Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Inilah Pelajaran dari Yamamah

Sabtu, 04 April 2026 | 16:06 WIB Last Updated 2026-04-04T09:06:50Z

Topswara.com -- Pimpinan Maslahah Foundation Ustaz Ponsen, S.P., menjelaskan pelajaran dari Yamamah negara wajib menjaga akidah.

"Dari Yamamah ini kita belajar negara wajib menjaga akidah, fitnah terbesar adalah kekuasaan dan harta, ilmu tanpa iman bisa menyesatkan, dan fanatisme bisa mengalahkan logika, iman sejati tetap kokoh walaupun Nabi SAW., setelah wafat," ujarnya dalam acara Kisah Khilafah #3 Abu Bakar Perangi Musailamah al-Kadzdzab di akun YouTube RayahTV, Sabtu (21/2/2026).

Ia menceritakan, Musailamah al-kadzab seorang pendusta terbesar dalam sejarah Islam dan kisahnya berakhir dalam lautan darah di Yamamah. "Musailamah bukan orang biasa dia orator ulung, tokoh agama Yamamah, pengikutnya sudah banyak bahkan sebelum kenabian Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, ia pintar berbicara, lembut, mempesona, tetapi menipu, ia menamai dirinya Rahman al-Yamamah," kisahnya. 

Ketika delegasi Hanifah masuk Islam di Madinah, Musailamah tidak ikut baiat, ia berkata 'aku akan berbaiat kmalau setelah Muhammad aku jadi nabi'.

"Rasulullah SAW sudah memperingatkan, aku melihat dua gelang emas dalam mimpi. Aku meniupnya lalu hilang. Itulah dua pendusta setelahku, Al-Aswad dan Musailamah, fitnah sudah diprediksi," ungkapnya. 

Kemudian, ia melanjutkan, Rasulullah SAW mengirim seorang guru ke Yamamah yang bernama Ar-Rajjal bin Unfuwah, seorang ahli ibadah, seorang berilmu dipercaya. Lalu Musailamah menawari jabatan dan harta, ternyata ia tergoda dan dia berkata 'wahyu yang turun kepada Muhammad juga turun kepada Musailamah'. "Akibatnya 40.000 murtad, inilah pelajaran fitnah terbesar bukan orang bodoh tetapi orang berilmu yang menyimpang," jelasnya. 

Rasulullah sudah bersabda tentang Ar-Rajjal 'gerahamnya di neraka lebih besar dari gunung Uhud'.

Selanjutnya, Musailamah makin percaya diri, dia menulis surat dari Musailamah Rasul Allah kepada Muhammad Rasul Allah, "bumi kita bagi menjadi dua saja". Rasulullah SAW membalas dari Muhammad Rasulullah kepada Musailamah sang pendusta, bumi milik Allah dan kemenangan untuk orang bertakwa. "Satu kalimat menghancurkan lainnya Musailamah," tegasnya. 

Kemudian, utusan Nabi SAW., yang bernama Hubaib bin Zaid ditangkap Musailamah, kepadanya ditanya 'apakah Muhammad Rasulullah?', Hubaib bin Zaid 'iya', 'apakah aku Rasulullah?' Ia berkata 'aku tuli'. Akhirnya tubuhnya dipotong satu persatu, dan ia tetap teguh, syahid, darahnya menjadi api perang.

"Musailamah membuat wahyu palsu yang berbunyi wahai katak bagian atasmu di air, bagian bawahmu di tanah. Ini bukan wahyu ini ejekan tetapi pengikutnya tetap percaya kenapa? Bukan karena dalil, tetapi karena fanatisme suku," ungkapnya. 

"Kalau Quraisy punya nabi, Rabiah harus punya nabi inilah bahaya identitas tanpa iman," tambahnya. 

Rasulullah SAW wafat, fitnah meledak, Abu Bakar radhiyallahu Anhu mengambil keputusan tegas perangi kemurtadan, pasukan dikirim Ikrimah, Syurahbil, dan Khalid bin Walid, di Yamamah 12.000 muslim menghadapi 100.000 pasukan Musailamah. 

"Di awal perang kaum muslimin terdesak bahkan kemah Khalid hampir tertembus, Tsabit bin Qais berteriak 'ya Allah aku berlepas diri dari perbuatan mereka, Abu Hudzaifah berseru wahai para penghafal Quran, hiasi Qur'an dengan amal, Zaid bin Khattab berkata demi Allah aku tidak akan bicara sampai bertemu Allah'. Ini bukan sekedar perang ini perang akidah," ujarnya. 

Kemudian, Musailamah mundur, sebuah kebun yang besar benteng terakhirnya 6000 pasukannya bersembunyi di dalam, seorang sahabat Al-Barra bin Malik berkata 'lemparkan aku, lemparkan aku ke dalam'. Ia diangkat dengan tombak dilempar melewati pagar sendirian, dia membuka gerbang dari dalam. Kebun itu berubah menjadi kebun kematian. Musalamah bersembunyi di balik pohon. 

"Datanglah Wahsyi bin Harb, mantan pembunuh Hamzah yang telah bertobat, Ia melemparkan tombak yang sama, yang dulu pernah membunuh paman nabi, tombak itu menembus Musailamah, lalu Abu Dujanah menebasnya, Wahsyi berkata aku membunuh manusia terbaik dengan tombak ini, dan hari ini aku membunuh manusia terburuk, Musailamah pun mati, fitnah runtuh," tegasnya. 

"Harga kemenangan ini mahal 1.200 para sahabat syahid, mayoritas menghafal Quran diantaranya Zaid bin Khattab, Ma’an bin Adi, Abu Dujanah, Thufail bin Amr, Abbad bin Bisyr, dan kisah menggetarkan Abu Uqail yang tangannya terputus tetapi tetap merangkak ke medan perang, dan bertanya sebelum wafat siapa yang menang, ketika itu mereka menjawab para sahabat Musailamah mati, ia mengangkat jarinya ke langit lalu wafat, inilah iman," paparnya. 

Ia melanjutkan, Nusaibah binti Ka’ab anaknya dibunuh Musailamah, ia datang di Yamamah untuk membalas, tangannya terpotong di medan perang tapi ia tetap bertempur seorang ibu seorang mujahidah.

"Ma’an bin Adi berkata aku tetap hidup setelah nabi wafat agar aku bisa membenarkan beliau saat beliau tidak lagi bersama kita, inilah iman kepada yang ghaib, musalamah sudah mati tapi polanya masih, orang yang pandai berbicara mengaku bahwa membawa kebenaran baru menyerang Quran dan sunah menggunakan bahasa yang indah untuk menipu, sejarah berulang," jelasnya. 

"Pertanyaannya kita berada di barisan siapa, barisan para penghafal Al-Quran yang menghiasi iman dengan amal atau barisan yang tertipu oleh kata-kata indah," sambungnya. 

Musailamah mati di Kebun tetapi namanya hidup sebagai pendusta, para sahabat mati di Yamamah tetapi namanya hidup sebagai syuhada karena kebenaran tidak ditentukan oleh jumlah pengikut, tetapi wahyu dan kemenangan selalu milik orang yang bertakwa.[] Alfia

Opini

×
Berita Terbaru Update