Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Perluasan Wilayah Harus Diiringi dengan Perluasan Iman karena...

Minggu, 26 April 2026 | 22:30 WIB Last Updated 2026-04-26T15:30:24Z

TintaSiyasi.id -- Filolog, Founder Syajaraventure Ustaz Salman Iskandar, menjelaskan perluasan wilayah harus diiringi dengan penguatan iman, karena orang bisa masuk Islam secara politik tetapi belum tentu secara hati.

"Pelajaran besarnya untuk kita perluasan wilayah harus diiringi dengan penguatan Iman, karena orang bisa masuk Islam secara politik tetapi belum tentu secara hati," ungkapnya di Acara Kisah Khilafah #7 Perang Riddah, Ketegasan Abu Bakar Menjaga Akidah Umat Di Akun Youtube Rayahtv, Kamis (26/2/2026).

Ia mengatakan, satu persatu kabilah Arab memberontak, ada yang mengaku sebagai nabi, ada yang kembali menyembah berhala, ada yang berkata 'kami shalat teyapi tidak mau membayar zakat'. 

"Dan saat itulah seorang sahabat yang dikenal paling lembut berdiri dengan keputusan yang paling tegas dalam sejarah Islam ialah Sayyidina Abu Bakar As Siddiq, dalam istilah para ulama seperti dijelaskan Imam Ibnu Hazm murtad adalah orang yang sebelumnya muslim lalu keluar dari Islam dengan menolak hal yang sudah pasti dalam agamanya. Shalat, zakat, kenabian atau prinsip dasar akidah jadi ini bukan sekedar dosa biasa, ini adalah pembelotan terhadap pondasi agama dan negara," paparnya. 

Ia mengungkapkan, gerakan ini sudah muncul di akhir masa hidup Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tetapi tertahan oleh wibawa kenabian, begitu Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam wafat, api ini meledak di seluruh Jazirah Arab, tiba-tiba muncul tokoh-tokoh yang mengaku sebagai nabi, Musailamah di Yamamah, Al Aswad Al ansi di Yaman, Thulaihah al Asadi di Nejd, mereka bukan orang bodoh mereka pintar berbicara, punya pengaruh, punya masa, dan menjadikan agama sebagai alat politik.

"Bahkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah bermimpi melihat dua gelang emas di lengannya yang beliau tiup hingga hilang, beliau menafsirkannya sebagai dua pendusta besar pemimpin Yaman dan pemimpin Yamamah," kisahnya. 

"Artinya sejak awal fitnah ini sudah diberi peringatan, ada banyak sebab sebagian masuk Islam karena takut kekuatan negara bukan karena keimanan, sebagian rindu tradisi jahiliyah, sebagian ingin lepas dari kewajiban zakat, sebagian karena fanatisme suku, sebagian karena ambisi kekuasaan, sampai ada yang berkata 'aku tahu Muhammad itu benar Musailamah pendusta, tetapi pendusta dari suku kami lebih kami sukai disukai daripada orang-orang Jujur dari suku lain, ini bukan soal teologi saja ini soal loyalitas politik dan kepentingan," cecarnya. 

Ia menceritakan, semua ini terjadi Madinah dalam keadaan lemah, pasukan utama sedang berada di luar kota, para pemberontak bahkan datang ke dekat Madinah dan mengajukan tawaran 'kami tetap akan melaksanakan shalat tetapi kami tidak mau membayarkan zakat'. 

"Di sinilah terjadi dialog bersejarah antara Khalifah Abu Bakar dan Sayyidina Umar Bin Khattab, Umar berkata kepada Abu Bakar 'jangan perangin mereka Selama masih mengucapkan syahadat', tetapi Abu Bakar As Siddiq menjawab dengan tegas 'wallahi demi Allah aku akan memerangi siapapun yang memisahkan antara salat dan zakat, walaupun mereka hanya menolak seutas tali unta yang dulu mereka serahkan kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam'", kisahnya. 

Ini adalah prinsip, karena zakat bukanlah pajak, zakat adalah rukun Islam, menolaknya berarti meruntuhkan syariat, akhirnya Umar Bin Khattab berkata 'aku melihat Allah telah melapangkan dada Abu Bakar dan aku tahu Abu Bakar benar'. 

Kemudian, ia berkisah, gerombolan murtad bergerak menuju Madinah jumlah mereka jauh lebih besar, namun Abu Bakar tidak menunggu, beliau menempatkan ahli Zubair dan Thalhah di pintu-pintu gerbang kota Madinah rakyat diperintahkan selalu datang ke masjid agar selalu siap siaga.

Malam hari, ia melanjutkan, musuh menyerang terjadi pertempuran di gerbang kota Madinah kaum muslim berhasil memukul mundur.

"Ini kemenangan psikologis, dunia Arab menyaksikan Madinah masih tetap berdiri, setelah pasukan utama kembali Abu Bakar membagi pasukan kaum muslim menjadi 11 datasemen, setiap pasukan punya target, Yaman, Yamamah, Oman, Bahrain, dan Nejd, strateginya jelas hancurkan gerakan murtad sebelum mereka bersatu, ini bukan perang sembarangan ini adalah operasai militer terkoordinasi dan hasilnya luar biasa dalam waktu sekitar 1 tahun seluruh jazirah Arab kembali ke pangkuan Islam," paparnya. 

Kemudian, di Yaman nabi palsu al Aswad al Ansi Berhasil dibunuh oleh kaum muslim sendiri, di Nejd Thulaihah dikalahkan pasukan Khalid bin Walid. "Meskipun jumlah kaum muslimin lebih sedikit dan menariknya Thulaihah kembali bertaubat dan akhirnya syahid pada saat di mana medan perang menghadapi kekuatan Sasanyah Persia, ini menunjukkan bahwa pintu tobat tetap terbuka di Oman dan Bahrain gerakan murtad di padamkan dan stabilitas kembali," ujarnya. 

"Andaikan Sayyidina Abu Bakar saat itu bersikap lunak apa yang terjadi, Arab akan terpecah, zakat hilang, nabi palsu bermunculan, Negara Islam runtuh sebelum berdiri tegak, ketegasan Abu Bakar menyelamatkan akidah, menjaga syariat, dan mempersatukan umat," sambungnya. 

Ia mengatakan, kisah ini bukan sekedar sejarah perang, ini tentang prinsip bahwa agama tidak bisa dipotong-potong, tidak bisa memilih yang ringan saja, dan bahwa kelembutan tidak berarti tanpa ketegasan. 

"Sayyidina Abu Bakar sahabat yang paling lembut, namun ketika akidah terancam beliau menjadi orang yang paling tegas, karena menjaga agama lebih penting daripada menjaga popularitas, dan dari inilah Islam berdiri kokoh lalu melangkah ke Yamamah menuju Persia menuju Romawi semua berawal dari satu keputusan ketegasan Khalifah Abu Bakar memerangi Gerakan riddah," pungkasnya. [] Alfia

Opini

×
Berita Terbaru Update