TintaSiyasi.id -- Perang AS-Israel lawan Iran berakhir gencatan senjata. Dua-duanya kompak mengaku menang. Trump bilang AS menang total, dan Iran bilang mereka yang membuat AS-Israel kalah telak. Dunia bingung, ini perang level global, tapi kemenangannya malah ambigu.
Sedangkan faktanya, kita tau bahwa AS-Israel tidak segampang itu untuk mengalahkan Iran. Dan dari momentum bersejarah ini kita bisa membuka mata bahwa satu negeri Muslim saja bisa menahan serangan, bales nyerang, dan akhirnya memaksa untuk berunding. AS juga gagal menyeret sekutunya. NATO ada, pangkalan banyak, tapi ujungnya Washington malah gelud sendiri.
Mirisnya, saat Iran melawan AS, ada penguasa Muslim yang mendukung AS. Ada yang hanya diam, ada juga yang kasih pangkalan. Padahal QS Al-Maidah ayat 51 sudah jelas melarang. Iran juga mengklaim bahwa AS telah menerima 10 poin syarat dari mereka, dari sini jadi kelihatan, siapa yang kuat beneran.
Perang ini bongkar mitos adikuasa. Dari dulu dunia berprasangka bahwa AS-Israel tidak terkalahkan. Dan Iran membuktikan bahwa prasangka itu salah besar. Modal nekat, rudal, sama rakyat kompak, negara besar bisa dengan mudah dipermalukan oleh Iran. Kita tahu sikap Iran sesuai dengan QS Ali Imran ayat 139, untuk Muslim agar tidak menjadi lemah karena kalian lebih tinggi kalau beriman.
Aliansi ternyata cuma soal untung. Saat perang pecah, tidak ada satu pun yang mau berkorban untuk AS. Turki diam, Saudi nonton, Eropa jaga jarak. Dan Iran pun sendiri, tidak ada satu pun penguasa Muslim yang melakukan pembelaan terhadap Iran, sedangkan kita tahu bahwa Muslim itu saudara, tidak boleh saling menyakiti, sebagaimana sabda Rasulullah yang diriwayatkan dalam hadis Bukhari Muslim.
Masalah umat adalah pengkhianatan penguasanya. Sejarah terus berulang. Perang Salib ada yang bantu musuh. Irak-Afghanistan ada yang buka pangkalan. Sekarang juga sama. Padahal umat 2 miliar lebih, punya minyak, wilayah, selat, tapi lemah karena tidak bersatu.
Kembali ke Iran, bahwa satu Iran saja sudah membuat AS kewalahan. Bagaimana kalau 57 negeri Muslim bersatu? Menjadi kekuatan raksasa, menjadi umat yang ditakuti Barat, Rasulullah bersabda bahwa umat itu satu tubuh. So, menjadi Muslim kok cuma jadi penonton? Lah, mau perang juga enggak bisa. Iya, untuk ikut perang memang tidak bisa asal-asalan, butuh komando Khalifah. Tapi diam saja juga salah, harus ada action, meskipun kecil-kecilan, bisa dengan ungkap fakta, jelaskan pandangan Islam, kasih solusinya. Kenapa apa-apa Islam? Ya karena kita Muslim.
Solusi setengah-setengah tidak akan sampai tujuan. Doa, boikot, kecam, baik tapi kurang. Butuh perubahan di level negara. Umat harus sadar, bersatu itu wajib. Menjadi pecah-belah itu adalah proyek musuh Islam, Allah berfirman dalam QS Ali Imran ayat 103 bahwa kita harus terus berpegang pada tali agama Allah, jangan tercerai-berai. Rasulullah bersabda bahwa mati tanpa baiat, adalah mati jahiliyah.
Artinya, umat butuh pemimpin tunggal, yakni seorang Khalifah, sebagai pemimpin yang menyatukan umat Islam dalam naungan khilafah, bukan nostalgia, tapi khilafah memang pernah memimpin dunia, dan akan kembali sebagaimana janji Allah dan kabar gembira dari Rasulullah, bahwa akan kembali tegak Khilafah ala minhaj nubuwwah, sistem Islam warisan Nabi dan Khulafaur Rasyidin. Khilafah dengan satu negara, satu tentara, satu politik, dan bisa mengerahkan seluruh potensi untuk melawan hegemoni.
Dulu Utsmaniyah pernah membuat Eropa ketakutan. Oleh karena itu, Palestina, Kashmir, Rohingya tidak akan pernah bebas dari genjatan senjata tanpa adanya khalifah yang menjadi perisai untuk umat berlindung dan merdeka.
Khilafah itu perisai umat. Rasulullah bersabda bahwa Imam itu perisai, orang perang di belakangnya dan berlindung padanya (HR. Muslim). Khilafah membawa Islam untuk menjadi Rahmat dengan dakwah dan jihad. Bukan menjajah, tapi membebaskan manusia dari menyembah ke sesama manusia, Allah berfirman dalam QS Al-Anbiya ayat 107 bahwa Nabi diutus untuk menjadi Rahmat semesta alam.
Perang AS-Iran ini kode keras. Era AS sudah habis, dan Muslim yang hanya menjadi penonton saat umat Muslim kesakitan itu harus benar-benar disembuhkan. Caranya? Bina umat, cari nushrah, tegakkan Khilafah. Satu Iran saja bikin kaget, apalagi Khilafah, sudah pasti hegemoni global akan dengan cepat berakhir, tergantikan dengan dimulainya era adilnya Islam. Maka dari itu, sadarkan dirimu wahai Muslim, peranmu bukan jadi penonton. Sekarang giliran kita untuk menjadi agen of change, untuk perubahan besar dunia bersama Khilafah.[]
Oleh: Iswatik
(Aktivis Muslimah)