Bakar, Umar, dan Abu Ubaidah segera menuju ke sana.
"Mari bayangkan suasananya dua kelompok besar umat Islam dalam satu ruangan membahas kepemimpinan, dengan potensi konflik yang sangat besar," kisahnya.
Orang-orang Ansor kemudian berkata 'kami adalah penolong Islam, kami tentara Allah dari kami satu pemimpin dari kalian satu pemimpin, dua pemimpin, dua otoritas, dua pusat kekuasaan, jika itu terjadi umat akan dipastikan terbelah.
"Di sinilah kecerdasan Abu Bakar terlihat, dia tidak memulai dengan bantahan, ia memulai dengan pujian wahai kaum Ansor jasa kalian besar, kalian adalah penolong agama Islam. Inilah strategi komunikasi yang luar biasa, merendam emosi, mengakui keutamaan baru sampai kemudian kepada kebenaran," ungkapnya.
Kemudian, ia menambahkan, lalu Abu Bakar berkata urusan ini dikenal pada orang Quraisy mereka adalah orang Arab yang paling diterima nasabnya.
"Ia tidak bicara tentang ego, ia bicara dengan dalil, ia mengingatkan Hadis riwayat Bukhari (No. 6606/7139) menyebutkan: "Perkara ini (kepemimpinan) akan senantiasa dipegang oleh Quraisy selama mereka menegakkan agama," paparnya.
Ia menjelaskan, di dalam Al-Quran yang artinya bahwa Muhajirin disebut as shodiqin dan Anshar disebut al muflihun, artinya keduanya mulia, tetapi peran mereka berbeda Muhajirin sebagai pemimpin dan kaum Anshar sebagai penolong dan wazirnya.
Lalu Abu Bakar melakukan hal yang mengejutkan ia tidak mencalonkan dirinya ia berkata ‘aku usulkan kepada kalian dua orang ini Umar Bin Khattab dan Abu Ubaidah’
"Ini bukti kezuhutan ia (Abu Bakar) tidak haus kekuasaan, tetapi Umar justru berkata ‘demi allah aku lebih baik dipenggal daripada kemudian menjadi pemimpin sementara kemudian Abu Bakar masih ada’ lalu Umar berdiri dan memegang tangan Abu Bakar dan kemudian membaiatnya, kaum Muhajirin mengikuti kaum Anshar juga kemudian mengikuti," kisahnya.
"Tanpa perang, tanpa darah, tanpa konflik, dan ini adalah salah satu transisi kekuasaan paling damai dalam sejarah, dan yang lebih menakjubkan pengangkatan khalifah dilakukan sebelum pemakaman jenazah Rasulullah SAW yang mulia kenapa? Karena para sahabat bersepakat mengangkat imam atau khalifah itu wajib," ungkapnya.
"Ini bukan opini politik, ini ijma' sahabat, mereka menunda pemakaman Nabi SAW demi memastikan ada pemimpin yang menegakkan hukum Allah, menjaga persatuan, mencegah kezaliman, dan para ulama kemudian menegaskan inilah dalil yang paling jelas tentang wajibnya kepemimpinan dalam Islam," tambahnya.
Ia menjelaskan, tanpa imam, tanpa seorang khalifah maka masyarakat akan kacau, hukum tidak akan berjalan, kezaliman akan merajalela, maka Abu Bakar As Siddiq menerima jabatan itu, bukan karena ambisi tapi karena takut fitnah.
'Dia berkata demi Allah aku tidak akan pernah menginginkan kepemimpinan ini aku menerimanya karena takut terjadi perpecahan'
Bahkan, ia melanjutkan, Abu Bakar pernah berkata 'Andai saat itu aku lemparkan urusan ini kepada Umar dan Abu Ubaidah, aku cukup menjadi wazir saja. "Inilah pemimpin sejati tidak mencari jabatan, tetapi siap memikul amanah, dan satu fakta penting tidak terjadi perpecahan di antara kaum Muhajirin dan Anshar," jelasnya.
Ia menambahkan, Anshar justru menjadi pasukan terdepan dalam memerangi kaum murtad dan menegakkan kekhalifahan Abu Bakar. "Artinya Saqifah bukan konflik, Saqifah adalah solusi bukan perebutan kekuasaan tetapi musyawarah untuk menjaga kesatuan umat," paparnya.
"Dari peristiwa ini kita belajar tiga hal yang pertama krisis harus diselesaikan dengan ilmu, dalil dan ketenangan. Kedua, kepemimpinan di dalam Islam bukan ambisi tetapi adalah sebuah amanah. Ketiga, persatuan umat lebih penting daripada ego atau kepentingan kelompok dan yang paling penting para sahabat sepakat bahwa umat ini harus punya pemimpin karena tanpa pemimpin syariat tidak bisa ditegakkan keadilan tidak bisa dijaga dan umat akan bercerai-berai," pungkasnya.[] Alfia