TintaSiyasi.id -- Penetapan awal Ramadhan dan syawal selalu menjadi polemik khususnya di Indonesia. Potensi perbedaan selalu ada karena terdapat perbedaan metode dalam menetapkan awal bulan, ada masyarakat yang mengikuti metode rukyat global, rukyat lokal maupun metode hisab. Tahun ini kementerian agama melaksanakan pemantauan hilal (rukyatul hilal) di 96 lokasi yang tersebar di seluruh Indonesia untuk menetukan awal ramadhan (https://news.detik.com, 06/02/2026). Sedangkan untuk menentukan awal syawal kemenag melakukan pemantauan hilal di 117 titik lokasi yang tersebar di seluruh Indonesia (https://dki.kemenag.go.id, 19/03/2026).
Dalam menggelar sidang isbat, kemenag menjelaskan bahwa anggaran biayanya sebesar Rp142.478.000, artinya dalam dua kali sidang isbat untuk awal Ramadhan dan syawal mencapai sekitar 300 juta. Anggaran tersebut digunakan untuk mendukung berbagai kebutuhan operasional, termasuk koordinasi nasional dengan tim rukyatul hilal di berbagai wilayah, penyelenggaraan sidang, serta akomodasi dan konsumsi peserta. Kemenag menyepakati bahwa 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada hari Sabtu, 21 Maret 2026 berdasarkan dua hal, 1) Secara hisab, posisi hilal tersebut belum memenuhi kriteria visibilitas hilal MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura). Diketahui, bahwa Menteri Agama anggota MABIMS menyepakati kriteria baru yaitu tinggi hilal 3 derajat dan sudut elongasi 6,4 derajat. 2) Kemenag menyampaikan bahwa dari pengamatan hilal yang telah dilakukan di 117 titik di seluruh Indonesia, hasilnya tidak ada satu pun titik yang berhasil melihat hilal berdasarkan laporan yang diterima serta konfirmasi dari tim hisab (https://dki.kemenag.go.id, 19/03/2026).
Tinjauan kritis mengenai hal ini adalah berdasarkan perspektif Profesor Tono Saksono sebagai ahli astronomi, beliau menyampaikan bahwa agenda rukyat hilal menjadi agenda proyek yang lebih tampak diharuskan ada, bukti mengenai hal ini adalah pada 17 feb 2026 saat hendak mengawali ramadhan, beliau menjelaskan bahwa hilal adalah bagian bawah bulan yang tersinari matahari setelah terjadi konjungsi (peristiwa astronomi saat posisi Bulan berada di antara Bumi dan Matahari) dan syarat untuk bisa melihat hilal adalah pada waktu magrib saat matahari sedang meredup sedangkan pada malam hari tidak akan terlihat. Pada 17 feb yang lalu konjungsi terjadi pada jam 19 malam, artinya tidak akan mungkin terlihat hilal, Tetapi departemen agama tetap mengirimkan tim hisab. Prof Tono menilai bahwa pekerjaan terebut sia-sia karena tidak mungkin dapat terlihat, padahal anggaran untuk hal itu bisa diefiiensi untuk dana yang lebih bermanfaat misalnya dana pendidikan, karena anggaran terebut juga berasal dari uang rakyat. Hal semacam ini juga telah terjadi berulang-ulang kali di tahun-tahun sebelumnya.
Beliau memastikan bahwa hilal pasti terbentuk 1 detik setelah konjungsi, meski hilal tidak telihat tetapi dapat dihitung dengan sangat akurat, setiap detik hilal bertambah besar, meski penambahannya kecil tapi secara matematis dapat dihitung. Cara sederhana dalam menghitungnya yaitu purnama terjadi di hari ke 14, 100% dibagi 14 hari dibagi 24 jam, maka per jam nya 0,03 % bertambah besar, maka pada jam 04.00 pagi atau waktu subuh hilal sudah terbentuk besar, maka seharusnya 1 Ramadhan tepat pada tanggal 18 Februari (Sindonews, 14/03/2026).
Berdasarkan pembahasan di atas, maka wajar jika ada penilaian bahwa agenda rukyat hilal semacam menjadi proyek/bisnis untuk mendapatkan dana, padahal dapat dialokasikan untuk kepentingan rakyat yang lain yang lebih mendesak. Apalagi dalam asas dan logika politik demokrasi sangat jauh dari mengutamakan kepentingan rakyat, tetapi lebih mengutamakan kepentingan atau keuntungan kelompok sebagai efek dari politik transaksional. Disamping itu, sebenarnya ada pilihan metode (memastikan awal Ramadhan atau awal syawal) yang dapat mengefisiensi anggaran serta menjadikan hari raya kaum Muslim satu dunia sama, yaitu metode rukyat global, maka sudah seharusnya kaum Muslim lebih kritis dan terbuka, karena sejatinya hanya ada 1 bulan di dunia ini. Maka sesungguhnya perbedaan adalah dampak dari sekat-sekat nasionalisme, inilah pentingnya persatuan kaum Muslim di seluruh dunia. Oleh karena itu, menjadi sebuah keharusan bagi seluruh intelektual untuk lebih kritis dan menyuarakan pentingnya persatuan umat Islam.[]
Oleh: Ayu Fitria Hasanah, S.Pd.
Aktivis Muslimah