TintaSiyasi.id -- Bulan Syawal sudah hampir habis. Namun, hari raya yang awalnya adalah momentum kemenangan. Namun, mirisnya di berbagai belahan dunia Islam, gema takbir ini justru bersahutan dengan dentuman rudal. Dari Gaza, Lebanon, hingga Iran, duka dan luka kembali menyelimuti umat.
Dilansir dari kompas.com (14/04/2026) mencatat eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, Iran, dan Lebanon telah menelan ribuan korban jiwa. Di Iran, korban tewas telah menembus dua ribu orang. Di Lebanon, lebih dari seribu nyawa melayang. Bahkan dalam satu hari serangan, bahkan ratusan warga sipil kembali gugur. Ini bukan sekadar angka. Ini adalah potret nyata dari dunia yang kehilangan keadilan dan kemanusiaan.
Di tengah tragedi ini, berbagai masyarakat di belahan dunia, khususnya umat Islam menunjukkan solidaritas kemanusiaan. Aksi mereka turun ke jalan, lalu ada juga doa bersama, serta penggalangan dana menjadi pemandangan yang berulang. Sayangnya, pertanyaan mendasar tak bisa dihindari: mengapa semua ini terus terjadi, berulang dan mengapa umat tidak mampu dipimpin dalam satu kepemimpinan yang dimana didalamnya diterapkannya hukum Allah dalam kehidupan sehari-hari?
Dalam pandangan islam, akar permasalahan dari persoalan umat ini adalah hilangnya kepemimpinan politik yang mampu berdaulat dan menyatukan. Tanpa itu, umat terpecah, lemah, dan mudah diintervensi.
Padahal Islam telah memberi peringatan tegas terkait sikap umat yang tidak mau terhadap hukum Allah. Allah SWT berfirman:
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَن يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَن يَكْفُرُوا بِهِ ۚ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا
Artinya:
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhukum kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkarinya. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka dengan kesesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa: 60)
Ayat ini menjadi cermin. Ketika umat masih menggantungkan hukum dan penyelesaian pada sistem selain Islam, maka konflik dan ketidakadilan akan terus menemukan jalannya. Kemenangan hakiki pun sungguh bagai jauh panggang dari api.
Dalam konsep Islam kemenangan hakiki, yang sejatinya dicita-citakan setiap umat adalah bukan hanya berbicara tentang kemenangan lahiriah saja. Tetapi, ada dua sisi yang harus berjalan bersamaan.
Pertama, kemenangan internal—yakni keberhasilan menundukkan hawa nafsu. Ibadah seperti puasa, shalat, dan sedekah. Ibadah yang sering disebut ibadah mahdoh ini mampu membentuk pribadi yang bertakwa, atau biasa disebut takwa individu.
Kedua, kemenangan eksternal—yakni terwujudnya kemuliaan Islam dalam kehidupan nyata, melalui penerapan hukum Allah dalam seluruh aspek kehidupan. Ketakwaan ini biasa disebut takwa jamaah. Allah SWT pun menganjurkan agar ada segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, QS. Ali ‘Imran : 104, yang artinya:
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”
Karena itu, meningkatkan ketakwaan tidak cukup berhenti pada amal pribadi. Ia harus diwujudkan dalam kepedulian terhadap urusan umat: memastikan syariat Islam diterapkan dalam kehidupan sosial, ekonomi, hingga politik. Serta ikut dalam sebuah kelompok jamaah yang akan menjaga ketakwaan jamaah sekaligus ketaqwaan individu.
Lebih dari itu, umat harus memiliki keyakinan terhadap janji Allah. Sebagaimana firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
(QS. Muhammad: 7)
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”
Sebaliknya, kehancuran juga telah dijanjikan bagi mereka yang memusuhi kebenaran. Janji ini bukan sekadar penghibur. Ia adalah hukum sebab-akibat. Pertolongan Allah akan datang ketika umat benar-benar menolong agama-Nya—bukan hanya dalam doa, tetapi dalam perjuangan nyata.
Di sinilah letak persoalan umat hari ini. Kuat dalam empati, tetapi lemah dalam kekuatan politik. Semangat ada, tetapi tidak terarah dalam satu kepemimpinan. Maka solusi yang ditawarkan oleh bukanlah tambal sulam, melainkan perubahan mendasar: menghadirkan kembali kepemimpinan politik Islam yang menyatukan umat, melindungi mereka, dan menghentikan dominasi asing. Tanpa itu, tragedi akan terus berulang. Dari Palestina ke Lebanon, dari Irak ke wilayah lain. Dan hari raya akan terus datang dengan luka yang sama.
Kini, pertanyaannya bukan lagi berapa banyak korban yang akan jatuh. Tetapi, sampai kapan umat ini bertahan tanpa kekuatan yang mampu melindungi dirinya sendiri?
Oleh:
Aisah Salwi
Aktivis Muslimah