Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Peradaban Besar Selalu Dimulai Dari...

Sabtu, 04 April 2026 | 16:01 WIB Last Updated 2026-04-04T09:01:56Z

TintaSiyasi.id -- Pimpinan Inspiring Quran Ustaz Eri Taufik Abdul Kharim, menjelaskan peradaban besar selalu dimulai dari iman, kejujuran, dan rasa takut kepada Allah SWT. 

"Peradaban besar selalu dimulai dari iman, kejujuran, dan rasa takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala," ujarnya dalam acara Kisah Khalifah #2 Negara Tanpa Kemewahan, Transparansi dan Tawadhu Abu Bakar di akun YouTube RayahTV, Jumat (20/2/2026).

Ia menjelaskan, setelah wafatnya Rasulullah SAW. umat Islam berada dalam kondisi sangat genting, ancaman dari dalam banyak sahabat yang murtad, Banyak kaum muslim yang murtad, ancaman dari luar kekuatan Romawi dan Persia, namun di tengah badai itu Abu Bakar menerima amanah sebagai khalifah.

Lanjut, ia mengatakan, Abu Bakar tidak memerintah sendiri (negara) beliau membangun struktur pemerintahan yang jelas ada Abu Ubaidah bin jarrah mengelola Baitul mal, Umar Bin Khattab membantu urusan peradilan, Zaid Bin Tsabit menjadi sekretaris negara, Ali dan Usman kadang turut membantu administrasi.

"Artinya negara di jalankan dengan pembagian tugas bukan kekuasaan absolut, ini penting karena dalam Islam, kepemimpinan adalah amanah kolektif bukan monopoli individu," tegasnya. 

Kemudian, ia menceritakan kisah paling menggetarkan adalah soal tunjangan khalifah. 

"Suatu hari Abu Bakar tetap pergi ke pasar untuk berdagang, lalu Umar bertanya engkau sekarang pemimpin kaum Muslimin, Abu Bakar menjawab, lalu dari mana aku memberi makan keluargaku. Akhirnya para sahabat menetapkan tunjangan untuk beliau dari Baitul Mal," kisahnya. 

"Dan luar biasa tunjangan itu diumumkan di depan rakyat, beliau (Abu Bakar) bertanya apakah kalian ridha dengan tunjangan yang aku terima, transparansi akuntabilitas persetujuan publik bahkan ketika tunjangannya dianggap cukup besar 300 dinar dan seekor kambing per hari, beliau hanya mengambil sekedar kebutuhan sederhana, ini berbeda jauh dengan konsep kekaisaran saat itu yang mengatakan negara adalah aku dan aku adalah negara," terangnya. 

Dalam Islam, ia menjelaskan, harta negara bukan milik penguasa, sebelum jadi khalifah, Abu Bakar biasa memerah susu untuk tetangganya, setelah jadi khalifah beliau tetap melakukannya, beliau berkata 'aku berharap kedudukanku tidak mengubah kebiasaanku'.

"Bayangkan kepala negara pemerah susu untuk rakyat, bukan hanya itu Umar pernah diam-diam membantu seorang nenek buta setiap malam, namun selalu ada orang yang mendahuluinya ternyata itu Abu Bakar, beliau sudah menjadi khalifah saat itu, itu bukan hanya kepemimpinan administrasi, ini kepemimpinan ruhiah dan ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, tidaklah seorang rendahkan diri karena Allah kecuali Allah akan mengangkat derajatnya hadis riwayat Muslim," jelasnya. 

Kemudian, ia menjelaskan, peradilan pada masa Abu Bakar bukan sistem yang baru, ia melanjutkan sistem Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam secara utuh.

"Contoh keputusan beliau kasus nafkah orang tua beliau menolak seorang ayah yang ingin mengambil seluruh harta anaknya, beliau berkata Ambilah secukupnya, artinya hadis dipahami dengan keadilan bukan tekstual tanpa batas," ujarnya. 

"Pembelaan diri seorang yang digigit lalu melepaskan tangannya sehingga gigi pelaku rontok tidak dikenakan qisas karena itu pembelaan diri, kasus zina dengan paksaan, pelaku dihukum dera dengan diasingkan korban tidak dihukum bahkan dinikahkan untuk menjaga masa depannya, ini menunjukkan keadilan Islam mempertimbangkan konteks dan perlindungan korban, hak asuh anak, Abu Bakar memutuskan anak lebih berhak diasuh ibu selama belum menikah lagi, dengan alasan kasih sayang dan kelembutan ibu lebih dibutuhkan anak, sebuah keputusan yang sangat humanis," tambahnya. 

Lanjut ia menceritakan, Abu Bakar mengangkat para gubernur di berbagai wilayah Mekah, Thaif, Yaman, Bahrain, Hadramaut dan lainnya, tugas mereka tidak hanya politik tetapi juga menjadi imam salat, mengajarkan Al-Qur'an, mengumpulkan zakat, menegakkan hukum, mengamankan wilayah, mengambil baiat rakyat, negara dan agama berjalan terpadu, dalam komunikasi pusat daerah berjalan intens melalui surat yang dilaporkan rutin.

"Ini menunjukkan adanya sistem administrasi yang rapi bukan sekedar simbol kekuasaan, jika para pejabat tidak menemukan nas mereka berijtihad namun tetap dalam koridor syariat, tetap dalam koridor syariat, ketika ada kasus penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar menegaskan bahwa hukumnya berbeda dengan pelanggaran biasa, ini menunjukkan negara memiliki prinsip hukum yang jelas dan tegas," kisahnya. 

Ia menegaskan, Abu Bakar tidak hanya mengatur negara Beliau juga mendidik umat, beliau berkata 'mintalah afiyah kepada Allah karena tidak ada yang lebih baik setelah Iman selain afiyah'. Beliau juga menasehati peganglah kejujuran karena ia bersama kebaikan dan berada di surga, jauhi dusta karena ia bersama kefajiran dan dalam api neraka.

"Bahkan Beliau berkata aku menutup kepalaku ketika buang hajat karena malu kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, inilah pemimpin yang merasa diawasi Allah bukan hanya diawasi rakyat, ada riwayat menyebutkan keterlambatan baiat Ali dan Zubair namun dewan shahih menunjukkan mereka berbaiat pada Abu Bakar dan tetap salat di belakang Abu Bakar, bahkan Ali terlibat dalam musyawarah pemerintahan artinya kepemimpinan Abu Bakar diterima oleh para sahabat utama, persatuan dijaga, tidak ada oposisi destruktif," paparnya. 

"Dari semua ini kita melihat tiga pilar utama amanah dalam harta negara, keadilan dalam hukum, tawaduk dalam kepemimpinan. Abu Bakar bukan hanya mengelola negara beliau mengelola dirinya sendiri, beliau takut kepada Allah, beliau transparan kepada rakyat, beliau melayani sebelum memerintah, maka wajar jika masa pemerintah hanya meski singkat, menjadi pondasi kokoh bagi peradaban Islam," pungkasnya.[] Alfia

Opini

×
Berita Terbaru Update